Dokumen Pasca Kelahiran (Minoo City, Osaka, Jepang)

Bulan lalu, si bocah baru saja lahir. Selain mempersiapkan beberapa barang yang diperlukan untuk menyambut kedatangannya, kami ternyata juga harus mengurus berbagai dokumen pasca melahirkan. Meski agak sedikit ribet, menguras waktu, uang dan tenaga, tetapi karena ini adalah dokumen penting yang akan berguna untuk si anak. Maka, saya berusaha untuk segera menyelesaikan dokumen-dokumen ini.

Berikut adalah beberapa dokumen yang diperlukan:

  1. Laporan kelahiran (shussei todoke 出生届):

Proses ini adalah prosedur melaporkan bahwa bayi kita telah lahir dan ingin didaftarkan pada kartu keluarga kita (juuminhyo). Dari pihak rumah sakit, kita akan mendapatkan sertifikat kelahiran (shuusei shoumeisho (出生届).Sertifikat ini bisa diminta dalam dua bahasa, Jepang dan Inggris (untuk di rumah sakit tertentu, misalnya Rumah Sakit Minoo). Dokumen ini akan dibawa ke shiyakusho untuk diproses lebih lanjut. Saat sampai di shiyakusho, bilang pada petugasnya bahwa akan lapor kelahiran, biasanya mereka akan langsung sigap melayani untuk semua dokumen yang diperlukan. Harap dicatat bahwa pelaporan kelahiran harus dilakukan dalam waktu 14 hari setelah kelahiran.

Dokumen yang harus dibawa: Shussei shoumeisho, resident card dan hoken (orangtua) dan bositecho (di halaman depan bositecho akan dicantumkan keterangan lahir dan juga ditulis tanggal pelaporan oleh pihak shiyakusho. Halaman ini akan dilampirkan pada saat mengurus surat kelahiran anak di KJRI/KBRI)

Yang diperoleh: Juri shomeisho (受理証明書) dan juuminhyo (住民票) yang sudah diupdate dengan nama anak.

  1. Asuransi kesehatan bayi (hoken 保険書)

Asuransi kesehatan adalah hal yang wajib untuk dipunyai ketika bersekolah/bekerja di Jepang. Untuk itu, sekaligus dengan pengurusan pelaporan kelahiran, maka pihak shiyakusho akan secara otomatis mengarahkan untuk membuat asuransi kesehatan bayi. Cukup menunjukkan bahwa kita (ortu) menggunakan hoken dari pemerintah, maka anak kita juga akan terdaftar otomatis dalam hoken tersebut.

  1. Daftar tunjangan biaya bulanan bayi (Jidouteate 児童手当)

Setelah mendapatkan, asuransi kesehatan bayi. Maka pihak shiyakusho akan mengurus tunjangan biaya bulanan. Besaran biayanya bervariasi untuk tiap kota. Ada yang 15.000/bulan/anak atau dengan nominal yang lebih kecil. Biasanya, biaya ini akan ditransfer setiap 4 bulan sekali ke rekening bank orangtua. Lumayan banget lho untuk beli popok dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Bisa juga dipake oleh ibunya untuk makan yakiniku biar ASI-nya lancar jayaaaaa…(yakiniku sudah terbukti ampuh untuk memperbanyak ASI, hahaha..)

Dokumen yang harus dibawa: fotokopi buku tabungan orangtua, resident card dan hoken ortu, hanko, hoken anak.

Yang diperoleh: telah terdaftar dalam tunjangan bulanan dan brosur2 tentang jidoteate.

  1. Buat kartu berobat bayi gratis (iryoushou 医療証)

Selain hoken, maka kartu berobat bayi juga harus dipunyai. Bila si kecil sakit, ada beberapa kota yang menggratiskan biaya pengobatan, tetapi ada juga yang harus membayar maksimal 500-1000 Yen (ini kalau di Minoo City). Kartu ini penting untuk dipunyai karena biasanya 1 bulan setelah melahirkan, akan ada pemeriksaan di rumah sakit. Jadi, kalau bisa, segera saja mengurus kartu ini supaya tidak dikenai biaya pada saat memeriksaan bayi.

Dokumen yang diperlukan: resident card orangtua, hoken.

Yang diperoleh: Iryoushou (kalau di Minoo, kartu ini akan dikirim ke alamat rumah, beserta dengan hoken si bocah)

NOTE:

Karena saya tinggal di Minoo City dan kebetulan rumah nggak begitu jauh dari Syakusho Toyokawa Branch, maka saya mengurus semua dokumen si bocah di sana. Prosesnya nggak begitu lama kok, sekitar 1 jam untuk 4 dokumen yang diperlukan si bocah. Kadang-kadang memang ada syakusho/kuyakusho yang nggak menyediakan pelayanan paralel, jadi harus mengurus dokumen satu per satu. Untungnya, di Minoo Syakusho bisa mengurus semua dokumen secara langsung, jadi nggak perlu ribet-ribet.

Oh iya, karena banyak dokumen yang harus dipersiapkan untuk pengurusan visa, surat kelahiran dan juga paspor anak, sebelum ke syakusho, pastikan dulu dokumen apa yang akan diminta untuk membuat dokumen-dokumen tersebut. Apakah harus asli atau bisa kopian, dan lain sebagainya. Ini untuk mengantisipasi kita harus bolak-balik ke syakusho untuk minta dokumen. Kalau bisa diurus dalam satu waktu kan lebih hemat tenaga. Hehehe.

