Akhirnya

image

Setelah melalui perjuangan panjang revisi sana sini sampai detik terakhir plus deg
-degan gara-gara buku baru jadi malam hari sebelum misa pemberkatan, akhirnya buku ini jadi juga sesuai harapan.

Buku yang isinya cuma cerita-cerita wagu, ra mutu tapi punya kesan yang mendalam utk perjalanan saya dan Nesya.

Terima kasih banyak utk semua teman-teman yang sudah mau susah payah ngewangi saya menyelesaikan buku ini.

Leilani Hermiasih, Timoteus Anggawan, Bonggal Hutagalung, Anastasi Wibowo, Rio Frederico, Rinaldo Hartanto, Yuliana Pujo Setyowati untuk semua goresan warna yang menghidupkan cerita-cerita kami. Juga utk Wilibrodus Bangun yg me-layout dan Kusnindita Noria yg tumben-tumbenan berbaik hati mau nolongin saya, hahaha..

Dan untuk semua yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam cerita kami. Matur nuwun suanget. May the force be with us!

Sampai ketemu di proyek buku selanjutnya!

*bikin apalagi ya?

Rumah Impian Masa Depan

1449552390343

Gerimis baru saja membasahi kota kesayangan ini. Di depan kami, terhidang sepiring nasi goreng istimewa dan bakmi godhog yang terus menggoda untuk dilahap, ditambah dengan segelas es teh manis dan teh hangat tawar yang semakin meleburkan kesyahduan malam. Minggu itu adalah hari-hari terakhir saya berada di Jogja sebelum berangkat untuk menuntut ilmu ke negeri timur. Perpisahan untuk kesekian kalinya. Cinta jarak jauh yang terus berusaha dibina, dikembangkan dan dipelihara sampai tiba saatnya untuk berjumpa.

Malam itu kami berbincang tentang rumah impian di masa depan. Sebuah cita-cita yang entah kapan bisa diwujudkan. Tapi benih-benih mimpi haruslah disebarkan sedari dini, supaya segera bisa dipupuk dengan doa dan kerja keras sehingga buahnya bisa dituai di masa depan.

Kami merasa bahwa kami tidak terlalu suka dengan suasana perkotaan. Kota yang identik dengan keramaian, kegaduhan, ritme hidup yang terlalu cepat ataupun segala macam keribetan khas metropolitan. Apalagi Jogja, yang lambat laun berlari mengejar ketertinggalan demi sebuah modernitas yang hanya menguntungkan para konglomerat ulung. Kota yang tetap berusaha teguh mempertahankan identitas kebudayaannya di tengah gempuran gedung-gedung megah. Kami ingin hidup agak menyingkir dari hiruk pikuk itu. Berangan untuk membangun rumah sederhana di pedesaan, mungkin di kaki Gunung Merapi. Sebuah rumah yang masih dikelilingi oleh lingkungan yang masih alami, dimana kami bisa menghirup udara segar tanpa polusi setiap pagi, dimana gemericik air masih bisa terdengar jelas tanpa terhalang bisingnya kendaraan.

Kota juga seringkali menawarkan sebuah keterasingan yang permanen. Kita secara tidak sadar tercerabut secara emosional dengan keluarga dan orang-orang terdekat. Kesibukan yang seolah tanpa henti membuat keakraban dan canda tawa menjadi tidak lagi berharga untuk diperjuangkan. Ambisi akan uang dan kekuasaan yang kelak akan berbuah penyesalan. Kami ingin melihat anak-anak bertumbuh dewasa, memahami watak dan buah pikirnya sebaik mungkin. Kami ingin terus belajar bersama dengan mereka, menjelajah tiap rasa penasaran dan ingin tahu, menemukan talenta yang mungkin terpendam, ataupun hanya sekedar mendengarkan celoteh imajinatif mereka sebelum tidur. Kami berharap bisa memberikan waktu sebanyak mungkin untuk mereka, memancarkan kehangatan yang membuat mereka tidak pernah lupa rasanya rindu rumah dan orang tua.

