Emang harus meminta?

Belakangan, ada satu konsep yang saya masih agak bingung. Ini bermula dari apa yang ditulis di kitab suci dengan apa yang saya pahami tentang kebesaran Tuhan. Kebingungan tentang apa yang harus diucapkan dan didaraskan ketika kita berdoa. Sederhana ya, hahaha. Tapi bikin kepikiran.

Di kitab suci ada sebuah ayat yang berbunyi “”Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah , maka pintu akan dibukakan bagimu.” Saya pikir-pikir, ini kok agak melenceng dari apa yang saya pahami ya. Konsep yang saya pegang adalah Tuhan itu bukan seperti layaknya orangtua kita yang tidak bisa membaca pikiran. Dia kan dipercaya sebagai Mahatau, jadi ya apa masih perlu meminta apa yang kita inginkan. Wong Beliaunya kan sudah tau tanpa perlu kita minta toh?

Terlalu terfokus pada apa yang kita minta, sering membuat kita lupa untuk bisa berterima kasih atas apa yang sudah kita punyai. Kita disibukkan oleh keinginan memiliki apa yang tidak kita punyai. Bagi saya, doa itu adalah sarana untuk mengucap syukur. Nggak usah berdoa yang panjang-panjang, meminta ini itu, tapi malah nggak berucap syukur sama sekali. Kita terlalu sering mengeluh terhadap apa yang sudah terjadi dalam hidup. Padahal kalau mau dipikir-pikir lagi, sebenarnya tidak ada lagi ruang untuk berkeluh kesah lho.

Kalau masih bisa mengakses tulisan ini, berarti paling tidak, kita masih diberi kesehatan, masih bisa bernafas dengan bebas, masih bisa bangun dengan badan yang segar,masih bisa berjalan dengan dua kaki, masih bisa makan pakai mulut, dan berbagai macam berkah lainnya. Kondisi yang sering kita pikir, take for granted, padahal ya enggak gitu juga. Kalau ditelisik lebih lanjut, hal-hal sederhana yang sering kita lewatkan untuk disyukuri. Coba kita udah nggak dikasih tubuh yang sehat, kalau nafas harus dibantu ventilator atau tabung oksigen. Nggak nyaman sekali bukan?

Dulu, saya pernah lihat videonya siapa saya lupa, dia membuat tantangan untuk mengucapkan terima kasih setiap malam sebelum beranjak tidur. Kata dia, dengan bersyukur dan memberikan sugesti positif pada diri sendiri, maka hal-hal baik akan menghampiri dan hal-hal negatif akan menjauh pergi. Hmmm..cukup menarik sih idenya…

So, what is good today?

Nafsu Berdebat

Kemarin malam, saya iseng-iseng melihat kembali timeline facebook pas jaman-jamannya pemilu presiden tahun 2014. Salah satu status yang kurang lebih berbunyi “Saya nggak bisa membayangkan Indonesia akan berlumuran darah bila Prabowo jadi presiden” memantik komentar teman-teman untuk menanggapi status tersebut sekaligus berdebat seru terkait isu-isu yang sedang hangat waktu itu. Komentarnya pun mencapai 423 buah, edan lho. Banyak banget. Saya sampai nggak habis pikir kok bisa ya pada saat itu kita punya nafsu berdebat dan merasa paling benar yang sebegitu besar.

Pagi ini, saya ngobrol dengan Nesya. Dia bilang kalau kayanya sebelum pemilu tahun 2014 itu, facebook dan kolom komentarnya tidak seramai sekarang. Orang-orang juga kayanya santai-santai aja menanggapi isu-isu yang sedang hangat dibicarakan. Nggak kaya sekarang. Setiap isu yang muncul pasti dijadikan ajang untuk berdebat menunjukkan opini siapa yang paling benar. Saya jadi bingung, apa manfaat yang bisa didapatkan dari berdebat di sosial media? Nggak ada juga deh kayanya. Itu saya anggap lebih kepada pemuasan ego pribadi bahwa kita bisa melecehkan opini atau cara pikir orang lain. Kayanya kita bisa sangat tertawa puas kalau bisa melampiaskan emosi atau pemikiran kita di kolom komentar. Debat kusir yang terjadi berkepanjangan tanpa juntrungan.

