#39 Tanya Jawab pas Misa

Minggu lalu, pas pulang ke Jogja, saya pergi menemani bapak dan ibu ke gereja. Sebenarnya niatnya nggak ke gereja sih, tapi gara-gara ditanyain dan disuruh ke gereja ya akhirnya berangkat ke gereja. Nggak ada yang terlalu istimewa karena posisi parkirnya ya masih di situ-situ, ngambil tempat duduknya juga masih di tempat yang sama, pokoknya agak nggak bersemangat karena ngantuk. 

Nah, karena saya jarang ndengerin khotbah, kemarin itu saya coba untuk mendengarkan khotbah. Eh kebetulan, khotbahnya membingungkan. Agak kontradiksi antara satu penjelasan yang satu dengan yang lainnya. Yo sekarang juga udah lupa sih isi khotbahnya apa.

Tapi gara-gara kejadian itu, terus jadi kepikiran. Ini kenapa kalau khotbah di gereja katholik nggak pernah ada sesi tanya jawab ya? Misalnya jatahnya khotbah 20 menit, terus ada waktu 5 menit untuk sesi pertanyaan dari umat. Yang kaya gini kan malah bisa langsung membantu si umat untuk mengatasi rasa penasarannya. Sekaligus, kalau jawabannya dirasa memuaskan, malah bisa semakin menambah rasa keimanan pada Yesus juga to? Atau bisa juga sebaliknya ding, kalau jawabannya nggak memuaskan ya berarti umat itu akan semakin skeptis terhadap apa yang dia percayai selama ini. 

Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang menyangkut kehidupan keseharian bisa jadi membutuhkan jawaban yang lugas dan tepat sasaran. Spektrum pertanyaan bisa bermula dari semacam, kenapa kok saya sudah rajin ke gereja tapi hidupnya apes terus sampai yang agak pilosopis semacam, kenapa kok banyak orang yang rajin ke gereja tapi kerjaannya korupsi. Yang gini-gini kan membutuhkan jawaban yang mudah dipahami dari si pastor-nya. 

Seharusnya gereja Katholik ki menyediakan ruang dialog semacam ini di perayaan ekaristi-nya. Ya kan nggak semua umat Katholik ki pinter-pinter dan bisa memahami Alkitab ataupun punya kemampuan untuk mengimplementasikan ayat-ayat yang ada di sana dalam hidup sehari-hari secara otomatis, sepulang dia menghadiri perayaan ekaristi. Ya, nek umat e kaya saya yang susah paham terhadap hal-hal kaya gini, apa ya nggak makin ndlosor le dadi wong Katholik?

Kalau tak pikir-pikir, ada tantangan besar yang membuat umat Katholik mau dengan sukarela datang ke gereja. Mungkin kalau ditanya, kenapa tiap minggu harus datang ke gereja, rentang jawabannya bisa mulai dari “udah kebiasaan, takut kualat” sampai alasan-alasan yang sangat substansial. Itu baru pertanyaan yang gampang. Kalau ditanya lebih lanjut, kenapa kok milih jadi orang Katholik, mungkin rentang jawabannya bisa lebih luas lagi. Ada yang menjawab karena pilihan orangtua, tertarik dengan ajarannya, bahkan saya percaya bakal ada yang njawab karena Yesus tu kaya rockstar, rambut e gondrong. Yo mesti ya ada yang kaya gitu. 

Lha yang kaya-kaya gini kan menarik untuk diangkat ke dalam perayaan Ekaristi. Saya tu menganggap kalau memberi khotbah tu kaya ngasih kuliah je. Materi pelajarannya tentu akan lebih masuk ke pikiran kalau ada proses diskusi di sana. Kalau nggak ada proses berpikir kritis yang menimbulkan pertanyaan, ya bisa berarti umatnya udah ngerti semua penjelasan si romo-nya atau malah sebodo amat soal si romonya mau ngomong apa. Yang penting si umat itu udah menjalankan kewajibannya untuk pergi ke gereja. 

Saya kadang sedih, mosok yo aku dadi umat Katholik mung ngene-ngene wae sih. Stagnan nggak ada kemajuannya sama sekali. Kalau di twitter ada akun @NUgarislucu yang isinya twit-twit lucu tentang ajaran Gus Dur, saya tu berharap ada akun @Katholikgarisngguyu, kan asik gitu lho. 

#38 Detasemen Anti-Teror Pelajaran Fisika

Image result for physics is fun

Kebetulan saya di sini bertetangga dengan dosen Fisika dari salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Gara-gara beberapa hari lagi dia bakal balik ke Indonesia, kami pun ngobrol tentang apa yang mau dia lakukan sepulang dari Jepang.  Ternyata, dia punya visi yang keren tentang bagaimana seharusnya orang belajar Fisika dan efek yang bisa ditimbulkan ketika banyak orang mulai memahami/menerapkan Fisika dan atau Matematika untuk kehidupannya sehari-hari.

Ketika mendengar kata Fisika pertama kali, jelas yang ada di benak orang-orang adalah monster yang amat susah untuk ditaklukkan. Itu adalah citra yang dipahami oleh masyarakat umum Indonesia (dan mungkin di negara lain juga). Saya masih ingat pas SMA kelas 2 hampir nggak naik kelas gara-gara nggak bisa sama sekali ngerjain soal-soal Fisika waktu ujian semester. Udah pasrah gara-gara cuma bisa nulis “diketahui” di lembar soal essay. Cuma dikasih upah nilai 5 dari total 32. Hahaha. Edan. Kondisi yang sama berulang waktu mau Ujian Akhir Sekolah di kelas 3. Saking depresinya nggak paham-paham tentang Fisika, malam sebelum ujian, saya dan temen-temen sudah memasrahkan nasib dan kumpul-kumpul bertajuk “belajar bareng” itu hanya diakhiri dengan menyalakan lilin dan berdoa bersama. Saking sudah terlalu putus asa.

Mendengar pengalaman itu, dia pun berkata, “Kamu tau nggak kenapa banyak orang yang benci banget sama Fisika. Ya, itu gara-gara guru-guru Fisika di sekolah nggak bisa memberikan penjelasan dan pemahaman yang baik tentang Fisika. Kebanyakan dari mereka hanya berfokus pada hapalan rumus-rumus tanpa pernah menanamkan konsep cara berpikir tentang Fisika itu sendiri. Ditambah lagi, kalau udah kelas 3, mereka bakal masuk ke bimbingan belajar terus disana bakal dicekoki dengan rumus-rumus cepat. Semakin jauhlah mereka dari pemahaman yang komprehensif tentang bagaimana menghadapi Fisika.”