Kami selalu beranggapan bahwa tiap pribadi itu unik dan punya sisi otentik yang tidak bisa diperbandingkan. Sedangkan kota terlalu penuh dengan sesuatu yang artifisial. Semuanya dibentuk seindah mungkin supaya orang ternganga kagum, demi sebuah citra yang biasanya tanpa makna. Kami ingin anak-anak bisa menerima diri mereka sendiri, lengkap dengan kelebihan, kekurangan dan latar belakang yang melekat sehingga mereka juga bisa menghargai orang lain berdasarkan sifat kemanusiaannya. Bukan berdasarkan suku, agama, ras, ekonomi, jabatan atau seberapa banyak likes yang mereka dapatkan di sosial media. Kami ingin mereka belajar untuk memandang dan memperlakukan orang lain dengan adil, setara dan tanpa pandang bulu. Kami tidak ingin mereka menjadi orang-orang culas yang tega menjegal orang lain hanya karena ketidaksamaan agama, suku ataupun embel-embel lain yang tidak berguna.

Bagi kami, kota sangatlah lekat dengan kerakusan, keangkuhan ataupun tetek bengek lain yang mengaburkan nilai-nilai kehidupan. Tidak jarang orang tega mengorbankan orang lain demi kepentingannya, mengeruk dan menipu dari orang-orang yang tidak tahu demi keserakahan tidak pernah ada habisnya. Kami sadar bahwa kami pasti tidak bisa menjadi orang tua yang sempurna. Kami butuh orang-orang yang luar biasa yang mewarnai karakteristik anak-anak kami. Kami ingin mereka bisa belajar dari orang-orang hebat penuh kerendahan hati dan sederhana yang sering dicibir oleh orang-orang kota. Belajar tentang kejujuran, kesabaran, keikhlasan, dan ketulusan dalam menolong orang lain. Bahwa hidup bukan melulu tentang pamrih yang akan kita dapatkan, tapi yang lebih penting adalah bagaimana mau berbagi kebaikan untuk sesama.

Rumah ini akan menjadi sumber kebaikan. Yang dibangun dengan fondasi kasih sayang, rasa terima kasih yang meluncur ringan ketika dibantu, jiwa tulus meminta maaf ketika berbuat salah, atau rasa rendah hati ketika meminta tolong. Kami ingin rumah ini menjadi candradimuka, yang menjadi permulaan setiap kebaikan yang memenuhi tiap-tiap sudut kota. Rumah dimana orang bisa mendapatkan pengalaman-pengalaman inspiratif yang tidak hentinya diceritakan.

Biarlah rumah ini merasakan hentakan kaki anak-anak yang belajar menari mengolah rasa, mendengarkan tetabuhan gamelan tiap sore menjelang, menyaksikan pertunjukan tradisional atau sekedar menguping orang-orang yang berdiskusi tentang bagaimana mengubah dunia menjadi lebih baik.

Rumah itulah impian kami, yang tidak perlu mewah, tapi lengkap dengan nilai esensi kemanusiaan yang tidak pernah bosan didengungkan oleh para sesepuh. Rumah sederhana yang membuat orang meyemai rasa bahagia dan kepenuhan jiwa ketika beringsut ke dalamnya. Tempat dimana orang berdamai dengan masa lalunya yang kelam dan lalu menemukan dirinya yang baru lewat pertemuan-pertemuan yang tidak terduga. Inilah rumah kami, candu yang selalu menggoda para perantau untuk selalu pulang.

Mungkin, cita-cita ini masih sangat jauh untuk bisa diwujudkan, tapi kami selalu beranggapan bahwa mimpi itu harus selalu diceritakan, supaya orang lain bisa ikut membantu untuk menjaga nyalanya ataupun mengingatkan bila kami terlupa. Seperti kami selalu percaya sebuah kalimat yang pernah dikatakan oleh Paulo Coelho dalam The Alchemist

“And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.”

Ilustrasi: Adriani Netiasa

Gulana Putus Cinta

KARTUNMatahari baru saja padam tapi bulan telah datang dari celah-celah dedaunan. Kita baru saja beranjak dari gereja, biasanya aku mendadak tenang setelah bertemu Tuhan. Tidak seperti hari ini, ada yang berbeda, tidak ada lagi canda yang mengiringi langkah kita keluar. Hanya ditemani hawa khas taman kota, bau comberan sehabis hujan, bau busuk ikan-ikan yang tak terjual, anak-anak yang merengek minta permen atau suara sayup pedagang yang membujuk tanpa kenal lelah. Hening. Malam itu kamu yang biasanya bertanya, diam membisu. Aku tidak tahu ada apa. Aku mengikuti kamu saja.