Yang paling kentara adalah kita sering menempatkan asumsi sebagai sebuah fakta. Dan kita bisa habis-habisan membela asumsi yang kita bangun tanpa pernah mau menelisik lagi tentang sejarah/latar belakang/fakta yang ada. Pokoknya apa yang terlontar dari mulut sudah secara otomatis akan berubah menjadi fakta. Kita sangat jarang mau menerima opini dan sudut pandang orang lain. Padahal akan jadi diskusi yang sangat asik, berbobot dan menambah wawasan kalau mindset yang muncul adalah bukan untuk menghakimi orang lain. Sayangnya, nggak banyak yang bisa berpikir seperti itu.

Saya selalu diajari untuk melakukan sesuatu berdasarkan konsep ini: AKSI-CERNA-SADAR-REAKSI. Itu adalah urutan yang, lupa siapa yang ngajarin, saya hidupi sampai saat ini. Sayangnya, orang Indonesia lebih sering nge-skip CERNA-SADAR sehingga begitu ada aksi ya bakal langsung bereaksi. Nggak pake dicerna dulu maksudnya apa, konteksnya dalam hal apa, pokoknya langsung dikomentari dulu. Nggak mau sadar dan peduli tentang ekses yang akan ditimbulkan dari komentar atau ucapan yang sudah terlontar. Alhasil, banyak banget kasus-kasus yang muncul gara-gara sumpah serapah yang terlontar tidak pada tempatnya. Payah.

Ya, emang gitu deh kayaknya. Setelah pemilu presiden tahun 2014 kita berubah drastis jadi masyarakat yang sangat reaktif. Kok kayaknya nggak puas banget kalau belum mengatakan apa yang ada di dalam pikiran. Nggak peduli apakah itu bakal menyakiti atau melukai hati orang lain. Yang penting, apa yang dipikirkan nggak mengendap jadi kerak di kepala.

Dulu banget, saya pernah diskusi sama Datu. Kita sama-sama berkesimpulan bahwa asumsi akan tetap menjadi asumsi sampai kita bisa membuktikan hal tersebut dan mengubahnya menjadi sebuah fakta. Kita nggak bisa menempatkan asumsi yang terbangun dari perspektif kita yang terbatas ini sebagai sebuah fakta yang tidak boleh dibantah. Kita kan diajari pada saat kuliah, sistematika berpikir yang harusnya dibawa dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika ada masalah maka kita akan mencari latar belakang permasalahan tersebut, baru kita bisa membangun asumsi, kemudian melakukan investigasi untuk membuktikan asumsi tersebut, membuat kesimpulan, baru kemudian menyampaikan itu kepada khalayak. Pola pikir yang tampaknya sudah sangat jarang diterapkan oleh orang-orang belakangan ini.

Kuncinya sebenarnya hanya satu, RENDAH HATI. Dengan menjadi pribadi yang rendah hati, kita bisa lebih gampang untuk mencerna apa yang orang lain pikirkan atau katakan. Kita jadi punya ruang yang cukup lapang untuk memahami apa dan kenapa orang tersebut bisa berpendapat seperti itu. Tidak melulu selalu menuruti nafsu berdebat yang dibalut dengan arogansi yang berlipat-lipat.

So? Kalem wae. Hahaha.

^^Y

Walau Hanya Sekedar Selamat Ulang Tahun

Awal bulan ini, saya kebetulan diberi kesempatan untuk bisa merayakan ulang tahun yang kesekian kalinya. Sebuah berkat yang harus disyukuri karena masih diberi kesehatan, rejeki, dan berbagai macam berkah lainnya. Waktu itu, banyak teman dan kerabat yang mengucapkan selamat, terutama lewat facebook. Ya, lebih karena di sosial media tersebut ada reminder utk memberitahu ulang tahun seseorang sih kayaknya, haha… Tapi, saya pikir ada sebuah dinamika yang cukup menarik utk diamati terkait dengan cara orang merayakan dan merasakan ulang tahun berdasarkan jenjang usianya.

