Tips-Tips Mengejar Wanita:part 1

Ini adalah tulisan menyambut valentine. Ya, walaupun nggak banyak yang merayakan dengan perasaan bahagia et causa habis putus cinta, jomblo yang tak berujung, LDR, atau segala macam hal yang bisa membuat Valentine menjadi saat-saat paling kelabu.  Saya yo sakjane nggak merasa cukup capable untuk ngomongin ini sih, lah wong pacaran mung 2 kali, minim pengalaman, bahaha…Tapi gapapalah, buat iseng..

Di sini banyak sekali drama-drama pengejaran cinta yang dilakukan para lelaki. Wajar saja, di negeri orang, tentu butuh teman yang bisa diajak pergi kemana-mana to? Bisa diajak nonton bareng, masak bareng, nyuci bareng, pijet bareng, dan segala aktivitas lain. Nah, masalahnya, banyaknya perbedaan pemikiran antara lelaki dan perempuan membuat proses PDKT menjadi mubazir, sia-sia, dan tidak efektif. Ada lelaki yang mendekati dengan membabi buta tanpa strategi, ada yang cuma pasif, ada yang cuma berani curi-curi pandang, ada yang ngomong doang, ada yang salah interpretasi kelakuan trus jadinya malah bubar, hashhh…pokoknya banyak banget yang bisa bikin drama-drama nggak jelas…

Biasanya permasalahan paling mendasar dari hubungan lelaki dan perempuan adalah soal interpretasi ucapan, kelakuan, dll. Lelaki itu adalah orang paling predictable yang pernah diciptakan Tuhan. Makhluk yang bodoh dan sangat superficial. Kita nggak pernah terbiasa untuk menyembunyikan sesuatu sehingga kalau dia bilang A ya berarti maksudnya A. Nggak ada maksud lain. Kalau semisal dia tertarik dengan wanita tertentu, ya pasti dia akan mengejar dengan segala macam modus yang dia kuasai, kalau semisal dia nggak tertarik ya berarti dia nggak akan seagresif itu dalam berkomunikasi.

Lain halnya dengan wanita, mereka adalah makhluk yang paling tidak bisa ditebak. Bahkan, beberapa sumber mengatakan bahwa mereka menganggap kalau mereka tau apa yang mereka mau, padahal yo nggak tau juga apa yang mereka inginkan. Ha pusing to jadinya…Ucapan ataupun kelakukan mereka bisa jadi multiinterpertasi. Ucapan “Nggak papa” aja bisa diterjemahkan menjadi lebih dari 10 arti. Padahal, kita selalu menangkap ucapan seperti apa adanya, kalau si cewek bilang “nggak papa” yang berarti emang beneran nggak papa, kita nggak akan pernah bisa mikir kemungkinan-kemungkinan dibalik ucapan mereka. Alhasil, sering sekali usaha pedekate menjadi gagal gara-gara salah analisis macam ini. Padahal sebenernya, kalau kita mau menelisik lebih dalam lagi, perubahan kelakuan dan nada bicara mereka itu bisa terbaca dengan jelas lho..Tapi ya emang kitanya aja yang bodo sehingga kode-kode semacam itu gagal diterjemahkan oleh otak kita yang terbatas..hahaha..Ketidakmampuan kita untuk menangkap kode dan menerjemahkan apa yang wanita mau selalu berhasil menjadi biang kegagalan kita dalam berhubungan. Hal ini sebenarnya bermula dari sifat dasar lelaki yang cenderung egois. Mereka lebih sering memikirkan diri mereka sendiri sehingga jarang sekali ada ruang untuk belajar tentang kepekaan terhadap wanita.

Peka terhadap perubahan yang terjadi pada wanita yang kita sukai akan membawa proses pedekate kita pada level yang selanjutnya. Wanita itu (kayanya)  terlahir sebagai seseorang yang ingin dianggap spesial dan diperhatikan. Jadi, kalau kita bisa menangkap detail kecil dan memberikan komentar tanpa kelihatan terlalu gombal, itu bisa jadi poin plus tersendiri. Hahaha. Misalnya aja, cewek yang kalian deketin baru aja potong rambut. Biasanya komentar yang muncul adalah “Widih..jadi tambah cantik nih habis potong..” — kadang komentar kaya gini bisa dianggap terlalu gombal. Nah, mungkin pick up line nya bisa diganti “Woho..kayanya tambah kelihatan seger aja nih habis potong” –(seger? Lu kire sayuran) — Tetap memberikan pujian tanpa terlihat menggombal adalah salah satu jurus yang wajib dikuasai juga. Cewek juga males lagi kalo ketemu cowok yang kerjaannya gombal muluk.