Deru vespamu membelah jalanan kota yang belum terlalu jahanam kala itu. Belum ada motor-motor arogan yang seenaknya memotong jalur untuk menyingkat 1-2 detik perjalanan. Tega mencemplungkan orang lain pada bahaya. Aku memegang erat pinggangmu, seolah ini adalah pertemuan terakhir yang tidak bisa terelakkan. Aku hanya bisa bergumam. Mau kemana kita?

Kita berhenti di toko es krim paling tua di kota ini. Mungkin kamu ingin mengajak bernostalgia, merayakan hubungan yang sudah hampir 2 tahun lamanya. Tapi, ini bukan seperti biasanya. Aneh. Aku tidak mengenal suasana ini. Kamu tidak pernah mengajakku mengingat apa yang sudah kita lakukan. Kamu terlalu sibuk mengurusi dirimu, melingkari diri tiap detik dengan angkuh yang tak sudi diusik, sibuk berkata tentang banyak hal dengan logika-logika rumit yang tidak bisa kupahami. Apa ada aku disana? Entahlah. Mungkin tidak.

“Kamu mau pesan apa, Nes?” Kesunyian mendadak pecah dengan kata-kata paling dingin yang pernah meluncur dari mulutmu, seolah berbicara pada orang asing. Aku menjawab seadanya. Aku mulai tahu. Kalau kamu sudah sedingin ini. Sesuatu yang buruk hanya tinggal menunggu waktu. Aku mulai bisa merangkai tanda-tanda yang kamu perlihatkan sebulan ini. Tiba-tiba berdendang lagu “Dahulu” milik The Groove di beranda rumah, menghindar sebisa mungkin untuk berkunjung di malam minggu, atau kabar yang kamu kirimkan hanya beberapa hari sekali.

Tidak ada obrolan hangat malam itu. Kamu seperti sibuk menyiapkan ceramah untuk mengurangi luka hati. Membalut kata-kata menyakitkan yang seolah-olah indah. Aku tahu kamu pandai untuk berbahasa, tapi sama saja. Itu tidak akan mempan kepadaku.

                                           “Kita putus aja ya…”

Aku mendadak terbuyar dari lamunanku. Ketakutan yang akhirnya menjadi kenyataan. Kamu berbicara lancar sekali, seolah sudah sangat terencana sehingga hanya tinggal mengeksekusi. Tidak ada keraguan dalam nada bicaramu. Dingin dan kaku. Aku tercekat. Diam. Bahkan es krim yang selalu bisa menggugahku, kubiarkan mencair tanpa pernah kusentuh.

Pasrah. Hanya itu yang bisa aku lakukan malam itu. Aku masih bingung kenapa kamu ingin pergi dariku. Aku sudah sebisa mungkin menjadi pacar yang baik, mendengarkan setiap keluh kesahmu tentang hidup yang tak tentu arah atau sekedar sumpah serapah tentang semua hal yang tak mengenakkan. Tapi sepertinya itu tidak cukup bagimu. Tampaknya,  aku memang tidak akan pernah bisa menjadi seperti wanita yang kamu inginkan, tidak akan pernah.

Kamu mengantarku pulang seperti malam-malam biasanya. Tapi kali ini, semua mendadak senyap. Aku hanya bisa menatap kosong kerlip lampu sepanjang jalan. Pikiranku melayang entah kemana. Membayangkan hari-hariku yang akan berlalu tanpamu.

Di depan rumahku, kamu berpamitan tanpa menyiratkan pertanda akan kembali. Sayap-sayapku tega kamu patahkan, demi kamu bisa terbang seorang diri. Mencari wanita lain mungkin. Dan perlahan kamu berbalik, wajahmu pudar tersapu angin malam yang tidak kenal ampun. Cahaya kunang-kunang pun sirna tanpa sebab. Bebunyian seolah hilang tak berbekas. Menemani sepi yang semakin tak terperi.