  1. Tunjangan biaya melahirkan (Shussan Ikuji Ichiji Kin)

Bila kita melahirkan di rumah sakit, maka kita akan mendapatkan tunjangan sebesar 420.000 yen. Uang ini akan disalurkan langsung ke rumah sakit, jadi biaya melahirkan akan dipotong langsung dari tunjangan ini atau kita bisa meminta tunjangan ini ke shiyakusho. Bila biayanya lebih besar dibandingkan tunjangan, maka kita harus membayar kelebihan biayanya. Namun, bila biayanya lebih kecil dibandingkan tunjangannya, maka kita akan mendapatkan uang tunai dari shiyakusho yang akan ditransfer ke rekening kita. Setiap kota dan rumah sakit mempunyai kebijakan tersendiri, jadi bisa ditanyakan.

Dokumen yang dibawa: resident card, hoken orangtua, buku tabungan.

Yang diperoleh: Sisa kelebihan tunjangan biaya melahirkan.

NOTE:

Untuk Rumah Sakit Minoo, pada saat pemeriksaan rutin kehamilan, mereka akan memberikan kertas yang berisi keterangan tentang tunjangan biaya melahirkan dan meminta persetujuan dari orangtua. Jadi, di rumah sakit ini, tagihan biaya akan langsung dipotong dengan tunjangan biaya melahirkan. Proses pembayaran tagihan juga nggak ribet kok, nanti perawatnya akan memberikan tagihan biaya, kemudian kita akan harus membayar/menyerahkan tagihan tersebut di kounter pembayaran. Hanya memerlukan waktu 10 menit untuk membereskan semua administrasi di rumah sakit. Mantap banget yak!

  1. Resident Card (Visa) di kantor Imigrasi Jepang

Selain dokumen yang diurus ke shiyakusho, maka kita harus juga mengurus visa anak maksimal 30 hari setelah kelahiran. Dokumen ini harus diurus dan diambil langsung ke pihak imigrasi Jepang di Osaka (letaknya di Cosmosquare), cukup memakan waktu sih karena letaknya yang jauh. Ada beberapa dokumen yang perlu dipersiapkan untuk mendapatkan visa bagi si kecil, antara lain:

  • Form aplikasi (ada di website)
  • Photo 4×3 (untuk bayi, tidak memerlukan foto)
  • Surat kelahiran (shuusei shoumeisho (出生届)) atau surat keterangan lahir yang dikeluarkan oleh shiyakusho (Juri shomeisho (受理証明書))
  • Kartu keluarga (juuminhyo) edisi terbaru (beserta bayi yang baru lahir) yang bisa diminta di syakusho.
  • Surat Keterangan Mahasiswa
  • Surat Keterangan Beasiswa (Monbugakusho, LPDP, Dikti, dll) atau copy buku tabungan, bila private student. Untuk non-beasiswa, tidak ada saldo tertentu yang dipersyaratkan. Pokoknya, dari pihak imigrasi merasa teryakinkan bahwa anak kalian tidak akan terlantar karena orangtuanya kekurangan biaya.
  • Residence card orangtua
  • Surat keterangan menikah (mungkin diperlukan, jadi siap-siap aja dibawa)
  • Fotokopi paspor orangtua

Dokumen ini tidak akan dikembalikan oleh pihak Imigrasi. Jadi lebih baik melampirkan kopian dari dokumen-dokumen yang dipersyaratkan. Untuk keterangan lebih detail, bisa menuju tautan berikut http://www.immi-moj.go.jp/english/tetuduki/zairyuu/syutoku.html

  1. Surat Keterangan Lahir di KJRI/KBRI

Dokumen ini diperlukan untuk persyaratan memperoleh akta kelahiran di Indonesia. Di beberapa kota, surat kelahiran yang dikeluarkan dari rumah sakit/city hall tidak cukup dan harus menyertakan surat keterangan lahir yang dikeluarkan oleh KJRI/KBRI. Berikut adalah persyaratan untuk mendapatkan surat keterangan lahir:Surat permohonan ditujukan kepada Konsul Konsuler (ada di website KJRI)

  • Mengisi formulir pelaporan kelahiran (ada di website KJRI)
  • Fotokopi surat nikah/buku nikah/ akta perkawinan yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia
  • Fotokopi paspor orangtua, semua halaman yang terpakai.
  • Surat keterangan lahir dari pemerintah Jepang (Juri shomeisho (受理証明書))
  • Kartu keluarga terbaru (asli) dari Shiyakusho (Juuminhyo)
  • Resident Card anak
  • Fotokopi Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Bositecho), halaman. Pencatatan tanggal, waktu kelahiran
  • Beli Letter Pack di kantor pos 1 lembar (bentuk amplop tebal A4 dan sudah termasuk perangko 510 Yen) dan mengisi alamat lengkap – Jangan salah beli, letter pack beda dengan amplop biasa ya, ada yang warna merah (510 Yen) dan warna biru (310 Yen), bisa dicari gambarnya di google kalo nggak yakin
  • Biaya 0 Yen (mulai berlaku tahun 2017, tahun lalu padahal masih harus bayar 1200 Yen, mantap yak, hehehe..gratis..)

http://www.indonesia-osaka.org/layanan-publik/kelahiran/

  1. Paspor Anak di KJRI/KBRI

Selain Surat Keterangan Lahir, maka kita juga harus mengurus Paspor buat si anak. Berikut adalah beberapa persyaratan untuk pembuatan paspor:

  • Surat permohonan ditujukan kepada Konsul Konsuler KJRI Osaka (ada di website)
  • Mengisi formulir permohonan paspor (ada di website)
  • Surat pernyataan tidak berkewarganegaraan asing (ada di website)
  • Surat Keterangan Lahir (SKL) Anak
  • Surat nikah/Buku Nikah/ Akta Perkawinan orang tua yang dikeluarkan pemerintah Indonesia.
  • Resident Card Anak (bisa disusulkan setelah residence cardnya jadi)
  • Resident Card Orangtua
  • Paspor kedua orangtua, fotokopi semua halaman yang terpakai.
  • 3 lembar pasfoto ukuran terbaru 3×4 cm dengan latar belakang warna putih polos bukan hasil editing dan jelas/tidak buram
  • Beli Expack/Letter Pack di kantor pos 1 lembar, amplop ukuran A4 (untuk pengiriman paspor) dan mengisi alamat lengkap
  • Biaya paspor sebesar 2.700 Yen (transfer melalui kantor pos)