Dulu pada waktu masih kecil, kita bakal seneng banget kalau pas ulang tahun ada pesta meriah. Ada yang dipestakan di restoran fast food (payah abis…) lengkap dengan berbagai dekorasi yang mewah plus hiburan ini itu. Mengundang teman-teman sekelas, diberi kado yang banyak, dll. Hal-hal itulah yang membuat kita bahagia pada saat itu.

Saya sendiri cuma pernah satu kali merayakan ulang tahun, pas kelas 4 SD, itupun hanya mengundang teman-teman main di sekitar rumah utk makan bareng. Kenapa kok nggak dirayakan tiap tahun? Alasannya adalah MALU. Hahaha. Dulu mikir, aku ki malu dan males e kalau ulang tahun harus pake dirayakan, aneh gitu rasanya.

Menginjak waktu SMP dan SMA, perayaannya beda lagi. Biasanya bakal ada kejutan rusuh dari teman-teman berupa guyuran tepung campur telor campur tanah dan campur-campur yang lainnya. Bahkan dulu di SMA, salah satu temen ada yang ditelanjangi sampai cuma bersisa cawet doang, alhasil dia pun harus manjat pohon di tengah lapangan utk menghindari keberingasan para pelahap maut, hahaha. Kasian bgt, tapi lucu.

Disadari atau tidak, semakin tua kita akan semakin menjauh dari sahabat-sahabat terdekat. Bisa karena tempat tinggal, tempat kerja, dll. Sahabat-sahabat saat sekolah sudah disibukkan oleh keluarga, karier, atau teman-teman yang baru. Tidak jarang pula, kita gagal mendapatkan sahabat “pengganti” yang bisa mengerti situasi kita dalam suka atau duka. Kondisi ini rentan menjerumuskan kita pada perasaan kesepian yang bisa berujung pada stres berkepanjangan dan depresi.

Lalu apa hubungannya kondisi ini ucapan selamat ulang tahun?

Situasi kesepian dan kesendirian tsb akan menghantui setiap kita akan merayakan ulang tahun. Kadang muncul pikiran “Masih ada nggak ya yang bakal inget ulang tahunku, ngasih selamat atau ngasih kado? Ah, paling-paling juga cuma sedikit” Nah, pikiran-pikiran tsb akan lebih menjatuhkan mental kita pada tataran ke-tidakeksistensi-an dalam kehidupan. Perasaan dilupakan, tergantikan, atau dihubungi hanya ketika orang lain butuh, pasti akan langsung menggelanyut dan terbayang-bayang. Susah banget lho kalau sudah jatuh dalam situasi kaya gitu.

Maka dari itu, walaupun saya juga kadang masih merasa malas dan enggan, kita bisa mulai untuk turut membantu dan memperhatikan orang lain hanya dengan mengucapkan selamat ulang tahun. Sederhana bukan? Kelihatannya sih sederhana, padahal dampaknya bisa sangat besar untuk diri kita sendiri atau orang tsb.

Kita bisa menjalin kembali komunikasi yang sempat terputus karena jarak dan waktu, syukur syukur kalau obrolannya bisa berlanjut ke masalah kerjaan, kan malah bisa mendatangkan rejeki kan? Atau kita malah bisa mendapatkan ilmu baru dari teman-teman lama yang tentunya sudah berhasil berkembang dalam kepribadian atau karier. Banyak manfaatnya lho ternyata. Kayanya cuma hal yang remeh-temeh gitu.

Saya sadar secara penuh bahwa pada dasarnya manusia itu senang diperhatikan (tentu dalam taraf yang sewajarnya). Perasaan diperhatikan secara tidak langsung akan berpengaruh pada pikiran positif orang tsb. “Oh, ternyata masih ada orang yang inget sama aku to?” Ya gitu gitu deh..hahaha..

Yuk dimulai, lagian nggak ada ruginya juga to?

^^Y

Gagal Mendidik Rasa Penasaran

Sekitar seminggu yang lalu, saya pergi dengan Walter dan anaknya yang bernama Aisha. Dia berumur 6 tahun (kalo nggak salah) dan baru saja masuk SD. Sepanjang perjalanan di kereta, dia nggak bisa berhenti bertanya. Dia bakal bertanya tentang apapun topik yang saya dan Walter sedang perbincangkan. Selalu ada pertanyaan “Kenapa kok kaya gitu? Siapa yang melakukan itu?” dan segala macam pertanyaan polos khas anak kecil yang terkadang kita sulit untuk menjawabnya.