Nah, itu baru dua point..masih ada beberapa tips-tips cupu yang akan dibagikan..nantikan episode selanjutnya..bahahaha..

Advertisements

Romantisme ala Gardika

Suara penjaga stasiun mendadak bergaung di ruang gereja siang itu. Lantang sekali. Tak berapa lama, iringan musik gesek memecah kebingungan yang mungkin menghampiri kepala-kepala penuh rasa penasaran. Saya berjalan dengan mantap menggandeng Nesya yang tampak cantik dengan gaun putihnya. Itulah musik pengiring impian saya. Yang sudah terbayangkan di benak sejak beberapa bulan lamanya. Sebuah keinginan yang diwujudkan karena kebaikan seorang komponis muda bernama, Gardika Gigih Pradipta.

Saya pertama kali bertemu dengan Gigih secara tidak sengaja di warung lotek Colombo sekitar 4 tahun lalu. Dia datang bersama dengan Dalijo. Kami bersantap siang sambil ngobrol-ngobrol tentang kegiatan bermusiknya. Waktu itu dia masih berkeinginan untuk keliling Indonesia dan mengumpulkan alat-alat musik tradisional untuk diinvetarisasi. Semacam ingin membuat museum musik tradisional. Sampai pada akhirnya, saya berkesempatan untuk menikmati karyanya langsung di konser “Train Music, The Journey of Indonesia Railways” tahun 2013 di Taman Budaya Yogyakarta. Saya nonton bersama dengan Nesya waktu itu. Lagu terakhir yang dimainkan bersama dengan Eya Grimonia (violist) dan Bagaskoro (oboist) berhasil menghanyutkan dan seketika membuat saya jatuh cinta untuk terus menikmati musik-musiknya.

Musiknya yang cenderung bertempo lambat sangat cocok sebagai teman menikmati penghujung hari. Beberapa karyanya seperti “Pada Tiap Senja”, “Lamunan Senja”, “Sky Sailor”, “Sudah Dua Hari Ini Mendung” dan beberapa lagu lainnya adalah katalis yang cukup ampuh untuk membangun suasana. Tiba-tiba saja semua mendadak menjadi sendu dan melenakan jiwa-jiwa yang mungkin kelelahan karena kesibukan seharian. Lagu-lagunya berhasil membawa saya pada level romantisme yang berbeda. Yang tidak butuh balutan kata-kata cinta, tapi saya berhasil merasakan RASA yang coba untuk diungkapkan melalui denting-denting pianonya.

Saya pernah membaca (tapi lupa dimana), kalau Gigih suka sekali melamun. Dari lamunannya itu, bisa pada saat menikmati perjalanan kereta api, hujan, ataupun saat senja, dia memintal nada-nada yang memikat telinga untuk tetap terikat dan terjauh pada nostalgia yang ditawarkan olehnya. Bahkan, Dalijo (yang satu kontrakan dengan dia), pernah berkelakar pada saya “Gigih itu, dedaunan yang jatuh aja bisa dilihat sebagai hal yang sangat romantis og…” Mungkin terkesan agak berlebihan. Tapi, itulah cara dia untuk bisa terus menerus mengolah rasa supaya tetap padu dengan notasi-notasi yang berjibun di dalam kotak musiknya.

Saya sampai detik ini, tak pernah merasa bosan mendengar karya-karyanya. Yang meski sudah saya putar berulang-ulang kali, tapi tetap saja selalu berhasil membawa saya ke dimensi yang berbeda. Musik sederhana yang selalu berhasil membawa saya menyelami kembali pengalaman-pengalaman personal yang terkadang sudah terbalut sarang laba-laba dan teronggok entah dimana. Cobalah untuk mendengarkan musiknya dan rasakan tiap baluran nada yang terserap ke pori-pori tubuh anda.

Silakan mengunjungi https://soundcloud.com/gardika-gigih-pradipta untuk terpesona pada lagu-lagunya.

Memburu Barasuara

Hari ini saya mengulang lagi mendengarkan Barasuara dari pagi sampai malam. Gara-gara Siddha kemarin dapet tanda tangan seluruh personilnya Barasuara di CD Taifun yang baru aja saya dapat buat hadiah nikahan. Karena CD nya saya tinggal di Jogja, akhirnya saya meledakkan telinga dengan mendengarkan konser pertama mereka di Youtube.