“Padahal, kalau mau diajarin dengan cara yang benar. Fisika itu sebenarnya sangat menyenangkan dan applicable dalam kehidupan sehari-hari lho. Saya nyoba ngebandingin teman-teman yang paham Fisika dan nggak paham Fisika. Saya ngeliat kalau mereka yang paham Fisika lebih punya daya analisis yang tajam dibanding mereka yang nggak paham. Kalau nggak paham Fisika, biasanya lebih lambat untuk menganalisis sesuatu dan jatuhnya sering ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Selain, kalau kita paham Fisika, cara pikir kita akan logis, terstruktur dan sistematis juga. Memang nggak bisa digeneralisir sih, tapi paling enggak, bisa sampai tahap kaya gitu lho, Fisika mempengaruhi cara pikir seseorang.”  

“Makanya, gara-gara hal-hal itulah terus saya mikir bahwa harus ada seseorang yang mampu mematahkan mitos tentang Fisika yang horor. Kalau nggak ada yang mau turun tangan memperbaiki kondisinya ya akan susah bagi Indonesia untuk bisa bersaing dalam hal teknologi dan sains.” imbuhnya.

“Kalau udah ngeliat kaya gitu, berarti apa yang bakal dilakuin sepulang ke Indonesia?” tanyaku.  

 “Rencananya sih, sepulang dari sini, saya mau bikin semacam les-lesan gratis untuk pelajar-pelajar yang berminat untuk belajar Fisika. Saya sih pingin mengenalkan bahwa Fisika itu juga bisa jadi cabang ilmu yang layak untuk dicintai dan dipelajari. Awalnya sih targetnya nggak muluk-muluk, mungkin bisa dimulai dengan jumlah murid yang sedikit. Tapi nanti kalau semisal rencana ini bisa berjalan dengan lancar dan peserta semakin banyak, toh ane punya sumber daya mahasiswa Fisika yang bisa dimintain tolong untuk ngajar adik-adiknya yang masih SMA atau SMP. Kan lumayan bagi mereka, dengan ngajar, ilmu yang didapat di kuliah juga bisa berguna untuk orang lain, sekaligus memberikan pemahaman yang lebih untuk si mahasiswa itu sendiri. Mengajar orang lain adalah cara paling baik untuk memahami sebuah topik tertentu. “ begitu katanya.

“Wedan..hebat banget tuh kayanya, kalau semisal ente bisa membuat murid-murid di kotamu jadi jatuh cinta sama Fisika. Bisa jadi berita nasional tuh…hahaha…” kataku.

“Ya, itu mah keinginan jangka panjangnya sih. Sebenarnya motivasinya sih sederhana banget. Saya itu berasal dari keluarga yang biasa-biasa aja. Dulu, saya sama sekali nggak bisa ikut bimbingan belajar waktu mau ujian nasional, gara-gara nggak punya uang. Akhirnya ya udah, buku-buku temen-temen yang belajar di bimbel, saya fotokopi aja semua, terus belajar dari situ. Eh, kok ya dapet rejeki masuk ke jurusan Fisika terus sekarang bisa jadi dosen.

Saya sih cuma ngerasa kalau pendidikan tu sekarang mahal banget. Kondisi inilah yang membuat gap-nya semakin besar. Kalau mereka-mereka yang kaya mah enak karena punya uang buat masuk ke sekolah yang bagus, dapet guru-guru terbaik ditambah fasilitas yang mumpuni. Lah, anak-anak yang nggak punya uang terus gimana nasibnya? Ya, nggak bisa bersaing dengan mereka-mereka yang punya sumber daya lebih lah. Walaupun, nggak selamanya uang itu jadi faktor penentu. Tapi, menurut pengalamanku, lumayan berpengaruhlah terhadap akses terhadap pendidikan.” kata dia panjang lebar.

“Saya sih cuma kepingin ngeliat orang lain juga pinter gitu lho Pink. Ada kesenangan tersendiri yang nggak bisa diukur dengan uang kalau bisa ngajarin anak yang dulu nggak bisa itung-itungan, terus malah bisa masuk ke SMA favorit. Kepuasannya nggak terbayangkanlah. Lagian, di Pembukaan UUD 1945 juga ada kata-kata “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” kan, ya inilah wujud konkrit yang mau saya lakukan. Saya itu udah dapet kesempatan untuk bisa sekolah sampai S3 plus udah dapat rejeki jadi abdi negara, tapi masak nggak ada timbal balik yang tak berikan ke society sih. Kalau mau peka, ya masih banyak banget yang membutuhkan bantuan untuk mengakses pendidikan-pendidikan dasar. Masak ya cuma mau hidup sampai umur 80 tahun kaya orang-orang kebanyakan tanpa ninggalin apapun ke sesama sih. Males juga kalau kaya gitu. Padahal, mendidik orang lain adalah kewajiban dari mereka-mereka yang terdidik. Nggak malah, kepinterannya cuma buat dirinya sendiri. Yah..gitu lah, saya tu sadar kalau mau ngejar Nobel kaya Einsten ya nggak bakal mungkin kayanya. Atau kalau mau jadi milyuner kaya Bill Gates juga nggak bakal kesampaean. Jadi ya..gini-gini ajalah, nggak usah yang muluk-muluk…hehe…semoga aja bisa dieksekusi…” pungkas dia.