Hatiku mendadak kesat, tercerabut asa dari akarnya, seperti para pelahap maut yang dengan rakus menyantap bahagia di cerita kesukaanku. Aku bahkan tidak sempat untuk mengusap air mata. Tersambar sosokmu yang sekelebat pergi, menafikan segalanya yang telah kita lalui. Kini seluruhnya hanya tinggal kenangan yang terselimuti kelamnya malam.

Kamu pun menghilang dari halaman rumahku, meninggalkan imaji tentang punggung yang selama ini sering kupakai untuk bersandar. Tidak ada lagi telinga yang setia mendengar, tidak ada lagi mulut yang senantiasa menimpali, dan tidak ada lagi wujudmu yang menunggu kedatanganku tiap akhir minggu. Tidak ada yang abadi di dunia ini, seperti itulah aku berusaha memaklumi.


Beberapa bulan berlalu, aku masih terkungkung dalam kenangan tentangmu.Aku tidak tahu apakah kamu masih peduli padaku. Ah, paling kamu sudah asik bersenang-senang mencari cinta yang baru. Tidak seperti aku disini. Banyak yang mencoba untuk merebut hatiku. Tapi bagaimana mungkin aku berpaling, bila di saat yang sama aku masih sering berziarah ke pusara kita, sekedar membersihkan debu dan lumpur, menaburkan bunga-bunga untuk membuatnya tetap wangi atau sekedar mencecap kenyataan pahit yang harus aku lewati.

Kala itu, aku memiliki kesempatan untuk bertemu denganmu di pertemuan antar mahasiswa yang akan diadakan di Bali. Aku terlalu bersemangat, hanya bisa melihatmu saja aku sudah senang. Aku tidak butuh perbincangan tentang romantisme masa lalu bila kamu memang tidak mau mengungkitnya. Biarlah masa lalu menyimpan rahasianya, seperti air mata yang masih mengalir di sini.

Aku kira aku akan bahagia, tapi lagi-lagi aku harus kecewa. Entah apa yang ada di kepalamu. Mendadak aku mendengar kabar kalau kamu membatalkan kepergianmu. Sekedar melarikan diri atau acuh yang kunjung kembali? Aku tidak bisa berbuat apapun. Kamu yang keras kepala tidaklah mungkin tergoda oleh bujuk rayu. Lagipula siapa aku?

Di Bali, aku hanya bisa menikmati suasana sambil membayangkan ada kamu yang tergelak tak tahan melihat gurauan teman-teman. Kamu yang senantiasa sinis tetapi juga punya sisi manis pada saat tertentu. Kamu yang jarang sekali melemparkan senyum, tapi terkadang bisa jadi sangat romantis. Dan semua kenangan tentangmu mendadak terputar dengan kencang di kepalaku. Aku ingin kamu ada di sini. Tapi apa dayaku?

Mungkin aku memang ditakdirkan seperti ini, memendam cinta seorang diri. Seperti dulu, dimana aku hanya bisa berdiam diri melihatmu menaruh cinta dan perhatian pada sahabat baikku. Tidak ada yang bisa aku lakukan, kamu sudah tidak akan mungkin tergapai. Aku sudah merelakanmu pergi sekali lagi, membawa harapanku hilang meninggalkan jiwa yang tak lagi bertanya. Dalam damainya pulau Dewata, aku hanya mampu berdoa, menguatkan hati dan memohon pada Tuhan

                                       “Semoga ini hanya koma………..”

Ilustrasi: Yuliana Puji Setyowati

Memahami Kami di Rinjani

KARTUN 2“I have found out that there ain`t no surer way to find out whether you like people or hate them than to travel with them.” (Mark Twain)

Bagi sebagian orang, perjalanan menjelajah tempat baru dengan tantangan yang tidak terduga mungkin terasa melelahkan. Terlalu enggan untuk beranjak dari singgasana sembari memencet remote tv dengan segenggam cemilan di tangan.   Tapi bagi kami, perjalanan adalah sebuah oase yang menyegarkan, reflektif, memberi pencerahan dan tidak jarang menyelamatkan kami yang sudah berada di tepi jurang perpisahan.  Perjalanan yang tidak selalu diiringi oleh keriangan, tetapi sering dihiasi oleh kemarahan, argumentasi tanpa henti atau kegusaran tanpa dasar. Tiap perjalanan mempunyai cerita yang tidak mungkin terlupakan, memberi pelajaran yang sangat berharga sekaligus menguak sisi lain kepribadian masing-masing dari kami.