Saat saya mengingat-ingat pengalaman lucu tersebut, saya jadi sadar bahwa semakin dewasa kadang kita menjadi malas untuk bertanya tentang hal-hal yang sudah sangat biasa kita lakukan. Ada sebuah kecenderungan yang secara tidak sadar terbentuk dalam diri kita bahwa bila kita sudah masuk ke dalam sebuah sistem yang rigid, maka pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari diri kita akan dianggap sebagai sebuah bentuk pembangkangan, walaupun mungkin saja itu bisa diletakkan dalam konteks untuk pengembangan perusahaan atau organisasi. Orang biasanya akan enggan untuk bisa mempertanyakan kembali apa yang sudah dia tahu, keluar dari zona nyamannya, dan menciptakan perubahan-perubahan yang sebenarnya akan membuat kehidupan menjadi lebih baik.

Saya mendadak menjadi takjub dengan kemampuan Aisha dan anak-anak sepantarannya yang selalu penasaran dengan apa yang dia lihat, dengar atau rasakan. Rasa penasaran yang harusnya tetap dipelihara sampai seumur hidup. Saya pikir-pikir pendidikan memegang andil yang cukup besar terhadap kerdilnya rasa penasaran orang Indonesia. Kalau saya ingat-ingat lagi, dari SD sampai menjejak ke bangku kuliah, jarang banget ada momen dimana siswa mengajukan pertanyaan ketika pelajaran/kuliah usia. Biasanya, kita akan pura-pura sibuk, tengak-tengok sana sini, menundukkan kepala, dan berbagai macam sikap pengalihan lainnya.  Kalaupun memang benar-benar ingin bertanya karena tidak paham, kita lebih memilih untuk diam dan bungkam karena tidak ingin dianggap bodoh. Selalu saja ada pikiran bahwa “Ah, ini pasti pertanyaan bodoh nih, nanti malu ah aku kalau kaya gini aja nggak tahu”.

Sifat dan sikap itu tampaknya sudah mendarah daging di dalam pendidikann kita. Sering kita jumpai, kelas mendadak sepi senyap ketika guru/dosen berkata “Ada pertanyaan?”. Mungkin hanya segelintir orang yang berani untuk bertanya tentang isi pelajaran dalam kaitan untuk menyanggah, berkomentar, atau memang benar-benar tidak begitu mengerti tentang beberapa hal yang baru saja disampaikan.

Padahal, “BERTANYA” itu adalah proses berpikir yang harusnya dilakukan terus menerus. Tiap hari, tiap saat. Lah wong hidup itu harus berubah dan berkembang setiap harinya to? Dan kita tahu bahwa perubahan itu bisa terjadi kalau kita mau mempertanyakan apa yang sudah dipelajari atau dialami hari ini untuk kemudian diperbaiki atau ditambahi di keesokan harinya.

Saya cukup beruntung karena dulu di SMA masuk ke lingkungan sekolah dimana kritis itu tidak dilarang. Bahkan kita dituntut untuk selalu berpikir kritis, mempertanyakan tentang segala hal, soal pelajaran, keseharian di sekolah, kehidupan sosial, agama/religiusitas, dan soal-soal kemanusiaan. Di sanalah kita diajari untuk selalu bertanya terhadap segala hal. Salah satu konsep yang masih menempel jelas di kepala saya adalah konsep yang diberikan oleh guru sejarah, namanya pak Samino. Pada waktu pelajaran sejarah, beliau selalu memulai pelajaran dengan menuliskan “Why? Why? Why” di depan kelas. Beliau secara langsung merangsang cara pikir anak didiknya untuk kembali mempertanyakan fakta-fakta yang ada. Beliau selalu berkata bahwa selalu ada “why” dalam “why”. Hahaha.