Tiba-tiba terdengar suara dari dalem, “Pak’e, udah jam setengah 2 pagi lho…”

 “Waduhhhh…besok harus masukkkkk…bubar-bubar…”

  

 

#37 Kerennya Lagu-lagu Ghibli

GhibliAkhir-akhir saya baru seneng ndengerin konser untuk memperingati 25 tahun berdirinya Studio Ghibli. Konser yang melibatkan banyak sekali musikus dan juga choir, baik anak maupun dewasa, ini sih udah dilangsungkan tahun 2010 di Nippon Budokan (bukan Budokai ya..kalau itu mah tempat martial arts di Dragon Ball, haha). Film pertama Ghibli adalah Castle in the Sky yang dikeluarkan tahun 1986, film kedua yang muncul adalah Grave of Fireflies tahun 1988 dan diikuti oleh Tonari no Totoro (My Neighbor Totoro) pada tahun yang sama. Salah satu mastermind dari scoring film-film Ghibli adalah Joe Hisaishi. Orang ini mungkin “Hans Zimmer”-nya Jepang kalau bisa saya bilang. Seorang komposer yang mampu membuat pendengarnya merasakan tiap-tiap nada yang dihasilkan dan membawa imajinasi mereka entah melanglang buana kemana. Dia membuat komposisi ost Ghibli sejak pertama kali berdiri, walaupun ada kontribusi dari komposer lainnya juga. Kalau kita ngedengerin konser ini pakai earphone atau headset, suasana magisnya kerasa banget. Kadang-kadang kita bisa senyum-senyum sendiri saking senengnya ataupun malah terharu gara-gara notasinya yang sendu. 

Saking terkenalnya, mungkin hampir semua anak-anak Jepang tumbuh dengan soundtrack dari film-film ini deh. Terbukti, kemarin pas si Otong berenang, pelatih renangnya selalu menyanyikan salah satu OST dari Tonari no Tottoro yaitu Arukou. Saya terus mikir, gila lho, ini film udah berumur 29 tahun semenjak dirilis pertama kali (bahkan lebih tua dari saya sebulan) dan masih juga jadi lagu favorit yang selalu diajarkan ke anak-anak di sini. Saya membayangkan bahwa mungkin di keluarga Jepang, mereka selalu rutin memainkan lagu-lagu dengan komposisi ciamik ini. Serasa mengenalkan musik klasik ala Mozart atau Bethoven tapi dengan kemasan yang mudah dipahami oleh anak-anak.   Sebenarnya nggak cuma lagu anak-anak dari studio Ghibli aja yang terkenal. Lagu-lagu dari Anpanman atau lagu anime lain juga nggak kalah bagus sih dan rutin dinyanyikan oleh anak-anak.

Di Indonesia, saya masih ingat dan hapal lagu-lagu yang sering dinyanyikan oleh para penyanyi cilik jaman dulu seperti Joshua, Tasya, Geovanni, Trio Kwek-kwek dan sederet penyanyi lainnya. Nggak bakal lupa kayanya sampai saya mati mah. Saya mikir, berarti influence lagu anak tuh sebenarnya besar banget dalam perkembangan bocah-bocah itu nanti ya. Lagu-lagu itu akan secara bawah sadar mengendap dalam memori-memori mereka. Sungguh sangat menyenangkan bila anak-anak bisa tumbuh dengan mendengarkan komposisi lagu-lagu yang indah, grande, dan lirik-lirik sederhana yang bisa mereka cerna sendiri dalam bahasa Indonesia. Betapa kita bisa dengan sangat mudah menanamkan hal-hal yang baik sedari kecil lewat lagu-lagu tersebut.

Agak khawatir juga sekarang ini karena nggak ada stock lagu-lagu anak asli Indonesia yang baru, kebanyakan adalah lagu-lagu lama yang dirilis oleh begawan-begawan lagu anak semacam Pak Kasur, Ibu Kasur, Pak AT Mahmud atau Papa T.Bob. Setau dan seinget saya, lagu anak-anak yang terakhir kali dirilis adalah “Jangan Takut Akan Gelap” yang dinyanyikan Sheila on 7 dan Tasya. Itupun sudah berumur 10 tahun yang lalu. Kayanya praktis nggak ada lagu-lagu anak setelah era itu deh atau saya aja yang kudet. Padahal, kalau mau dibikin industri, pasar lagu anak-anak pasti akan besar banget peminatnya, mengingat nggak ada pelaku yang mau berkiprah di kancah ini.

Medianya sebenarnya nggak usah melulu lewat tv nasional. Cukup upload video di youtube juga kayanya sekarang banyak yang nonton. Yang penting adalah ada pencipta lagunya dan ada yang mau nyanyiin. Lumayan lho, anaknya bisa jadi artis terkenal kalau emang punya suara dan lagunya juga bagus. Bisa jadi legenda kaya Sherina atau Joshua pula, kalau semisal banyak yang ndengerin. Kurang keren apalagi coba. Plus menyebarkan inspirasi kebaikan buat semua orang. Nah lho, kan pahalanya bisa berlebih-lebih to kalau kaya gitu urusannya.

Hah, tapi kayanya susah sih buat mengharapkan adanya lagu-lagu anak sekeren jaman dulu gitu. Sekarang mah yang penting anaknya dicecoki sama ortunya lagu-lagu dewasa. Lah ya gimana lagi, kalau ortunya nggak mampu mengakses internet yang layak dan nggak bisa nonton Youtube, ya konsumsi hiburan satu-satunya kan cuma dari tv. Sedangkan, lagu anak-anak di tv udah jarang lagi yang nongol secara rutin. Dulu masih ada Ci Luk Ba atau Tralala Trililili. Tapi, sekarang kan punah sama sekali, entah nggak tau dimana.

Jadi ya jangan heran sampai pada saatnya nanti, kalau bocah-bocah udah gedhe, yang diingat sebagai lagu kenangan dan jadi soundtrack masa kecilnya mereka adalah lagu Sambalado-nya Ayu Ting Ting. Wadaw.

Konser 25 Tahun Studio Ghibli.

 

Lagu Paporit, Ashitaka and san.

 

Wawancara Adriano Qalbi dan Joshua tentang artis-artis cilik.

#36 Buang Sampah (Tidak) pada Tempatnya

Beberapa waktu yang lalu ada kejadian yang cukup menyebalkan. Jadi ceritanya, salah seorang tetangga sudah menyelesaikan studinya dan akan pulang ke negaranya yang merupakan salah satu dari negara Dunia Ketiga (tp bukan Indonesia sih). Layaknya seseorang yang sudah mau pulang, maka dia pun membuang barang-barang yang sudah tidak dipakai seperti peralatan dapur, kasur, rice cooker, dan berbagai macam barang lainnya.