Pendakian Rinjani adalah salah satu tonggak perjalanan yang sangat mengesankan. Bagi Nesya, gunung adalah taman bermain yang sangat menyenangkan. Aktivitas pendakian yang dilakukan dengan kelompok pencinta alam di kampusnya menuju gunung-gunung tertinggi pulau Jawa telah membuatnya menjadi pendaki yang tangguh. Saya masih ingat bagaimana mukanya yang menghitam, legam, berdebu sambil menenteng tas gunung ketika saya menjemputnya sepulang dari mendaki Gunung Semeru. Dia terlihat kepayahan, tapi raut mukanya menunjukkan kepuasan yang tidak bisa tergambarkan karena berhasil menaklukkan medan yang sangat sulit. Begitulah dia, wanita paling tegar yang membimbing saya menuju puncak gunung tertinggi ketiga di Indonesia.

Saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan melakukan ini lagi. Setelah pengalaman buruk pada pendakian pertama di Gunung Lawu. Saya tidak yakin akan bisa menaklukkan gunung yang jauh lebih tinggi. Rasa ragu muncul apakah saya bisa melampaui tantangan ini. Tapi Nesya berkali-kali berkata bahwa gunung ini bisa ditaklukkan. Tidak mudah memang, tapi bukan suatu hal yang mustahil. Saat itu saya tidak bisa membayangkan medan yang sangat berat dan konsekuensi yang akan saya hadapi, sehingga saya mudah sekali teryakinkan oleh apa yang Nesya katakan. Ini mungkin keputusan terbodoh yang masih bisa saya syukuri pada saat ini.

Terjadilah apa yang sudah diputuskan. Saya berangkat berdua menggunakan bis malam ke Surabaya dilanjutkan dengan penerbangan ke Lombok. Persiapan terakhir pun dilakukan, kebetulan ada teman-teman yang sedang internship di RSUD Selong, wilayah paling dekat menuju kaki Rinjani, juga turut membantu kelengkapan logistik kami. Sampai sini pun saya belum bisa membayangkan betapa terjalnya medan yang harus dilalui menuju puncak.

Pendakian pun dimulai pukul 3 sore. Kami beruntung bisa menumpang mobil yang akan menjemput pendaki yang terkilir ketika turun gunung, cukup mempersingkat waktu. Sejauh mata memandang, terhampar sabana luas terbentang tersapu cahaya temaram menjelang senja. Perjalanan masih terasa menyenangkan, tidak terlalu menguras tenaga karena pikiran tersita oleh indahnya lukisan alam sang Pencipta. Menuju pos 1, saya sudah hampir menyerah karena jalanan mendaki yang tak kunjung henti, terbersit keinginan untuk mengakhiri, tapi Nesya menguatkan untuk terus berjalan walau perlahan. Akhirnya, menjelang malam, kami pun sampai di pos 2. Melepas lelah setelah seharian perjalanan. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda.

Siksaan yang sebenarnya dimulai keesokan harinya. Bukit Penyesalan sudah terhidang di depan mata, siap untuk disantap. Bukit ini terdiri dari 7 bukit yang teduh namun sangat melelahkan. Kita akan bergulat dengan rasa menyesal karena berani mencoba menaiki gunung ini. Berulang kali saya meminta Nesya untuk memperlambat langkah, demi menarik nafas dan sedikit mengisi tenaga. Saya yakin dia pasti jengkel karena pace dan stamina saya yang sangat buruk sehingga dia harus kehilangan banyak waktu untuk bisa segera sampai di pos terakhir sebelum puncak. Itulah hebatnya Nesya, mungkin dia sebal, tetapi dia tetap sabar untuk mendampingi saya yang berkali-kali kepayahan Dia tetap memberikan semangat dan dukungan untuk tidak menyerah. Saya mencoba sebisa mungkin untuk menghilangkan rasa lelah di pikiran dengan menikmati setiap langkah yang saya lakukan. Namun, tanjakan yang seolah tanpa ujung membuyarkan setiap fantasi yang tercipta.  Sia-sia.