Cara pikir ini berlanjut pada saat kuliah, dimana kita biasanya terlibat dalam suatu diskusi kelompok. Di pertemuan pertama, kita akan menghadapi skenario tertentu dan dituntut untuk bertanya tentang hal-hal yang bisa dieksplorasi dari cerita tersebut. Kondisi ini merangsang pola pikir kita untuk terus  menjelajah ketidaktahuan kita. Kalau semakin banyak bertanya, maka akan semakin sering “ngulik” dan semakin semakin sering “ngulik”, maka pertanyaan yang muncul akan semakin banyak dan malah tidak ada habisnya. Kalau kata salah satu profesor saya pas koas, yang namanya mahasiswa itu harus skeptis!

Kejadian kecil ini menampar saya untuk bisa kembali menumbuh rasa penasaran terhadap segala sesuatu di dunia ini. Ada banyak hal yang saya tidak tahu, ada banyak hal yang terus menerus berubah dan harus dipelajari bila tidak ingin ketinggalan informasi. Saya diingatkan untuk selalu mau “bermain-main dengan rasa keingintahuan” yang akan membawa pada hal-hal yang luar biasa di depan sana.  Sama seperti apa yang Einstein pernah katakan bahwa “Play is a highest form of research”.

Maka dari itu, setiap mengakhiri hari, sempatkan untuk bertanya:

“Sudah belajar apa hari ini?”

 

^^Y

Menghargai Orang di Belakang Layar

PORMAS 2016 baru saja berakhir, tapi ada banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari pelaksanaan perhelatan olahraga terbesar di bumi Kansai ini. Pelajaran yang didapatkan dari pengamatan-pengamatan sederhana tentang peran orang-orang yang jauh dari sorotan orang banyak, orang-orang yang bersedia melakukan pekerjaan yang tampaknya sepele dan remeh temeh padahal sebetulnya tetap punya arti yang tidak kalah penting demi kelancaran acara.

Pemikiran ini dimulai dari salah satu obrolan yang terlontar di grup line Osaka-Nara. Saat itu, salah satu sesepuh, Pak Ibnu, berkata bahwa beliau bangga berpartisipasi dalam pormas kali ini, walaupun “hanya” menjadi seksi konsumsi (beliau bertugas untuk mengambil makan siang dari restoran menuju ke venue). Lalu ditanggapi oleh teman-teman yang lain bahwa pekerjaan itu bukan “HANYA”, tapi adalah salah satu tugas yang sangat penting karena bayangkan saja kalau nggak ada beliau, sudah pasti panitia dan peserta akan kelaparan sepanjang acara. Tugas yang sering dianggap sepele dalam suatu penyelenggaraan acara karena tidak ada keren-kerennya juga kan? Cuman ngurusi makanan peserta dan panitia.

Situasi kedua muncul pada saat sore hari menjelang berakhirnya acara, saya yang waktu itu baru saja menyelesaikan pertandingan di lapangan luar, sedang menuju ke dalam untuk siap-siap bertanding basket. Pada waktu di pintu masuk, saya melihat mas Samsul Maarif yang kebagian tugas untuk mengurusi per-SAMPAH-an selama pormas sedang memilah sampah ke dalam dua kantong plastik besar, SENDIRIAN. Benar-benar sendirian dan tidak ada orang lain yang berinisiatif membantu. Saya juga enggak. Alasannya ya gara-gara mau siap-siap basket. Lalu saat saya menulis ini, saya jadi sadar dan sekaligus menyesal, kenapa nggak membantu dulu mas Samsul untuk memilah sampah. Toh, alasan siap-siap basket itu adalah alasan yang cukup bodoh untuk mengesampingkan tindakan membantu orang lain. Mungkin cuma butuh waktu kurang dari 10 menit untuk berhenti sebentar, menghampiri dan membantu apa yang bisa dibantu, lalu segera menuju ke dalam.

Satu lagi kejadian yang saya amati adalah salah satu sesepuh juga di Osaka-Nara, namanya mas Anto. Saya belum pernah mengenal beliau secara personal. Tapi di acara kemarin, beliau rela menunggu sampai acara berakhir, lalu berinisiatif untuk membersihkan dan mengepel lapangan. Sebuah tindakan yang mungkin bukan merupakan tugas pokok beliau, tapi beliau mau melakukan tugas tersebut, tanpa harus disuruh dan tanpa harus mengharapkan ucapan terima kasih.