Nah, masalahnya, entah motivasi apa yang mendasari, mungkin karena banyak urusan atau ribet-ribet yang lainnya. Dia membuang semua barang (gelas, panci, wajan, rice cooker, kasur, dan berbagai macam barang lainnya) ke dalam plastik yang didesain untuk sampah burnable. Yang mana ini adalah kesalahan yang sangat fatal. Ya tentu saja, karena cara membuang sampahnya nggak bener, sama petugas sampahnya juga nggak diangkut. Cuma dibiarkan saja teronggok di sana dan kena hujan. Akhirnya, pemilik kontrakan yang super baik hati lah yang mengelompokkan sampah tersebut. Heran banget, kayanya ya udah sekolah jauh-jauh, tapi kok ya masalah beginian aja nggak bisa dilakukan dengan benar lho.  

Padahal di kota ini, ada peraturan tertulis tentang kapan, barang apa, dan bagaimana  cara membuang barang. Misalnya, sampah rumah tangga yang bisa dibakar (burnable) seperti bungkus makanan, kertas, popok bayi, dan sebagainya harus dimasukkan ke dalam plastik bertuliskan burnable (beli atau bisa dikasih sama pemerintah kota) yang bakal diambil seminggu dua kali. Sedangkan, sampah unburnable semisal panci, gelas, wajan, harus dimasukkan ke dalam plastik  bertuliskan unburnable yang bisa dibeli di supermarket atau toko obat, harganya sih 770 yen untuk plastik 30 liter (5 buah). Untuk barang-barang lainnya, seperti botol plastik PET, harus dicopot tutup dan plastik merknya baru bisa dibuang sendiri, juga untuk botol-botol kaca bekas minuman beralkohol dan kaleng minuman juga harus dipisahkan dan dikumpulkan tersendiri.

Buang sampah di negara ini adalah urusan yang lumayan susah. Di tempat umum, bahkan di tempat-tempat yang ramai sekalipun, sangat jarang dijumpai tempat sampah. Malah kita bakal lebih gampang menemukan vending machine dibandingkan menemukan tempat sampah. Alhasil, sampah yang dihasilkan di jalan ya harus dibawa pulang. Nggak cuman sampah yang dihasilkan manusia, pemilik anjing atau kucing juga nggak bisa membiarkan anjing mereka eek atau pipis sembarangan. Bila peliharaan mereka buang hajat di taman, mereka bakal mengambil eek tsb lalu dimasukkan ke plastik atau mengguyur pipis dengan air yang mereka bawa sendiri dari rumah. Makanya, anak-anak di sini juga nggak masalah main-main pasir di taman. Soalnya, tamannya bebas dari eek anjing atau kucing. Jadinya, nggak rentan untuk menyebarkan penyakit. Hebat juga sih kalau yang udah sampai tahap ini mah.

Mungkin kebiasaan buang sampah belum menjadi hal yang dipahami oleh masyarakat negara dunia ketiga kali ya. Padahal, urusan buang sampah di negara-negara tersebut, termasuk juga di Indonesia, bisa jadi lebih simple dibandingkan dengan di negara-negara maju. Hal ini karena pemerintah nggak mewajibkan untuk memilah-milah sampah. Jadi ya, asal sampahnya masuk ke tong sampah aja udah cukup. Nggak buang sampah di sungai, selokan, atau di sembarang tempat dianggap sudah lumayan membantu pengelolaan sampah. Lah, se-simple itu aja, kayanya banyak juga yang nggak bisa menerapkannya kok. Apalagi harus pakai acara milah-milah sampah dan dibuang sesuai harinya. Bikin hidup tambah ribet aja, mbok yang gampang-gampang aja to, begitu mungkin yang ada di pikiran.

Saya jadi ingat salah satu video yang menginterview orang asli Jepang, si eyang ini berkata, salah satu yang dia nggak suka dari orang asing adalah gara-gara mereka nggak bisa buang sampah secara benar. Kata beliau, banyak dari mereka yang sering salah mengklasifikasikan jenis sampah dan bagaimana cara membuangnya.

Nah, bisa dilihat, bahwa masalah buang sampah ini adalah salah satu hal yang seharusnya dipahami dengan baik oleh orang-orang yang mau tinggal di sini. Ternyata, bagi beberapa orang, hal-hal kaya gini cukup sensitif. Apalagi kita biasanya bertetangga langsung dengan orang-orang Jepang. Mesti akan ada sentimen negatif bila kita tertangkap mata nggak bisa buang sampah dengan benar. Jangan sampai mereka yang sudah secara baik menerima kita sebagai orang asing yang tinggal di negara mereka. Malah jadi punya image yang buruk gara-gara masalah-masalah kaya gini. Apa ya nggak malu po kalau negara kita dicap sebagai negara yang primitif gara-gara sering buang sampah sembarangan. Hhhhhhhhhhhhhhhhh.

Untuk info lengkap tentang persampahan di kota Minoo bisa dilihat di tautan berikut:

https://www.city.minoh.lg.jp/jinken/kokusai/guidebook/garbage.html

#35 Cara Naik Bis dng “Gratis” di Jepang

Beberapa waktu lalu, kami pergi ke Umeda. Karena waktu udah larut malam, maka kami pun memutuskan untuk naik bis menuju ke rumah. Di dalam bis, saya pun bilang ke Nesya “Eh, aku nggak punya uang kecil sama sekali lho di dompet, kamu punya nggak?” Dia pun membalas, “Coba deh cari di dompetku, kayanya masih ada…” Akhirnya, saya pun ngubek-ubek dompetnya dia, ternyata dia sama sekali nggak punya uang kecil. Cuma ada selembar 10.000 Yen yang tersisa. Saya pun ingat kalau semua uang kecil sudah dihabiskan untuk membeli tiket kereta.

Waduh, gimana ya? Padahal halte tujuan sudah tinggal sebentar lagi. Dalam kebingungan, saya pun berusaha untuk menukarkan uang pada penumpang lain, tapi usaha itu nggak membuahkan hasil. Mereka malah menyarankan untuk bilang aja ke pak sopirnya kalau nggak punya uang kecil. “Lah, gimana sih, kok malah harus bilang ke sopirnya, aneh banget”, kataku dalam hati. Akhirnya, karena sudah sampai di halte tujuan. Saya pun terpaksa harus bilang ke sopirnya kalau saya Cuma punya uang 10.000 Yen.