Rekening Pos KJRI Osaka
振込先 : 在大阪インドネシア共和国総領事館
Nama Rekening : Zai Osaka Indonesia Kyouwakoku Souryoujikan
郵便口座番号 : 00970-4-257046 (振り込み書が必要になります)
No. Rekening : 00970-4-257046 (Resit asli pembayaran harus disertakan)

Proses penggantian paspor memakan waktu sekitar 3 hari kerja

http://www.indonesia-osaka.org/layanan-publik/paspor-hijau/

Sumber:

https://sabakukyu.wordpress.com/2016/08/17/pengalaman-melahirkan-di-jepang-part-3/

Advertisements

“Sexual Harassment” di Jepang

Kemarin sore, sepulang dari futsal, seperti biasa kami bareng-bareng turun dari Mino ke arah bawah. Di perjalanan, kami bertemu dengan seorang wanita yang sedang berjalan dan mendengarkan musik memakai earphone. Terus, saya dan beberapa teman nyeletuk “Haloooo manissss….” (kaya di benteng Takeshi jaman dulu)  sambil mengayuh sepeda kami dengan cepat. Mendengar celetukan kami, si Surya pun menegur dan menceritakan sekelumit fakta tentang pelecehan seksual di Jepang. Dia bercerita bahwa sexual harassment di Jepang, bukan lagi bisa dijadikan suatu hal yang main-main. Ada risiko hukum yang lumayan mematikan bila kita dilaporkan melakukan pelecehan seksual, baik secara verbal maupun secara tindakan.

Kalau kita mengikuti berita baru-baru ini, ada berita tentang dua orang penumpang yang dilaporkan ke pihak berwajib bandara karena melecehkan seorang pramugari Garuda Indonesia. Mereka nyeletuk “Mau susu kanan atau kiri?” ketika ditawari minuman yang harus dipilih. Pramugari pun merasa tersinggung dengan perlakukan dua orang tersebut dan melaporkan mereka ke aparat berwenang.

Bagi para kaum lelaki, celetukan seperti itu kadang secara spontan muncul ketika kita sedang asik nongkrong bareng-bareng. Secara nggak sadar kita sering memperlakukan wanita sebagai objek bercandaan kita. Mulai dari disuit-suitin, digoda-goda dengan bahasa yang tidak sopan, atau berbagai macam perilaku lainnya. Bagi sebagian lelaki, perilaku ini kadang-kadang hanya dipahami sebagai “harmless joke” yang tidak perlu ditanggapi serius dan harusnya dianggap sebagai angin lalu saja. Nggak usahlah yang kaya gini diambil pusing, wong ya cuma bercanda. Tapi, yang tidak kita sadari, perilaku ini (walaupun maksudnya bercanda sekalipun), bisa memberikan akibat hukum yang tidak main-main bila si wanita tidak terima dengan perlakukan kita.

Pelecehan seksual merupakan sebuah konsep yang asing di Jepang. Mereka lebih kenal dengan istilah sekuhara yang diambil dari sexual (seku) dan harassment (hara). Banyak sekali contoh diskriminasi terhadap pekerja perempuan Jepang. Ada yang dipaksa untuk berduet lagu romantis dengan teman kerja (pria) mereka, harus menuangkan teh, mengangkat telpon, dll yang semuanya dilakukan dengan tujuan menciptakan suasana kerja yang harmonis. Wanita yang merasa tidak nyaman dengan perlakuan ini akan dianggap merusak suasana kerja yang berusaha untuk dibangun dan akan mendapatkan konsekuensi dari lingkungan kerja mereka.

Hukuman terhadap pelaku pelecehan seksual mulai diperkenalkan sejak tahun 1989 di Fukuoka. Jadi ada kejadian, dimana seorang pekerja pria melaporkan bosnya karena gajinya, yang tiga kali lebih besar dari si pekerja wanita utk jenis kerjaan yang sama, dikurangi untuk menaikkan gaji si wanita tsb. Dia menyebarkan isu bahwa si wanita tidur dengan bosnya dan menulis novel porno. Ini adalah kasus pertama yang menyadarkan publik tentang pelecehan seksual di kantor. Beberapa hukuman untuk pelaku pelecehan seksual pun dibuat, salah satunya adalah mempublikasikan pelaku dan perusaan ke khalayak umum bila terjadi pelecehan seksual di tempat tersebut. Konsep ini berdasarkan pada konsep hukuman sosial yang memang menjadi konsep dasar masyarakat Jepang. Tapi, sayangnya wanita-wanita tsb masih sulit untuk melaporkan tindakan tersebut karena mereka sering diancam bahwa pelaporan tersebut akan memberikan dampak buruk pada bos dan perusahaan mereka. Lah, secara nggak langsung mereka pun akan tetap diam.

Kondisi ini sebenarnya berakar pada sistem sosial Jepang yang sangat tradisional dalam memandang peran seorang wanita. Sebuah sistem sosial yang sebenarnya juga dianut di masyarakat Jawa. Wanita masih dianggap sebagai “second sex” yang tidak punya hak apapun untuk berbicara, bekerja, dan hanya bertugas untuk mengurusi masalah domestik rumah tangga. Para pria tidak pernah memikirkan perasaan wanita bila melakukan tindakan tertentu. Salah satu contoh kasus adalah seorang polisi yang berulang kali memegang paha teman kerja wanitanya. Dia berpendapat bahwa “It felt good, and she didn’t say anything, so I kept doing it” Sebuah alasan yang muncul karena ketakutan si wanita menyuarakan apa yang menjadi kegelisahan dan kemarahannya.