Mungkin ada banyak hal-hal kecil yang terjadi selama penyelenggaraan acara. Ada Gagus yang berinisiatif untuk mengumpulkan kantong sampah di seluruh arena pertandingan, ada ball girls di tenis lapangan yang rela berpanas-panas di jemur di luar seharian, ada Brandon dan Ricksen yang bertugas membelikan minuman untuk para atlet PPI ON yang bertanding dan hal-hal lain yang kalau diamati secara lebih detail akan memberikan kita pelajaran-pelajaran yang akan menempel di memori dan perasaan kita seumur hidup.

Saya pikir, kadang-kadang saya dan kita merasa melebih-lebihkan hal-hal yang tidak penting sehingga rela mengesampingkan tindakan yang lebih substantif. Sering kita merasa ingin menjadi orang yang selalu berada dalam sorotan kamera, yang mendapat puja-puji sana sini atas keberhasilan yang diraih, tapi perasaan atau (kadang ambisi) itu malah menjauhkan kita dari sikap-sikap inisiatif yang sebetulnya dibutuhkan dalam konteks meringankan beban orang lain dan kelancaran acara secara keseluruhan.

Kadang kalau di dalam suatu acara, kita menjadi lebih sering untuk merebut posisi seksi acara dibandingkan merelakan diri untuk jadi seksi konsumsi atau seksi lain yang kurang prestisius. Padahal, semua bidang punya tugas yang sama pentingnya, menurut saya, di dunia ini tidak ada yang lebih penting dibandingkan yang lain. Semua bekerja dan bertindak sesuai dengan porsinya masing-masing. Tidak ada pekerjaan yang lebih rendah dibandingkan dengan yang lain, asal itu dilakukan dengan sepenuh hati dan bermanfaat untuk kehidupan.

Acara ini telah meninggalkan makna yang lebih dari cukup untuk menyembuhkan kekecewaan saya karena gagal mengulang juara umum pormas kali ini. Hahaha.

Otsukare untuk semuanya! Jossss…

Menikah = ultimate goal?

Nah, saya akan melanjutkan hasil obrolan pada saat nongkrong-nongkrong lucu tapi ngabisin duit kemarin minggu.

Obrolan pun berlanjut soal bagaimana menghadapi tekanan sosial untuk segera menikah. Apalagi untuk mereka yang sudah di usia matang sekitar akhir 20-an atau awal 30-an. Pertanyaan yang sering membuat frustasi, putus asa, mimpi buruk, runtuhnya rasa percaya diri, dan hal-hal tidak mengenakkan lainnya. Tipikal masyarakat Indonesia yang “terlalu peduli” dengan urusan orang lain, terkadang membuat kaum wanita di usia tersebut berada di bibir jurang penghakiman yang teramat kejam. Macam-macam slogan dan sebutan sudah mengintai tiap-tiap hari yang mereka lalui. Cap jelek ketika tidak menikah menjadi harga mati yang harus disematkan bagi mereka yang memilih untuk berjalan di jalur lain.

Budaya yang sungguh menyebalkan.

Mereka menganggap bahwa pernikahan adalah sebuah tujuan mutlak yang harus dicapai. Seseorang tidak akan dianggap “sempurna” bila tidak menikah. Pun bila sudah menikah, masyarakat masih bertanya dengan “kapan punya anak?” lalu “kapan punya anak lagi?” Ra uwis-uwis. Tipikal masyarakat selo yang ngggggg kayak nggak punya kerjaan lain selain ngurusin urusan orang lain. (Hush…hush..udah marah-marahnya).

Kembali ke topik utama, jadi pertanyaan mendasarnya adalah:

                   Perlukah seseorang menikah?