Saya awalnya mengira kalau dia pasti bawa beberapa uang kecil yang bisa dipakai buat menukar. Biasanya di Indonesia juga gitu kan? Kalau uangnya gedhe banget ya pasti si pak sopirnya pasti menyiapkan kembalian buat penumpang. Tapi, saya sadar bahwa di sini, semua pembayaran dilakukan lewat mesin. Kita bayar pakai uang pas dan biasanya receh karena Cuma berkisar 220-400 yen tergantung jarak. Kalau semisal kita nggak punya receh pun, kita harus masukin uang maksimal 1000 yen ke mesin di samping sopir dan mereka akan memecah uang tersebut dalam beberapa nominal yang lebih.

Nah, tapi kondisi ini adalah kejadian pertama kali yang kami alami. Nggak pernah ada pengalaman sebelumnya. Akhirnya, setelah saya bilang ke pak sopirnya, dia pun dengan entengnya bilang, “Ya udah nggak papa, besok lagi kalau naik bis, kamu bayar buat dua kali ya…” Gile. Saya pun melongo keheranan gara-gara ucapan si bapak sopir itu.

Spontan saya bilang sama Nesya, “Wah..ini kalau nggak punya duit, bisa dipakai buat naik bis gratis nih ya berarti. Bisa disebarkan ilmunya ke semua orang nih, hahaha.” Dia pun menjawab, “Iya juga ya..aku juga heran kok dia bisa percaya-percaya aja sama penumpang yang nggak dia kenal, orang asing pula..kayanya aku sangsi kalau ucapan kaya gitu bisa dengan mudah diucapkan sama sopir-sopir di Indonesia…Yang ada malah dimarah-marahin gara-gara nggak nyiapin duit kecil…”

Kami pun turun dari bis dan mulai jalan menuju rumah. Saya yang masih larut dalam kegembiraan karena mendapatkan tips untuk naik bis gratis pun mikir. Lalu, saya bilang ke Nesya, “Eh, kayanya ada yang salah deh sama ucapanku tadi.” “Kenapa emang?,” balasnya. “Ya menurutku agak aneh aja pemikiran yang kaya tadi. Soalnya ya masak kita mau menukarkan integritas kita hanya demi duit 220 yen sih? Padahal si Pak Sopirnya udah berbaik hati memberikan kepercayaan penuh terhadap kejujuran kita. Masak yang kaya gitu mau dengan gampang dikhianati sih? Lagian, selalu ada balasan untuk setiap perbuatan jelek kan? Ya bisa aja kita nggak bayar 220 yen sekarang, tapi mungkin di lain waktu kita harus membayar kecurangan itu dengan uang yang jauh lebih besar. Nggak mau lho aku kalau harus kaya gitu.”

“Iya juga sih Pink, kenapa ya mereka kok bisa terbangun budaya kaya gitu ya? Heran banget lho aku.”

“Ho..nggak tau ya kenapa. Tapi (mungkin) kultur itu akan sulit berlaku sih kalo di Indonesia. Ya aku nggak bilang kalau semua orang nggak jujur sih, tapi kayanya kita tu seneng kalau bisa ngakalin sesuatu gitu. Iya nggak sih? Hahaha..” kataku.

“Emang bener sih, ga tau, mungkin ada hubungannya sama banyak orang yang masih merasa “tidak sejahtera” kali yak, jadi urusan-urusan value penting kaya gini jadi nggak tersadari sebagai sesuatu yang harusnya tiap orang hidupi sih. Kalau di sini kan masyarakatnya relatif udah sejahtera, at least kebutuhan pokoknya terpenuhi. Kalau mereka bisa makan, minum, dan punya rumah yang layak, ya nilai-nilai kaya gini gampang aja diterapkan dalam kehidupan mereka.”

Ane pun menimpali, “Ah masak gitu sih? Ya mungkin itu bisa menjelaskan sebagian. Tapi, sudut pandang makmur dulu sebelum beradab itu bakal langsung patah kalau kamu liat banyak banget pejabat yang jadi maling lho. Seenak-enaknya aja nyuri duit dalam jumlah banyak. Emang mereka nggak makmur po? Emang mereka nggak bisa makan po? Nggak cukup minum? Nggak tinggal di rumah mewah dengan segala fasilitas yang nggak pernah bisa kita bayangin? Mereka dalam kondisi lebih dari makmur. Tapi dengan hidup yang kaya gitu aja mereka masih serakah untuk nguasain dan ngemalingin duit yang seharusnya bukan jadi haknya.”

“Ya aku nggak ngerti faktor apa yang lebih rentan bagi seseorang untuk mengkhianati integritasnya, apakah kondisi pra-sejahtera atau orang serakah yang pingin lebih kaya. Tapi analoginya mungkin gini, semisal kamu kerja di perusahaan tertentu,  terus kamu disuruh berbuat curang sama bosmu. Malsuin laporan keuangan, cotohnnya. Kalau kamu nggak ngelakuin, kamu bisa terancam dipecat. Sedangkan, masih ada 2 anak dan 1 istri yang harus kamu kasih makan. Kalau dipecat terus nasib mereka gimana dong? Kalau nggak bisa makan gimana? Siapa yang harus menanggung semua biaya hidupnya mereka. Kalau udah dihadapkan dalam situasi kaya gitu, apalagi kita nggak punya safety net yang cukup memadai. Aku kok mikir bahwa orang bakal rela-rela aja ngelakuin kecurangan-kecurangan semacam itu ya?”

“Hmmmm….bisa jadi sih. Tapi, kamu sadar nggak, efek destruksi yang dihasilkan dari pejabat-pejabat yang jadi maling itu sangat jauh lebih besar dibandingkan kecurangan-kecurangan kecil yang mungkin dilakukan oleh orang dalam contohmu tadi. Jadi, ya walaupun dua-duanya punya porsi kesalahan karena berbuat tidak jujur. Kamu mungkin masih lebih “dimaafkan” kalau kamu melakukan sesuatu itu demi kelangsungan hidup anak istrimu, dibandingkan dengan ketidakjujuran yang berakhir pada kesenangan dan kebanggaan diri sendiri atau demi kelanggengan jabatan. Ya mungkin gitu…ah susah ah…males mikirnya…” imbuhku.

“Eh tapi ngomong-ngomong soal anak. Hagia mana ya? Bukannya tadi sama kamu, Pink?”

“Lho…tadi bukannya kamu yang ndorong strollernya? Jangan-jangan ketinggalan di halte?”

“Wooooooo……………@#$$%$#@#$$#$%.”