Dalam sebuah artikel yang dikeluarkan oleh The Guardian (Maret 2016) dikatakan bahwa hampir sepertiga wanita Jepang mengalami pelecehan seksual di tempat kerja, biasanya karena penampilan, umur atau kondisi fisik mereka. Dalam taraf yang lebih serius, mereka berulang kali diajak makan keluar dan dipaksa untuk melakukan hubungan seksual atau disentuh secara semena-mena. Yang paling sering melakukan adalah atasan dari si wanita tersebut. Sayangnya, para wanita di Jepang masih merasa segan untuk melaporkan tindakan ini ke pihak yang berwajib. Kebanyakan dari mereka memilih untuk diam karena bila mereka melaporkan, maka mereka akan diperlakukan dengan tidak menyenangkan atau malah bisa turun pangkat.

Sigh…sebuah kondisi sosial yang sebenarnya tidak perlu terjadi kalau kita menghargai wanita sebagai partner kerja yang punya hak yang sama dengan kaum pria. Sayangnya, walaupun PM Abe mempunyai program untuk meningkat peran wanita dalam bisnis dan ekonomi. Program yang mendukung dan menjamin hak-hak kaum wanita sama sekali masih dikesampingkan, lebih lagi belum ada penghormatan terhadap wanita hamil yang bekerja. Mereka malah akan semakin dipojokkan karena kondisi mereka memperlambat pekerjaan, menambah beban untuk pekerja lainnya, dll. Dampak jangka panjangnya adalah Jepang akan semakin kehilangan populasinya di masa depan dan bukan tidak mungkin dalam beberapa puluh tahun ke depan, kondisi ekonomi Jepang akan semakin terpuruk bila situasi ini tidak segera ditangani secara serius.

Maka dari itu, hargailah wanita seperti kamu ingin dirimu dihargai sebagai seorang lelaki dan jangan pernah anggap bahwa apa yang terlontar hanyalah sebuah lelucon belaka karena itu akan menimbulkan konsekuensi hukum yang cukup berat.

Bayangkan saja kalau adik, istri, sahabat atau ibumu diperlakukan seperti itu, nggak bakal mau juga kan?

^^Y

 

Sumber:

On Sexual Harassment in Japan (Part 1)
http://www.nippon.com/en/currents/d00171/
http://www.theguardian.com/world/2016/mar/02/japan-women-sexually-harassed-at-work-report-finds

 

 

Sahabat Polisi Jepang

Selama menginjakkan kaki di Jepang, saya sudah cukup banyak berurusan dengan polisi, mungkin ada sekitar 8-9x saya dimintai keterangan soal identitas dan status saya.

Kejadian pertama terjadi pada saat saya berlibur ke sini pada tahun 2012, baru saja keluar dari gate bandara, saya sudah harus menyerahkan paspor untuk dicatat oleh polisi, hanya gara-gara saya lupa cukur brewok plus waktu itu lagi gendut2nya, ya udah lengkaplah penampakan saya untuk dicurigai oleh mereka. Hitam, gendut, brewokan. Kejadian itu terjadi selepas saya berada di imigrasi selama hampir 5 menit untuk dimintai keterangan tambahan (biasanya cuma diminta paspor, terus udah) tentang alamat, dsb. Ya mungkin karena alasan yang kurang lebih sama.

Masih di hari yang sama, saya dan mas Boni (kakak sepupu) dihampiri polisi di kawasan Umeda karena kita duduk di lantai (kayak di terminal kae lho),  sewaktu menunggu teman. Habis itu masih pula didatengin lagi gara-gara ngerokok sembarangan. hahaha. Kecu tenan.

Tapi kejadian yang paling epik terjadi pada bulan-bulan pertama saya tinggal di sini. Waktu itu, mungkin sekitar jam 9 malam, saya baru jalan dari stasiun menuju asrama. Di tengah jalan, saya sudah ditunggu oleh mobil polisi yang langsung menyuruh saya untuk masuk ke mobil mereka. “Waduh, salah apa nih ane? Kayanya nggak ngelakuin apa-apa” Di dalam mobil, mulailah mereka membongkar isi dompet, tas, grepe-grepe pantat saya (duuhhh…untung polisinya kaya song jong ki…). Waktu mereka menemukan kartu mahasiswa saya, mereka masih saja meneruskan menggeledah isi tas seolah-olah saya akan melakukan tindakan kriminal. Akhirnya, karena mereka tidak bisa bahasa Inggris, saya menelepon Echa untuk berbicara dengan mereka. Ternyata, itu adalah prosedur rutin yang biasa mereka lakukan. Hanya semacam razia terhadap orang asing gitulah. Ya, saya maklum sih, dengan tampang yang sangar, brewokan, trus agak botak kayak gini. Ya mirip-miriplah sama anggota geng kriminal.

Eh, ternyata setelah ditelpon oleh Echa, mereka masih menginterogasi saya. Mereka bertanya (bermodal google translate), “Kamu bawa pisau nggak? Kamu mau menyerang orang lain nggak?” Kira-kira mungkin gitu pertanyaannya, saya juga udah agak lupa. Tapi intinya, mereka masih mempertanyakan identitas saya waktu itu. Untungnya, setelah beberapa saat, saya pun dilepas tanpa kurang suatu apapun.Hahaha. Semenjak kejadian itu, masih ada beberapa kali lagi saya diberhentikan dan ditanyai oleh polisi, tapi memang kejadian itu yang paling parah sih. Kayanya belum pernah ada orang Indonesia  yang sampai dimasukin ke mobil polisi, diinterogasi dan digeledah. Daebak banget.