Sebenarnya, saya pertama kali denger Barasuara itu adalah di Sounds from The Corner. Ini adalah channel music di Youtube yang sering merekam konser-konser penyanyi indie kesukaan, seperti Raisa (pas masih awal banget), Payung Teduh, Tulus,si jenius musik Ramondo Gascaro, atau band kesukaan sepanjang masa -Sore-, dan masih banyak lagi. Nah, di session #13, gilirannya Barasuara yang tampil. Pertama kali ndengerin langsung komentar “Wah, gila banget nih band. Warna musik, gebukan drum, terus semangat yang ditularkan tu beda banget” Kesan pertama yang sangat membekas sehingga membuat saya secara otomatis mendaulat diri sebagai pendengar setia mereka sejak saat itu.

Karena penasaran, saya mulai cari-cari info tentang band ini. Setelah pencarian yang tidak begitu lama, saya jadi tahu kalau band ini berisi personil nomer wahid. Vokalisnya adalah Iga Massardi, bekas pentolan The Trees and The Wild, salah satu band yang sering saya dengerin, bahkan sampai sekarang pun masih jadi ringtone alarm, dan “Tika and The Dissidents”. Dia bisa dibilang jendral di grup band ini, dengan lirik-lirik yang sederhana tapi menghipnotis para pendengarnya. Vokalis lainnya adalah dua wanita cantik dengan kepribadian menarik yaitu Puti Citara dan Cabrini Asteriska, keduanya sudah punya album yang tidak kalah ciamik juga. Lalu di sektor penggebuk drum ada Marco Steffiano yang adalah drummer di band pengiring Raisa, sementara di bass ada Gerald Situmorang. Nama terakhir sudah banyak malang melintang di dunia jazz sebagai gitaris tetapi di band ini dia didaulat untuk menjadi bassist. Personil terakhir yang namanya kurang familiar bagi saya adalah TJ Kusuma, walaupun ternyata dia adalah orang pertama yang diajak Iga bergabung.

Bicara Barasuara berarti bicara tentang lirik-lirik bahasa Indonesia yang puitis, tetapi mengena dan sangat bermakna. Iga sebagai pencipta lagu, menurut saya berhasil menyampaikan pesan dengan sangat baik di lirik yang dia buat. Walaupun kadang, kita pasti akan mengernyitkan dahi kalau mengulik lebih jauh tentang arti yang tersimpan di dalam lagu-lagu mereka. Tapi siapa yang peduli dengan kesusahan bila kenikmatan sudah terlalu merasuk. Berbalut dengan alunan musik yang menggugah semangat, Barasuara menjadi teman yang sangat tepat untuk menghapus pesimisme dan membangkitkan gairah hidup.

Beberapa lagu mereka berhasil menjadi favorit saya, baik dari segi lirik atau dari aransemen musik. Satu lagu yang saya tahu berlirik bagus adalah “Hagia”. Saya nggak tau pasti artinya Hagia itu apa. Setelah saya telurusuri lebih dalam, ternyata lagu ini tentang agama, iman dan kepercayaan. Seperti yang tertulis dalam lirik mereka “Sempurna yang kau puja dan ayat-ayat yang baca, kita bebas untuk percaya” Sebuah ajakan untuk menghormati pemeluk-pemeluk sesuai dengan Tuhan yang mereka yakini masing-masing. Yang menarik adalah di dalam lagunya ada lirik yang berbunyi “Seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami” Sejenak aku tertegun,lho itu bukannya salah satu kalimat di doa Bapa Kami? Kok bisa ada di lagu itu? Mantap sekali. Mungkin nanti saya akan membuat tulisan khusus yang terinspirasi dari lagu ini.

Satu lagu lain yang menjadi favorit dari segi aransemen musik adalah Menunggang Badai. Menurut saya lagu ini memiliki dinamika yang cukup unik. Agak tenang di awal, lalu mulai menanjak ke bagian tengah, dan mendadak menjadi berjingkrak serta bergemuruh diawali lengkingan dua vokalis wanita. Lagu yang (mungkin) menceritakan tentang  dendam yang terpendam di hati seseorang serta perasaan-perasaan yang menyelimutinya. Saya merasakan ada hawa-hawa kemarahan yang berusaha dipancarkan lewat ini. Seperti mendengarkan devosi orang-orang depresi yang terus-menerus mencari Tuhan dalam keraguan yang tak kunjung sirna.

Bagi saya, Barasuara dan Taifun adalah masterpiece yang sama sekali tidak boleh dilewatkan. Saperti sahabat yang akan selalu setia menyalakan bara yang terancam padam. Mari memburu Barasuara!