“Bisa perlu bisa tidak”, jawab saya. Bagi saya pribadi, menikah itu hanya salah satu SARANA untuk menuju TUJUAN. Ibarat mau ke Jakarta, ya saya bebas saja memilih untuk mau naik bis, kereta, pesawat, ataupun jalan kaki sekalipun. Tentu dengan konsekuensinya sendiri-sendiri. Yang sebenarnya perlu dipikirkan adalah TUJUAN apa yang mau dicapai dalam hidup. Apakah dengan menikah kita bisa lebih yakin untuk menggapai apa yang selalu diperjuangkan dalam hidup? Kalau jawabannya iya, ya silakan menikah. Tetapi kalau tidak, berarti rencana tersebut harus dipikirkan ulang.

Bagaimana menentukan TUJUAN dalam hidup? Dulu saya pernah diajari oleh guru SMA saya ketika pelajaran Bimbingan Konseling, bahwa salah satu cara untuk menemukan tujuan hidup adalah dengan membayangkan ketika kita dimakamkan. Dalam pemakaman, akan ada banyak orang yang berdoa dan mengenang apa yang telah kita lakukan selama hidup. Nah, bayangkan saja, kita mau orang-orang yang datang melayat itu mengenang kita sebagai siapa, sebagai apa, sebagai sosok yang bagaimana. Itulah salah satu cara yang menurut saya cukup gampang untuk dilakukan. Nah, apakah dengan menikah, kita bisa lebih dekat untuk menjadi sosok yang diingat-ingat orang ketika meninggal? Sebuah pertanyaan besar yang harus dijawab terlebih dahulu.

Selain itu, saya setuju dengan salah seorang wanita, bernama Mbak Raras (http://feranisaprawitararas.blogspot.jp/), yang juga ikut ubyang ubyung di sore itu. Dia berkata bahwa menikah itu haruslah memberikan NILAI TAMBAH pada kehidupan seseorang. Kalaupun tidak bertambah, paling enggak, tidak mengalami penurunan. Saya sependapat dengan dia, bahwa menikah itu berarti bersama-sama untuk saling mengembangkan cita-cita masing-masing, tentu dengan gaya dan kompromi yang disepakati. Maka dari itu, sangat penting untuk mencari pasangan dengan nilai-nilai yang kurang lebih sama. Tidak terlalu njomplang. Akan sangat susah kalau kita menikah dengan orang yang tidak punya visi dan nilai dasar yang sama. Maka dari itu, pemahaman karakter pasangan menjadi hal yang sangat penting dalam proses perkenalan dan proses ini tidak bisa berhasil dengan instan.

Akan menjadi mimpi buruk bila kita memaksakan diri menikah karena tuntutan umur Tapi ternyata, semua cita-cita dan idealisme yang kita punya, tidak bisa diakomodasi oleh pasangan kita.Ternyata, pasangan kita pikiran cupet, nggak terbuka, suka memaksakan kehendak, tidak pernah mau memahami keinginan dan perasaan kita. Ha kalau gitu caranya, terus apa esensinya menikah? Cuman gara-gara tuntutan masyarakat atau saudara yang sudah ribat-ribut tanpa henti, terus kita menikah dengan orang yang tidak memberikan hal-hal positif dalam kehidupan kita. Lah, emangnya mereka mau tau kalau kita ternyata menderita dalam pernikahan, kalau kita dikekang terus menerus oleh pasangan kita dan tidak berkembang sebagai manusia, atau kalau kita stres berkepanjangan gara-gara perlakuan pasangan yang tidak mengenakkan? Enggak juga to? Semua akan ditanggung oleh diri kita sendiri. Mereka mah cuman sering bisa cuman komentar doang.

Kesimpulannya, menikah itu perlu nggak?

Menikahlah bila memang perlu, kalau nggak perlu ya nggak usah. Masih banyak hal-hal baik di luar sana yang bisa kita lakukan untuk sesama dibandingkan cuman menye-menye menghabiskan waktu memikirkan kenapa kok tidak kunjung menemukan jodoh yang tepat.

*Bahaha….^^Y

Menikah = travelling?