6 jam penuh penderitaan berakhir di Plawangan Sembalun, pos terakhir sebelum menuju puncak. Kami akan mulai berjalan menuju puncak pada dini hari. Diiringi dengan dingin yang menusuk kulit dan berbalut jaket berlapis, kami berangkat demi mengejar momen istimewa matahari terbit. Perjalanan yang akan menghancurkan diri saya berkeping-keping akan segera dimulai.

Saya mengira bahwa Bukit Penyesalan adalah puncak siksaan, tetapi anggapan itu musnah dalam 20 menit perjalanan di punggung bukit. Saya berkata pada Nesya bahwa saya tidak mungkin berhasil melewati medan seberat ini, berpasir, untuk melangkah saja rasanya seperti harus mengangkat beban 10kg di pergelangan kaki. Saya mendadak tidak terlalu berselera dengan iming-iming keindahan puncak gunung. Sudah cukup, saya tidak mau meneruskan lagi.

Nesya tidak berkata apa-apa. Dia hanya menggenggam tangan saya, mengajak untuk menapak sedikit demi sedikit melewati jalanan pasir berbatu. Tiap kali tangan saya menarik, dia berhenti, membiarkan saya menghela nafas, lalu kembali menguatkan genggaman dan terus berjalan. Itulah dia, yang dalam diam berhasil menghasut saya untuk bangkit. Dia yang dalam lelah terus menjaga harapan akan kenangan indah yang akan terpatri selamanya di pikiran.

Jam demi jam terlalui, sudah hampir 5 jam saya berjalan menuju puncak. Saya sudah terpisah cukup jauh dengan Nesya. Setelah mencapai jalan yang tidak terlalu berpasir, dia mulai mempercepat langkah, mengatur ritme, dan meninggalkan saya yang masih berjalan dengan kecepatan setara siput. Kerikil-kerikil bercampur pasir dengan lebar hanya 4 orang dewasa berjejer bukanlah permadani indah untuk menyambut kemegahan mentari pagi. 200 meter menuju puncak adalah titik paling rendah yang pernah saya rasakan. Banyak pendaki yang memilih menyerah dan turun gunung karena beratnya medan yang harus dilalui. Setelah berjalan sekitar 10 langkah, saya memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Saya berkata “Ini puncak saya”. Saya pun bersandar di batu, berusaha melepas lelah dengan memotret.

Salah seorang pendaki yang berangkat bersama dengan kami tiba-tiba menyapa “Mas, udah ditunggu pacarnya di Puncak ya…” Saya membayangkan Nesya, yang duduk sendirian, menanti tanpa kepastian apakah saya akan mencapai puncak atau tidak. Saya memutuskan untuk mendaki kembali, tetapi tampaknya itu hanya dorongan sesaat. Saya kembali menyerah, terduduk, putus asa. Saya kembali berkata “Ini puncak saya”. Tetapi lagi-lagi, ingatan saya memutar kembali apa yang Nesya selalu katakan pada saya  sepanjang perjalanan “Nggak papa kamu jalan pelan-pelan yang penting kamu nggak berhenti sampai tujuan” Saya kembali melangkah setapak demi setapak. Pertarungan ini hanya tinggal diselesaikan dengan kekuatan mental dan pikiran. Hanya tinggal semangat dan keyakinan yang mampu membuat saya untuk bangkit setiap terduduk menyerah.

Akhirnya, setelah pertarungan menyerah-bangkit sebanyak delapan kali. Saya melihat Nesya sedang menyapu pandangan, terpesona magisnya Segara Anak dari Puncak Rinjani. Dia tertawa kecil melihat saya merangkak menuju tempatnya bercengkrama dengan alam. Rasa lega tergambar jelas di wajahnya. Penantiannya tidak sia-sia. Entah apa yang membuat dia tetap menunggu disana. Memelihara percaya dan tidak goyah diterjang angin kencang puncak gunung.