Nah, bagusnya adalah sepanjang pengalaman saya. Polisi-polisi di sini tu sopan-sopan dan nggak ngajak ribut gitu. Mereka melakukan prosedurnya dengan baik, menanyakan dengan intonasi rendah, dan tetap menghargai saya yang adalah orang asing. Paling tidak perlakuan mereka untuk orang yang dicurigai sebagai pelaku kriminal masih dalam batas yang wajar. Saya yang diinterogasi pun merasa santai-santai saja karena toh saya nggak bersalah dan mereka juga nggak berusaha untuk mencari-cari kesalahan, kaya oknum-oknum polisi di Indonesia.

Tapi saya nggak tau di daerah lain, mungkin karena tempat tinggal saya masih di kawasan kampus, mereka sudah terbiasa memperlakukan orang lain dengan baik. Kalau di luar wilayah kampus, mungkin  saja perlakukan berbeda. Pernah ada kejadian di Tokyo, pria umur 20 tahun yang kebetulan half Japanese-Philippinos diinterogasi selama 7 jam karena tidak membawa paspor, ada juga seorang wanita yang sering kali distop dan diinterogasi oleh polisi karena terlalu tinggi + terlalu hitam untuk ukuran orang Jepang. Aneh ya.

Maka dari itu, buat temen-temen Indonesia, selalu pastikan membawa residence card kemanapun perginya, bahkan walaupun cuma ke supermarket sekalipun. Males banget to kalau harus berurusan sama polisi hanya gara-gara hal sepele.

^^Y

Mengundang Keluarga ke Jepang: Cara Mengurus Certificate of Eligibility (CoE) di Osaka

Beberapa minggu lalu saya baru saja mengurus CoE untuk Ibu Adriana (/i) Netiasa yang berencana akan menuju ke tanah perjuangan dalam waktu dekat. Dokumen ini adalah syarat mutlak untuk bisa tinggal di Jepang selama >90 hari. Dokumen ini akan digunakan untuk pembuatan visa di Kedubes Jepang. Setelah browsing dan tanya sana sini, akhirnya saya berhasil mendapatkan persyaratan yang dibutuhkan untuk mengajukan CoE.

Berikut adalah tahapan-tahapan yang harus dilalui:

  1. Formulir aplikasi CoE (ada di web imigrasi Jepang — http://www.immi-moj.go.jp/english/tetuduki/kanri/shyorui/01.html)
  2. Surat kesanggupan menjadi guarantor (ada di web itu juga)
  3. Untuk pasangan, terjemahan surat nikah dalam bahasa Jepang (untuk syarat ini, ada teman yang berhasil mendapatkan dokumen tanpa menerjemahkan surat nikah. Tapi untuk jaga-jaga mending diterjemahin aja deh…)
  4. Fotokopi surat nikah (yang asli dibawa untuk ditunjukkan)
  5. Certificate of enrollment yang dikeluarkan oleh universitas jika pelajar atau surat bukti sebagai pekerja
  6. Bukti penghasilan:
    1. Kalau monbusho bisa pakai sertifikat monbusho nya (minta ke pihak kampus)
    2. Kalau beasiswa LPDP bisa memakai LoG dari LPDP
    3. Kalau private-funded student bisa menyiapkan bank of reference dari bank di Indonesia. Tidak ada nominal yang harus dipenuhi, ya paling tidak bisa untuk hidup sepanjang durasi tinggal yang dikehendaki.
    4. Kalau pekerja, bisa minta ke perusahaan atau bukti pembayaran pajak
  7. Fotokopi residence card (yang asli juga harus dibawa)
  8. Fotokopi paspor diri sendiri (paspor yang asli juga dibawa)
  9. Fotokopi paspor suami/istri/anak yang akan diundang
  10. Pas foto suami/istri/anak yang akan diundang ukuran 3×4 cm, berwarna, tanpa latar belakang.
  11. Amplop berperangko 430 yen, ditulis nama lengkap dan alamat rumah di Jepang. Ukuran amplop kalau bisa lebih kecil dari ukuran B5.

Setelah memenuhi seluruh persyaratan, silakan memasukkan dokumen tersebut, bisa melalui pihak kampus atau datang langsung ke pihak imigrasi Jepang di Osaka yang beralamat di Cosmosquare. Bisa diakses melalui tautan di bawah ini:

http://www.kansaigaidai.ac.jp/asp/pdf/current_students/01_student_handbook/Osaka_Regional_Immigration_Office.pdf

Bila ada kekurangan dokumen, biasanya dalam 3-4 hari akan datang surat pemberitahuan dari pihak imigrasi untuk melengkapi dokumen. Bila dokumen sudah lengkap semua, biasanya butuh waktu sekitar 3 minggu untuk prosesnya. Pengiriman dokumen ke Indonesia disarankan menggunakan EMS lewat JP Post (harganya 900 yen), dalam seminggu biasanya sudah sampai ke alamat tujuan.

Tips: Jangan pernah mengirim dengan tarif biasa, soalnya surat yang saya kirim dengan tarif biasa (270 yen kalau tidak salah), tidak sampai ke alamat tujuan di Indonesia. Mending bayar agak mahal, tapi dokumen bisa sampai dengan selamat. Hahaha. Kecu tenan.

Okay, sebegitu dulu untuk syarat pembuatan CoE, kalau mau tanya silakan menghubungi ^^Y

Membuat Indonesia Lebih Baik

Mumpung libur, ada baiknya menulis sesuatu yang sempat tertunda kemarin.