Kemarin sore, saya habis mendapatkan pengalaman yang cukup menarik dari nongkrong-nongkrong lucu bersama tiga orang wanita yang luar biasa. Mereka adalah wanita-wanita yang pintar, mandiri, tegas, berpendidikan, dan “galak”, hahaha. Topik obrolan bisa berganti-ganti, mulai dari topik tentang bobroknya pendidikan karakter di Indonesia, pengalaman-pengalaman mereka tinggal di Jepang, ataupun curhat colongan soal status yang masih single sampai saat ini. Akhirnya, sampailah kita pada topik yang sudah saya duga bakal keluar yaitu soal pernikahan. Waini…gara-gara hanya saya yang sudah menikah (walaupun yo lagek sak tumlik), saya pun ditanyai ini itu perihal memilih pasangan untuk menikah.

Salah seorang dari mereka bertanya tentang bagaimana kita bisa tahu wanita/pria mana yang nantinya bakal jadi pasangan kita. Wah, ini pertanyaan yang sangat sulit karena tiap orang punya personal experience nya sendiri-sendiri. Ada yang sudah tahu kalau dia bakal menikah dengan orang tersebut, hanya dari pandangan pertama. Makjegagig langsung bilang “Wah, kayanya ini jodoh saya nih”. Ada juga yang butuh proses panjang untuk saling mengenal satu sama lain baru yakin bahwa ini adalah wanita/pria yang bakal jadi teman hahahihi dan huhuhuhu sepanjang hayat (seperti saya yang 10 tahun pacaran, misalnya).

Tapi saya berpegang pada satu prinsip, kalau memang mau mengenal sifat asli pasangan kita, maka pergilah TRAVELLING berdua (harus berdua, jangan rame-rame sama temen yang lain) ke sebuah tempat antah berantah. Dari situ, kalian bisa tahu secara pasti apakah pasangan kita itu orang yang manja, sukanya seenaknya sendiri, tidak inisiatif, tidak bisa menentukan sesuatu, pah-poh, plegak-pleguk, njelei, nyebahi, atau malah punya punya sifat yang sebaliknya. Di tempat baru, kita akan menghadapi hal-hal yang tidak mengenakkan dan kadang butuh keputusan taktis yang cepat, tepat, serta solutif. Di situ, sifat asli pasangan kita akan terpampang nyata dan jelas di depan kita. Dari tindakan yang mereka lakukan, kita bakal bisa menilai, bagaimana mereka akan bereaksi terhadap permasalahan-permasalahan yang akan muncul dalam pernikahan. Saya sih yakin kalau nikah itu nggak akan selamanya haha-hihi, banyak fase-fase depresif yang bakal dilalui. Dan bakal sangat merepotkan kalau ternyata pasangan kita tidak bisa menjadi partner yang melengkapi kekurangan kita.

Kayaknya banyak juga yang langsung putus begitu pulang dari travelling, tetapi tidak sedikit juga yang hubungannya terselamatkan gara-gara bepergian bersama. Kita tidak akan pernah bisa tahu secara mendalam pasangan kita kalau yang dilakukan cuma nonton film di bioskop, nongkrong di kafe, cium-ciuman di mobil, jalan-jalan di mal atau aktivitas-aktivitas semacamnya. Aktivitas-aktivitas itu tidak membuat kita fokus pada pasangan kita. Ya, nggak mungkinlah kita bisa saling mengenal kalau kita sibuk nonton film atau sibuk megang hape pas lagi nongkrong di cafe. Imposibru banget. Kecuali kalau di saat nongkrong, kita bisa ngobrol berjam-jam tanpa putus dengan pasangan kita, ngobrolin tentang segala hal tanpa merasa perlu untuk fokus pada hal lain (seperti ngecek sosmed). Tapi itupun, saya kira belum cukup untuk bisa mengorek hal terdalam yang ada di diri pasangan kita.

Kita harus ditempatkan dalam suatu situasi yang tidak nyaman. Situasi yang tidak familiar dengan kita. Situasi dimana kita tidak pernah punya pengalaman sebelumnya untuk mengatasi. Dan disitulah, segala yang ada di diri kita akan terpoyeksi dengan sangat jelas, baik itu sifat yang baik ataupun yang buruk.

Tepatlah apa yang dikatakan oleh Mark Twain “I have found out that there ain’t no surer way to find out whether you like people or hate them than to travel with them.”

 Maka dari itu, jangan pernah menikah sebelum kalian travelling bersama. Huosh.

*masih akan ada topik selanjutnya…ngiknguk…