3726 mdpl. Di situlah saya memeluk erat wanita yang selama perjalanan membuat saya semakin kagum. Dia yang sebenarnya bisa mempecundangi saya dengan mudah dalam pendakian, memilih menyingkirkan egonya untuk tetap berjalan di sisi, merendahkan hati untuk mau menolong saya bangkit dari keterpurukan yang berulang kali menerpa. Dia yang terus meyakinkan untuk terus berjuang mencapai puncak. Dia yang mengajarkan untuk tidak pernah berhenti melangkah sebelum berhasil menggapai impian. Dia yang selalu percaya bahwa kegagalan akan menjadi ajang penempaan untuk menjadikan manusia yang lebih tangguh. Dia juga yang berulang kali menyalakan lentera harapan, ketika putus asa sudah terlampau pekat untuk dienyahkan.

Dan berkat dia pulalah, saya berani berkata “Mari menantang dan menaklukkan dunia bersama-sama!”

Ilustrasi: Yuliana Puji Setyowati

Dunia Dalam Sebentang Jarak

 

Aku wanita yang tidak ingin jauh darimu

Tetapi dia memaksaku, menggeretku, merengkuhku untuk menjauh

Aku berteriak ingin tetap di sini, ingin tetap bersamamu

Tapi sia-sia dia tidak mau mendengar

Kamu pun tidak bisa berbuat apa-apa

 

Aku lelah….

Ingin rasanya menyerah saja dan terbawa olehnya

Dia menggeretku ke dunia dengan sebentang jarak menjauh darimu

Dunia penuh ambisi dan harapan akan masa depanku

Dunia yang harus aku lalui sendiri

Dunia yang berbisik mengucapkan janji-janji padaku

Dunia yang membuat ragu dan bertanya

 

“Haruskah aku terus berontak, menoleh ke belakang untuk dapat melihatmu yang mungkin tergeret menjauh pula olehnya sampai tak terlihat?”

 

Aku memang pemberontak yang mencintaimu

Dengan sekuat tenaga aku akan melawan

Terjatuh…terbawa…tergeret…aku hilang…aku kembali

Berusaha menggapai tanganmu

Ingin rasanya membawaku ke duniaku

Tapi…tidak…tidak mungkin

 

Biarlah ada duniaku dan duniamu…

Dunia dalam sebentang jarak

Biarlah dia menggeretku sampai suatu titik dimana dia merasa lelah

Titik dimana aku bisa melihat duniamu dan melihat masa depanku

 

Dalam duniaku…dunia dalam sebentang jarak

Dunia milikku dan dunia milikmu

Duniaku dan duniamu

Aku dan kamu

 

Cinta…………dalam sebentang jarak

 

*saat aku terbangun dan memikirkanmu
Solo 140806 03:06

 

Petuah dari Simbah

pink_illustration“Pagiiii….” Kami berteriak kencang sambil mengetuk pintu begitu menginjakkan kaki di rumah bersejarah ini.

Tidak lama berselang, seorang wanita tua menyahut dari dalam

“Iya sebentar…”

“Wahhhh…Nesya sama Pink..masuk-masuk, kalian pasti nggak bisa tidur semalaman, sini tak buatin teh anget…”

Kami selalu terngiang dengan rumah ini, terutama dengan kehangatan yang selalu terulang. Simbah yang selalu menyambut dengan rentangan tangan. lengkap dengan keriput yang sudah terlalu kentara menghiasi wajahnya. Kami pun membalas dengan pelukan yang lebih erat, mungkin agak terlalu keras, tapi kami tidak bisa menahan rindu. Kami ingin segera duduk sambil bergelanyut manja sembari mencurahkan segala keluh kesah yang lalu berakhir mendengarkan wejangan penuh makna tentang bagaimana menjalani hubungan. Bagi kami, engkau berdua adalah pemberi petuah paling ampuh sepanjang masa. Walaupun kami jarang bertemu, tapi cerita turun temurun tentang teladan yang engkau ajarkan selalu menjadi warisan yang tidak pernah dilupakan.

Kami selalu senang menyaksikan engkau berdua duduk menikmati sore sambil berbincang ringan sembari berkomentar tentang tetangga yang lalu lalang di depan rumah. Hal sederhana yang sudah engkau lakukan sejak berpuluh tahun lalu. Di saat itulah, kalian membagi pikiran, rasa dan jiwa berusaha untuk membaurkan yang terpisah menjadi satu kata.