Beberapa hari yang lalu, dalam perjalanan pulang dari lab, saya seperti biasa ngelamun memikirkan hal-hal aneh yang seketika hinggap di pikiran. Pemantik pikiran saya malam itu adalah sebuah buku berjudul “Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura”. Sebuah buku yang diiniasi oleh Bos Gagus Ketut dengan menggandeng beberapa teman lainnya di PPI Osaka-Nara. Buku ini kurang lebih bercerita tentang pejuangan menggapai impian untuk bersekolah di Jepang. Walaupun saya belum membaca buku ini, sudah terbayang bagaimana kisah-kisah penuh suka duka tersebut diuntai dengan apik sehingga menghidupkan bara setiap orang yang membacanya. Buku ini pun sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan (kalau nggak salah) mendapat dukungan langsung oleh Osaka University. Sungguh sebuah karya yang sangat patut untuk diapresiasi.

Saya kemudian jadi kepikiran bahwa tulisan-tulisan berisi pengalaman perjuangan seseorang untuk bisa mencapai sesuatu memang sudah seharusnya dibukukan dan disebarkan dalam bentuk yang masif supaya setiap orang bisa terinspirasi untuk mengikuti jejak ataupun melakukan hal yang lebih baik. Sudah terlalu banyak aura-aura negatif bernada pesimis yang serta merta memadamkan api-api yang baru saja mulai menyala. Nada-nada nyiyir, tidak percaya, meragukan, dan beragam komentar lain yang bisa membuat orang menjadi sangsi untuk menentukan takdirnya sendiri. Lalu kemudian memilih untuk mencari jalur yang aman dengan hasil yang sudah pasti. Buku-buku seperti inilah yang bisa menjadi fondasi dasar untuk membangun sebuah motivasi yang kuat dalam memperjuangkan kehidupan yang lebih baik.

Semakin banyaknya anak-anak muda Indonesia yang mempunyai kesempatan untuk bersekolah ke luar negeri, memberikan harapan-harapan besar untuk kemajuan bangsa Indonesia di masa depan. Saya berpikir, selain dari segi akademis, tentu saja anak-anak muda tersebut bisa mengalami banyak hal lain di luar kehidupan sekolahnya. Seperti misalnya, kalau di Jepang, bisa mengalami akses transportasi yang sangat mudah, murah dan terjangkau atau bisa merasakan birokrasi yang sangat rapi (walaupun kadang agak menyebalkan) dengan pelayanan yang sangat prima.

Pengalaman ketinggalan handphone di bandara Kansai memberikan saya semacam pemikiran untuk menginiasi pembuatan cerita yang lain. Saya berpikir akankah sangat luar biasa bila para anak-anak muda ini bisa meluangkan sedikit waktunya untuk menuliskan pengalaman-pengalaman berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi negara yang dia tinggali lengkap dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah setempat. Kebijakan tentang pendidikan, tata kota, tata pemerintahan, transportasi publik, asuransi, dan berbagai macam hal lainnya. Atau hanya berupa pengalaman keseharian berinteraksi dengan masyarakat setempat pun, sebenarnya layak juga untuk dicerna dan diceritakan ulang.

Misalnya, di daerah tempat tinggal saya di Minoo, kita bisa dengan sangat gampang menemukan taman dan area publik yang bisa digunakan untuk olahraga, berlatih musik, ataupun sekedar sebagai tempat berkumpul bersama untuk menikmati sakura. Akan menjadi cerita yang sangat menarik bagaimana para mahasiswa itu berefleksi tentang keberadaan taman tersebut. Bagaimana ide-ide baru dan (mungkin) brilian bisa saja muncul secara tidak sengaja pada saat melamun di taman atau bagaimana taman tersebut bisa menjadi sarana untuk melepaskan penat karena rutinitas yang tanpa henti.

Banyak hal-hal positif yang bisa ditemukan di negara-negara yang kita kunjungi, apalagi kita tinggal dalam waktu lama di negara tersebut. Mungkin akan ada ratusan ide-ide out of the box terkait dengan kebijakan pemerintahan yang bisa kita pelajari dari negara tersebut. Bisa dibayangkan, bila satu negara bisa menghasilkan satu buku berisi 15-20 hal positif tentang negara yang dia tinggali, ada berapa banyak hal positif yang bisa dikembangkan Indonesia di masa depan dari hanya membaca buku-buku tersebut. Sebuah buku yang mungkin akan menginspirasi anak-anak muda yang bila pada saatnya nanti menjadi pemimpin (dalam ranah apapun) untuk bisa keluar dari sistem lama dan mencetuskan hal-hal baru. Saya mulai bisa membayangkan dampak viral yang mungkin akan bergulir ketika proyek ini bisa dieksekusi dengan baik. Dan, di masa depan, perpaduan antara visi + semangat + implementasi yang konsisten + lingkungan yang kondusif tentu akan membuat Indonesia bisa tumbuh sebagai negara yang mampu menjadi RUMAH yang nyaman bagi siapapun yang tinggal di sana dan bisa memfasilitasi setiap penghuninya untuk berkembang pesat sebagai  seorang manusia. Hehe.

Mau dieksekusi?