#34 Sosialisme dalam Sepakbola

  “Congratulations to Rayo Vallecano for Spanish League Championship 2029-2030!”

Itulah spanduk yang mungkin terpampang di ruang ganti para pemain Rayo Vallecano. Sebuah klub yang bermarkas di Madrid tapi bernasib sangat jauh berbeda dari dua raksasa dari Madrid lainnya, Real Madrid dan Atletico Madrid. Bagi sebagian orang, ungkapan itu hanyalah menjadi sebuah khayalan kosong yang tidak akan pernah bisa terwujud. Skeptisme yang bagi saya sangat beralasan, mengingat hampir semua sumber daya (uang.red) seperti dimonopoli oleh dua klub teratas negara itu, Real Madrid dan Barcelona. Sedangkan, klub-klub miskin macam mereka hanyalah menjadi pelengkap bagi sebuah liga. Kasian sekali.

Inilah yang membuat Liga Spanyol tidak menarik lagi. Dominasi yang tak kunjung bisa terpatahkan hanya menuai kebosanan bagi para penggemarnya. Bahkan saya sangsi ada penggemar klub-klub gurem macam Rayo Vallecano selain mereka yang berada satu kota dengannya. Inilah yang terjadi bila persebaran uang tidak merata dalam satu liga tertentu. Mereka yang kaya tentu akan lebih punya daya dan upaya untuk bersaing di level juara, dibandingkan dengan mereka yang seret secara keuangan. Kalau kita secara random mencari di Google tentang revenue klub-klub Liga Spanyol sebelum tahun 2016-2017 (*tahun ini mereka mengubah model distribusi hak siar TV), kita bisa lihat bahwa pendapatan paling besar diperoleh oleh Madrid dan Barcelona dengan revenue sekitar 140 juta Euro. Sedangkan, klub-klub semenjana macam Rayo Vallecano hanya mendapatkan 18 juta Euro! Hampir 8x lebih rendah. Situasi yang sama juga terjadi di Liga Italia yang didominasi oleh Juventus. Bayangkan, bagaimana klub-klub macam itu bisa memberikan perlawanan yang mumpuni untuk klub-klub langganan papan atas. Yang ada mereka biasanya cuma jadi bulan-bulanan para penyerang kelas wahid. Nggak adil banget emang.

Munculnya Chelsea dan Manchester City sebagai kekuatan baru sepakbola Inggris adalah contoh gamblang bagaimana kekuatan uang bekerja. Sebelum mereka diakusisi oleh Abramovic dan Syekh Mansour, siapa yang kenal sama klub nggak ada sejarahnya macam mereka? Nggak ada kan. Begitu dibeli sama orang-orang super kaya itu, baru mereka bisa mencuri dan mengumpulkan pemain-pemain terbaik dan akhirnya bisa menjadi kampiun liga tersebut.

Tapi, di balik invasi para milyuner itu, Liga Inggris bisa menjelma sebagai salah liga yang paling menarik di dunia.Tidak ada liga sepakbola lain di dunia yang seketat Liga Inggris. Sebuah liga dimana klub yang berada dalam jurang degradasi saja bisa mengalahkan klub-klub papan atas. Bahkan, kalau nggak salah, satu atau dua tahun lalu, ada masanya dimana klub-klub Liga Inggris bisa. Contoh mutakhir musim lalu adalah Arsenal yang harus takluk 1-2 lawan Watford yang pada akhir musim hanya menempati posisi 17. Selain gara-gara Arsenal yang emang katrok, saya kira kondisi tersebut sangat jarang terjadi di liga-liga lainnya.

Salah satu kunci dari kompetitifnya Liga Inggris adalah persebaran hak siar TV yang tidak begitu jauh antar klub-klub papan atas dan papan bawah. Sebagai contoh, tahun 2013-2014, Liverpool, yang entah tahun berapa terakhir kali menang liga, memperoleh pendapatan yang paling tinggi (117 juta euro), sedangkan Cardiff dengan revenue paling kecil saja bisa mendapatkan 74 juta euro. Ini hampir 4x lipat lebih besar dari revenue paling kecil di Liga Spanyol dan Liga Italia. Hak siar TV bisa menjadi salah satu pendapatan paling vital dari sebuah klub sepakbola. Cardiff menggantungkan 81% finansial klubnya dari hak siar TV, dibandingkan dengan Arsenal yang hanya mengambil 31% proporsi dari uang ini. Bisa dilihat dengan jelas linearitas antara persebaran kemakmuran dengan tingkat kompetisi sebuah liga di Eropa kan?

Saya nggak habis pikir, Amerika aja yang dikenal sebagai negara paling kapitalis, bisa menerapkan prinsip sosialisme dalam liga-liga olahraga mereka. Contoh paling gampang adalah Golden State Warriors yang menjadi juara 2x dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Tahun 2012, siapa sih yang bakal menyangka bahwa GSW bisa hampir triplet juara dalam kurun waktu hanya 2 tahun? Nggak ada yang kenal Steph Curry, Klay Thompson, Draymond Green. Periode pergantian juara yang sangat singkat menandakan bahwa liga tersebut adalah liga yang sehat. Setiap klub betapapun guremnya mereka saat ini, diberi kesempatan yang sama untuk bisa rebuilding team dan menjadi kompetitif di masa depan (seperti yang dialami Bucks, Wolves, atau 76ers untuk masa sekarang). Sebuah sistem yang tidak akan pernah disetujui oleh klub-klub langganan juara di Eropa.

Selain itu, adanya salary cap membuat arena tanding menjadi seimbang. Klub-klub tidak bisa memberikan gaji jor-joran yang bertujuan untuk menarik minat pemain-pemain terbaik untuk bergabung dengan klub mereka. Ya, walaupun sejak tahun 2009, UEFA udah menerapkan Financial Fair Play (FFP), tapi kayanya itu nggak cukup ampuh untuk meratakan arena tanding. Jadinya ya, kita nggak bakal tahu kapan kompetisi sepakbola di Eropa bisa berlangsung dengan kompetitif.Ah, andai aja ada salary cap di Liga Inggris, mungkin si Theo Walcott yang nggak ngasih kontribusi apa-apa udah ditendang dari Arsenal sejak kapan tahun.