Mungkin karena kebiasaan itulah, kami tidak pernah sekalipun melihat engkau berdua berselisih paham. Geram yang terpendam tidak lantas terlontar dalam umpatan yang menyakitkan. Engkau berdua selalu tahu bahwa gusar tidak harus diakhiri dengan makian kasar yang akan berujung dengan rasa terhina. Kemarahan tidaklah pantas untuk disebarkan, hanya kasih dan kelembutan yang layak untuk ditularkan, begitu pesanmu pada kami.

Rumah ini adalah saksi bisu sebuah kesetiaan. Walaupun dulu harus sering terpisah karena berjuang dalam perang, tetapi komitmen untuk saling menghargai dan menjaga janji sehidup semati tetap dipegang erat.  Ibu pernah berkata bahwa simbah putri tidak pernah lupa untuk menyiapkan baju dinas dan memasangkan pangkat setiap pagi. Bahkan, anak-anaknya pun tidak pernah diminta untuk menggantikan tugas itu. Kata simbah putri, itulah tanda kasih, pengabdian dan kesetiaan seorang istri kepada suami yang tidak mungkin digantikan oleh siapapun.

Engkau juga mengajarkan pada kami bersyukur untuk setiap nikmat yang didapat.  Selalu menyadarkan bahwa ada banyak orang yang lebih tidak beruntung di luar sana. “Urip iku kudu sakmadya” itulah kalimat yang selalu engkau ingatkan pada kami, bahwa hidup harus juga dijalani dengan secukupnya, tidak perlu terlalu berlebihan.

Engkau pernah berkata bahwa cinta adalah bahasa paling sederhana. Tak perlu puja-puji elok ala pujangga karena cinta melebihi itu semua. Menemani sarapan, berjalan-jalan menikmati indahnya pagi, menyapa dengan senyum merekah, berdoa bersama menyambut senja yang menghilang perlahan ataupun pijatan-pijatan kecil untuk menghilangkan penat yang melanda. Sesederhana itu kalian berbahasa.

Terlalu banyak yang bisa kami pelajari dari engkau berdua. Bahkan hanya dengan mengamati, kami tahu bahwa cinta kalian tidak pernah padam sampai lanjut usia. Cinta yang tak sekedar kata-kata, tapi memberi rasa dengan sepenuh jiwa. Cinta yang tidak melulu tentang diri sendiri, tapi melayani dengan sepenuh hati. Cinta yang tidak pernah mengekang, tapi saling mengembangkan. Cinta yang walau dalam diam, tapi senantiasa menyala.

Kami beruntung bisa bersamaan dalam ruang dan waktu dengan engkau berdua, belajar tentang kesabaran, rendah hati, pengorbanan, saling memahami, dan serangkaian nilai-nilai kebaikan yang akan menjadi pengingat paling berharga untuk menjalani petualangan yang penuh rintangan ini.

Dan hari ini, ijinkanlah kami mereinkarnasi cinta kalian di hadapan Tuhan. Mengucap janji suci untuk tetap setia dalam suka dan duka sampai maut memisahkan kami berdua. Amin.

Ilustrasi: Rinaldo Hartanto

Awal Mula Romansa

“Rrrrrnnnggggg……” Bel tanda pulang sekolah berbunyi dengan nyaring. Serentak, semua perempuan di kelasku berteriak dan bergegas meninggalkan mejanya. Wajar saja, hari itu adalah hari Sabtu. Setelah berlelah-lelah mempersiapkan ujian semester bulan depan, akhir minggu adalah waktu paling tepat untuk bersantai. “Nes…ayo cepet..nanti tukang mie ayamnya keburu diserbu anak-anak..” Aku pun segera beranjak dan berlari menuju tukang mie ayam langganan di depan sekolah.
“Pak..mie ayam kaya biasanya ya..” ujarku. “Siap..tunggu 5 menit yaaa..maklum banyak antrian..” Sembari menunggu, aku pun duduk bersama teman-teman, obrolan khas perempuan, tidak jauh dari gosip dan lelaki.

Continue reading “Awal Mula Romansa”