Jepang, Surganya Orang Ceroboh

Lagi-lagi saya mengalami hal yang merepotkan gara-gara kecerobohan yang tidak penting. Kemarin Minggu, saya baru mendarat di bandara Kansai International Airport (KIX) Osaka setelah pulang kampuang selama 2 minggu. Pesawat sampai di KIX pukul 8.15 JST. Nah layaknya kebiasaan selama bertahun-tahun, perut pasti bergejolak kalau jam-jam itu. Alhasil, saya dan Sumanto bergegas mencari kamar mandi untuk nyetor. Sebenarnya kita mau masuk ke toilet sebelum gate karantina, tapi ternyata kamar mandinya cuma sedikit dan jongkok pula. Agak males gara-gara pakaian agak ribet dan bawaan juga lumayan banyak. Alhasil, kita membatalkan untuk buang air di situ. Akhirnya, kita pun nyetor di toilet yang ada di bagian imigrasi. Toiletnya enak dan yang paling mantap adalah sepi. Jadi, kita bisa saling mendengarkan orkes keluarnya eok secara jelas dan jernih. Bahaha. Karena saya orang kekinian, ya jelas saya selama boker megang hape, browsang browsing nggak jelas. Sampai akhirnya, pas mau cebok, saya taruh handphone di atas tempat tissue. Selesai, lap lap sana sini, saya pun langsung menuju bagian imigrasi. Untunglah semua lancar, nggak ada masalah kali ini (nanti bakal ada cerita ttg brewok dan imigrasi).

Saya pun lalu menuju lantai 1 untuk menunggu bagasi. Saat mengambil koper, saya berusaha mengambil handphone. Lah, tapi tak cari-cari kok nggak ada. Di saku celana nggak ada, di dalam tas juga nggak ada. Wah, mati. Handphonenya hilang. Terus saya mikir, jangan-jangan handphonenya ketinggalan di toilet? Kontan saja, saya langsung lari ke lantai 2 di bagian imigrasi. Saya pun bertanya kepada staf yang ada di situ, menjelaskan situasinya. Dia pun dengan sigap berlari ke toilet, tapi sayangnya dia kembali tanpa berita gembira. Dia pun menyarankan saya untuk bertanya di bagian informasi untuk memproses kehilangan. Di bagian informasi, saya diarahkan ke custom office. Di custom office, mereka menghubungi staf wanita (cantik lho) di bagian dalam untuk mencari lagi handphone saya yang hilang. Setelah menunggu beberapa saat, staf tersebut mengatakan kalau dia tidak bisa menemukan handphone tersebut. Duh, saya sudah pasrah kehilangan handphone itu. Akhirnya, saya pun diberi nomer telepon custom office dan diminta menghubungi keesokan hari untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Besoknya, saya pun minta tolong Echa untuk menelepon ke bandara. Dan, untungnya! Handphone saya ketemu! Bahahaha. Rejeki anak sholeh. Sebagai pembuktian, Echa diminta untuk telepon ke nomer handphone itu, kebetulan nomernya masih pake nomer Indonesia. Ternyata masih bisa tersambung. Wuahh..bersyukur banget. Pihak bandara pun akan mengirimkan handphone tersebut ke rumah dan saya tinggal bayar biaya pengiriman via COD.

Sebenarnya ini adalah kejadian ketiga saya kehilangan/tidak sengaja menjatuhkan sesuatu di Jepang. Kejadian pertama adalah saya lupa mengambil tiket langganan kereta 6 bulan seharga 10.000 yen setelah memasukkan tiket tersebut ke exit gate. Padahal masih sisa 2 bulan, lumayan juga kan kalau hilang. Ternyata, ada orang yang menyerahkan tiket itu ke petugas di stasiun dan saya pun bisa mendapatkannya lagi. Kejadian kedua adalah saya tidak sengaja menjatuhkan segepok kartu-kartu (atm, tiket, student card, dll) di pintu masuk stasiun. Udah panik rasanya, tapi setelah ditanyakan ke petugas stasiun yang bersangkutan, ternyata ada orang yang mengembalikan kartu-kartu tersebut. Fiuh.

Lalu, saya pun bercerita pada ibu tentang kejadian ini, beliau hanya berkata “Kok bisa ya orang Jepang jujur-jujur? Kapan Indonesia bisa kaya gitu ya?” Saya menangkap getir pesimisme yang kental dalam pertanyaan itu. Sebagai seseorang yang berpengalaman bertemu dengan banyak tipe manusia, tentu ucapan itu bukanlah sekedar isapan jempol belaka. Tapi, sebegitu nggak jujurkah orang Indonesia? Sampai-sampai tidak ada lagi harapan untuk mendapatkan barang yang tertinggal atau terjatuh dan lalu dipaksa untuk berpasrah kehilangan?

Saya sendiri belum pernah kehilangan barang berharga di Indonesia. Paling sering kehilangan kacamata karena tertinggal di suatu tempat. Itupun saya tidak berusaha untuk mencari karena berpikiran, ah paling juga sudah diambil orang. Wah, ternyata optimisme saya juga sudah mulai padam.

Pemikiran tersebut menjadi hal yang sangat wajar karena orang Indonesia sendiri sudah sampai pada tahap tidak pernah bisa percaya dengan para pelaku sistem kebijakan publik. Ada banyak contoh ketidakjujuran yang dipertontonkan secara gamblang baik dari televisi ataupun pengalaman keseharian. Bisa dibayangkan kalau ada “lost and found center” di setiap pusat keramaian. Wah, bisa kaya tuh orang-orang yang jaga kantor di situ. Kalau ditanyain apakah menemukan sesuatu, tinggal dijawab “Tidak”. Resmi deh barang tersebut jadi milik si petugas.

Di Jepang, lost-and-found center pertama kali dibangun pada tahun 718, hampir 1300 tahun yang lalu, dan masih tetap bertahan sampai sekarang meskipun situasi ekonomi yang menyebabkan kriminalitas meningkat terus melanda. Di Tokyo, setiap hari ada 200-300 orang yang memanfaatkan pelayanan ini. Mulai dari dompet, kunci, handphone, kartu-kartu, bahkan barang remeh temeh seperti payung. Semua bakal diinventaris sesuai dengan waktu penemuan.