Inilah salah satu alasan saya mendukung Arsenal. Arsene Wenger betapapun kolotnya dia dalam hal taktik dan strategi permainan. Perlu diakui bahwa dia menjalankan manajemen Arsenal dengan cara yang sangat sosialis. Dia tidak terbuai dengan gemerlapnya kapitalisme dengan gelontoran uang untuk membeli seorang pemain. Walaupun, kadang-kadang (sering sih sebenernya), prinsipnya ini sangat menjengkelkan karena secara tidak langsung berdampak pada performa tim yang super angin-anginan. 

Memang perlu diakui bahwa kekuatan modal telah mencerabut esensi kompetisi dari sepakbola itu sendiri. Olahraga yang sejatinya hanya urusan teknik dan strategi di lapangan harus tercampuri oleh faktor-faktor non-teknis yang kadang malah jadi penentu sebuah pertandingan. Kalau udah tercampur dengan pride dan bisnis, olahraga itu tidak lagi fair secara competitiveness. Lari, badminton atau olahraga-olahraga individual masih bisa kita bilang fair karena itu benar-benar mengandalkan kompetisi antar manusia.  

Jadi benarlah apa yang dikatakan oleh Platini bahwa sepakbola harus kembali ke akar yang sesungguhnya, yaitu adu kompetisi di atas lapangan, bukan lebih ke arah adu kompetisi finansial. Kalau terus berlarut dalam dominasi kapital para klub-klub dengan gelimang harta, mungkin bagi klub-klub kismin macam Rayo Vallecano, menjadi juara liga hanyalah utopia mewah yang hanya bisa dinikmati lewat layar game saja.  

Sumber:

  1. http://www.telegraph.co.uk/sport/football/competitions/premier-league/11604019/Why-TV-cash-is-vital-for-Premier-League-clubs.html
  2. http://www.goal.com/id-ID/news/1108/sepakbola-inggris/2013/06/26/4074948/fan-view-financial-fair-play-sepakbola-ke-arah-sosialisme
  3. http://www.salon.com/2014/12/22/nbas_socialist_revolution_how_a_new_plan_could_radicalize_the_league_and_america/

 

#33 Harga Sebuah Kesetiaan

Akhir-akhir ini, saya sangat sedih. Tolong jangan beranjak dulu. Cerita ini tidak akan berakhir menye-menye seperti remaja galau yang ditinggal oleh pacarnya. Ataupun berkeluh-kesah layaknya seorang wanita muda yang diberi harapan palsu oleh lelaki pujaannya. Bukan. Ini bukan seperti itu. Saya sebenarnya tidak ingin menambah kesedihan di tengah situasi yang semakin carut marut. Tapi, mau tidak mau, ini harus diceritakan.

Baru-baru ini saya harus menerima kenyataan bahwa istri yang sangat saya cintai sedang sakit kronis. Dia yang dulunya berwajah cantik, perlahan-lahan kehilangan semua sinar di wajahnya. Muram dan kusam. Dua kosakata yang akhir-akhir ini lekat sekali dengannya. Entah sudah berapa lama saya menanti untuk istri saya bisa sembuh. Berkali-kali saya diberikan asa akan kesembuhan, yang ternyata hanya omong kosong belaka. Mungkin saya memang harus merelakan dia untuk terus bergelut dengan sakitnya.  Betapapun saya tahu penderitaan yang dia rasakan atas kondisinya.

Mari bercerita sedikit tentang istri saya. Semoga ini menjadi kisah cinta yang menarik.
Saya pertama kali bertemu dengan istri saya sekitar 13 tahun yang lalu. Waktu itu saya sedang bercengkrama sendirian malam-malam di sebuah cafe. Di tengah udara yang dingin, saya melihat seorang wanita muda yang sangat cantik melewati pintu cafe itu. Menyapa barista dengan senyumnya yang hangat, “Mas, kaya biasanya ya…” “Oke mbak, tumben mampir mbak, lama nggak ketemu…” balasnya. Ah, ternyata dia langganan cafe ini. Mukanya sangat sumringah, mungkin saja dia baru saya naik gaji atau habis memenangkan sesuatu. Segala sesuatu tentang dia langsung terpatri di dalam benakku malam itu.

Terus terang,  saya mulai merasa bosan dengan asmara nomaden, gonta-ganti pacar setiap setahun sekali. Tidak juga berhasil memenuhi rongga hati yang masih saja menganga. Mungkin ini malam keberuntunganku. Saya pun memberanikan diri untuk beringsut mendekatinya. Menyapa basa-basi. Dia pun membalas dengan senyumnya yang manis. Ah, mungkin memang ini jodohku. Tidak terasa kami ngobrol sekitar 2 jam lamanya. Semakin saya menyelami kepribadiannya. Semakin saya yakin bahwa ini adalah wanita yang dikirimkan Tuhan untuk mendampingiku.

Tidak butuh waktu lama sejak pertemuan itu. Kami pun menikah. Upacaranya sederhana saja. Hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat terdekat. Rumah tangga kami berlangsung harmonis selama 2 tahun pertama. Sampai pada akhirnya, dia berkata ingin membangun rumah baru untuk kedua orangtuanya. Maklum, rumah yang dia tinggali semenjak kecil sudah tergolong reyot. Singkat cerita, karena sifatnya yang ambisius, dia pun merancang rumah yang sangat mewah untuk orangtuanya. Tentu butuh dana yang tidak sedikit. Dia pun akhirnya berutang pada pihak bank dalam jumlah yang sangat besar.

Pembangunan rumah itu adalah titik balik dari hubungan kami. Ambisinya ternyata tidak cukup mampu untuk mencicil utangnya di bank yang terus membengkak karena bunga. Sedangkan di sisi lain, dia tidak ingin menerima sepeser pun uang dariku. Baginya ini adalah wujud tanda baktinya sebagai seorang anak untuk membahagiakan orang tua. Akhirnya, semua aset-aset yang sejak dulu dia kumpulkan. Dijual demi pembangunan rumah itu. Tidak ada lagi perhiasan-perhiasan berharga yang terpampang di tubuhnya. Tidak ada lagi make-up nomor wahid yang selalu menghiasi wajahnya yang memesona. Semua dia korbankan demi rumah tersebut.