Jaman dulu, barang-barang yang hilang harus dikembalikan pada petugas resmi dalam waktu 5 hari sejak ditemukan. Setelah satu tahun, pemerintah bila mengambil alih barang tersebut walaupun pemiliknya masih tetap bisa mengklaim. Bahkan, ada peraturan yang menyebutkan kalau mereka tidak boleh mengambil batang kayu yang hanyut pas banjir. Bayangkan! Edan.

Peraturan tentang barang hilang diubah terakhir kali pada tahun 1958. Saat ini, ada klausul yang menyatakan bahwa bila menemukan uang, maka si penemu berhak mengklaim 5-20% dari jumlah uang, walaupun biasanya mereka hanya meminta 10%. Padahal, kalau nggak dibalikin kan mereka bisa dapat uang lebih banyak ya? Aneh. Hahaha.

Saya pikir-pikir lebih lanjut, kok ya kita nggak malu ya masih aja berbuat yang tidak jujur. Bahkan rasanya ketidakjujuran sudah jadi hal yang membudaya dan berakar kuat akhir-akhir ini. Saya kok jadi nggak habis pikir.

Katanya ngaku negara dengan kehidupan beragama yang dominan, tapi kok nggak malu kalau maling?

Mudahnya mengurus paspor di KJRI Osaka

Minggu lalu, tepatnya hari kamis 14 Januari, saya pergi ke KJRI Osaka di Shinsaibashi untuk mengurus paspor yang hampir habis. Sebenarnya, paspor saya expired tanggal 3 Agustus 2016. Biasanya, tidak diperbolehkan untuk memperpanjang kalau masih lebih dari 6 bulan. Tapi, karena saya harus mengurus CoE nya Nesya, saya pun berpikir untuk memperpanjang bulan ini, daripada nanti bermasalah di imigrasi Jepang. Setelah, tanya-tanya pada pihak yang terkait, ternyata boleh memperpanjang (bila lebih dari 6 bulan sblm habis) bila alasannya kuat, seperti untuk pengurusan syarat sekolah, CoE atau yang lainnya.

Saya pun menyiapkan syarat-syarat yang diperlukan:
1. Surat permohonan ditujukan kepada Konsul Konsuler KJRI Osaka (bisa diunduh di http://www.indonesia-osaka.org/layanan-publik/paspor-hijau/

2. Mengisi surat permohonan paspor RI (juga tautan yang sama)

3. Memiliki visa tinggal di Jepang yang sah

4. Paspor lama asli, fotokopi semua halaman yang terpakai

5. Akta kelahiran, copy (kalau dokumennya di Indonesia, minta discan saja)

6. Surat nikah atau Ijazah Indonesia (bagi yang belum menikah), copy

7. Alien registration/Gaikokujin tourokushou, halaman depan dan belakang

8. 2 lembar pasfoto ukuran 3.5×4.5cm dng latar belakang warna putih polos dan mengenakan baju berkerah, diambil 6 bulan terakhir, bukan hasil editing, dan jelas/tidak buram, tidak pakai topi dan kacamata.

[Nah, untuk syarat no.8, di mesin mesin foto di Jepang, biasanya tidak ada ukuran 3.5×4.5cm adanya 4.5×3.5cm. Biar sesuai ukuran, silakan pilih ukuran yang lebih besar(5×7 cm) lalu dipotong sesuai ukuran yang diminta.

Hati-hati soal background, untuk foto tipe normal (700 yen), backgroundnya otomatis akan berwarna biru muda dan tidak bisa diganti. Nah, biar bisa ganti background pilih menu yang memungkinkan untuk ganti background (900 yen). Jangan sampai uang belanja seminggu habis gara-gara salah pilih menu foto.]

9.Beli letter pack/expack di kantor pos 1 lembar (harga 360yen atau 510 yen) dan mengisi alamat lengkap.

Nah, letter pack ini beda dengan amplop lho. Jadi, kertasnya lebih tebal, ukuran A4 dan nggak usah beli perangko lagi.

image

9. Biaya paspor RI sebesar 2.650 Yen (transfer melalui kantor pos)

[Biaya ini bisa ditransfer melalui transfer antar bank atau melalui kantor pos. Jangan lupa menyertakan bukti transfer yang asli]

Rekening Pos KJRI Osaka
振込先 : 在大阪インドネシア共和国総領事館
Nama Rekening : Zai Osaka Indonesia Kyouwakoku Souryoujikan
郵便口座番号 : 00970-4-257046 (振り込み書が必要になります)
No. Rekening : 00970-4-257046

10. Dimohon untuk datang sendiri ke KJRI Osaka

Konsulat Jenderal Republik Indonesia – Osaka (Akhir ini Januari 2016 akan pindah)

Resona Semba Building 6F 4-4-21 Minami Semba, Chuo-ku
Osaka 542-0081

Akses : Naik Midosuji line, Turun di Stasiun Shinsaibashi, Pintu Keluar No. 3

Kantor baru (mulai Februari 2016)

Nakanoshima Intes Building 22F, 6-2-40 Nakanoshima, Kita-ku, Osaka 530-0005

11. Proses penggantian paspor akan memakan waktu 3 hari kerja.

[Saya kira proses penggantiannya akan molor seperti kalau kita mengurus sesuatu di Indonesia. Tapi ternyata tepat waktu. Rabu kemarin, 20 Januari 2016, paspor baru sudah sampai dengan selamat di rumah. Mantap sekali!]

Untuk informasi lain tentang pengurusan dokumen, silakan mengakses:http://www.indonesia-osaka.org/

Itulah sedikit informasi yang bisa saya bagikan soal penggantian paspor hijau di KJRI Osaka. Mudah, cepat, dan tidak ribet. Selamat mengurus-ngurus!