Lambat laun, depresi yang berulang kali menimpa, membawanya pada kondisi psikologis yang teramat parah. Wajahnya sudah tidak secantik dulu. Kemampuannya bersolek tidak lagi menarik perhatian. Dia hanya mampu membeli perhiasan ala kadarnya. Mengais-ngais berharap mendapatkan perhiasan kelas satu di tukang loak. Utopis. Tapi, hanya itu yang bisa dia lakukan. Tutur katanya sudah penuh dengan pesimisme. Olok-olok adalah santapan pahit yang harus dinikmatinya setiap hari. Tidak ada lagi gelora yang muncul dalam setiap tindak tanduknya. Antusiasme dan kegembiraan sudah dia museumkan dalam kabinet kayu yang kotor berdebu. 

Dulu, dia sering ikut arisan ibu-ibu muda kosmopolitan. Tempat dimana dia bisa bersosialiasi dengan wanita-wanita terkaya yang ada di lingkaran pertemanan kami. Dia selalu nyaman berada di tengah-tengah mereka. Walaupun dia tidak pernah bisa tampil sebagai wanita yang paling cantik, tapi kehadiran istri saya cukup menyita perhatian. Hampir semua wanita mengakui bahwa dia adalah wanita yang sangat anggun. Seorang wanita yang bisa menyihir setiap orang dengan gaya bicara dan tutur kata yang memikat. 

Namun, saya ragu dia bisa kembali ke lingkaran itu dengan kondisinya sekarang. Dia tidak lagi bisa bersaing dengan wanita-wanita itu. Dia pun harus menerima kenyataan terlempar dari pertemanan yang sedari dulu bersamanya. Apakah yang lain peduli? Ah, mereka hanya peduli dengan diri sendiri. Malahan, mereka bersorak ketika salah satu pesaing tersungkur jatuh dalam penderitaan. Tak acuh dan tetap saja berlomba untuk menjadi ratu di kelompok itu. Mengenaskan.  

Layaknya seorang suami yang normal, tentu saya mengharapkan bahwa dia akan tetap anggun dan elegan seperti ketika saya menjumpainya pertama kali. Namun, apa daya, bibit-bibit penyakit mulai menggerogoti organ tubuhnya teramat parah. Saya sudah membujuknya untuk mencari second opinion. Mungkin ada jalan keluar kalau dia mau berganti dokter. Mengingat dokter yang menanganinya sudah terlampau tua. Memang, dokter itu adalah dokter langganannya. Mulai dari dia masih cantik sampai sekarang dia dalam kondisi tidak berdaya. Tapi, bagi saya, metode pengobatan dokter tersebut sudah kuno. Sama sekali tidak bisa uptodate dengan perkembangan jaman. Alhasil, istri saya diberi pengobatan yang sama terus menerus. Walaupun (mungkin) dia sendiri sudah tahu kalau obat yang dia berikan sudah tidak lagi manjur untuk mengembalikan kecantikan istri saya. Dokter itu terlampau bebal untuk mau menerima kemajuan jaman. Bagi dia, pengobatan kuno adalah cara terbaik untuk mencapai kesembuhan. Cuih. Basi.

Situasi ini terbaca jelas oleh orangtua saya. Mereka berulang kali menyarankan untuk mencari istri baru. Mereka beralasan bahwa tidak ada gunanya lagi kamu mempertahankan dia. Toh, dia sudah tidak cantik seperti dulu. Mereka juga enggan untuk mengajaknya lagi ke pesta pernikahan. “Memalukan keluarga”, begitu mereka berkata. Terang saja, saya menolak dengan keras ide itu.

Sebenarnya, akan gampang bagi saya untuk  menikah lagi. Toh, banyak juga teman saya yang gonta-gonti istri. Bosan dengan istri yang lama. Cerai. Menikah lagi dengan wanita yang lebih muda. Kata mereka, “Buat apa kamu mempertahankan pernikahan bila sudah tidak ada gairah? Lagipula, saya punya penghasilan yang lebih dari cukup untuk menarik wanita manapun yang saya suka.”

Saya tidak habis pikir. Lelaki macam apa yang hanya mau mendampingi istrinya hanya ketika dia masih cantik. Kalau hanya seperti itu. Urusan akan jadi sangat gampang. Semua lelaki juga bisa.Tidak bisa dipungkiri, bahwa sempat terbersit untuk berpindah hati ke wanita lain. Mungkin hidup akan jauh lebih menyenangkan dibandingkan sekarang. Namun, setiap niatan itu muncul, selalu ada pikiran yang mengingatkan saya pada ucapan 12 tahun lalu.

Waktu itu, saya sudah berucap untuk mencintainya dalam suka maupun duka, dalam sehat ataupun sakit. Tetap mendampingi sampai maut memisahkan. Janji itu terlampau sakral. Saya tidak punya keberanian untuk mengkhianati janji sesuci itu. Karakter sejati seorang lelaki memang baru tampak kalau dia bersedia menemani wanita tercintanya melalui masa-masa terkelam dalam hidupnya. Bukan malah meninggalkannya ketika sudah tidak mampu bersolek. Bukan seperti itu lelaki seharusnya bersikap.

Mungkin, saya memang harus bertahan ditempa dengan siksa batin yang entah kapan akan berakhir.  Saya sudah tidak peduli dicibir sebagai penikmat sadomasokis kelas kakap yang hobinya menyiksa diri sendiri. Bagi saya, hidup bukan melulu tentang siapa yang paling cantik, siapa yang berdandan paling glamor, siapa yang memakai tas paling bermerek. Hidup lebih berharga daripada semua hal-hal superfisial itu.

Atau, mungkin saya yang terlalu naif? Bersikeras untuk tunduk menghamba pada kesetiaan.

Tapi, hal apa di dunia ini yang lebih mulia dibandingkan kesetiaan pada istri tercinta?

Saya cuma punya satu harapan yang tersisa. Saya hanya ingin melihat dia kembali tersenyum bahagia seperti dahulu kala.

Oh iya, saya sampai lupa belum memperkenalkan istri saya tercinta.

.
.
.
.
.
.
.
.
.

Namanya adalah Arsenal.


# Posisi 5, dikangkangi Tottenham Hotspurs setelah 20 sekian tahun, nggak masuk liga Champion setelah 21 tahun, paling besok juga kalah sama Chelsea di piala FA. Sanchez dan Ozil nggak perpanjang kontrak. Cazorla cedera sampai entah kapan. Dark age.
#Wengerout #AllenatoreItalyIn #Gazidisout