#41 Cebok

Sebenarnya tulisan ini sangat tidak pas untuk dibaca pada malam minggu. Di saat orang sedang memadu kasih, lalu terserang rasa bosan, scrolling facebook dan membaca tulisan ini. Atau mereka yg sedang jenuh dng basa basi pada makan malam keluarga, mencari angin segar di fb lalu mendarat tulisan ini. Sangat tidak elok. Lagipula tdk berfaedah. Tapi, demi sebuah pemahaman atas tindakan paling fundamental yg dilakukan manusia tentang asas-asas hakiki dalam metode per-cebok-an. Saya akan tetap merilisnya. Selamat menikmati.

Jadi, tadi pagi, kami pergi ke kolam renang. Indoor. Nggak kuat kalau outdoor karena hawa yg sudah mulai dingin. Pulang-pulang terus meriang kan nggak lucu banget. Karena sudah lama nggak berenang, saya pun dng semangat sumpah pemuda berusaha memanfaatkan waktu yg dipunya. Maklum, udah bayar lumayan cuma buat renang 2 jam tentu jangan sampai rugi. Total, mngkin hampir 45 menit berenang serius. Lumayan.

Sepulang dari kolam renang, kami nongkrong minta makan di rumah teman. Dlm obrolan makan siang, tiba-tiba si Surya bertanya:

“Eh, kalau di Jepang, ada orang yg pipis di kolam renang nggak ya?”

“Ya mungkin ada lah, tp plng enggak rasionya lbh kecil dibanding kolam renang di Indonesia”, kataku.

“Iya juga. Eh, tapi kan org Jepang kalau habis boker nggak pernah cebok pake air. Mereka cuma pake tissue. Kan ya lebih njijiki to mesti kolam renangnya. Ono bekas bekas cepirit gitu masuk kolam renang. Hiiii..”, imbuhnya.

“JIGUR! Iya juga yaaaa. Setaaannn. Padahal aku renang lama bgt di bagian simbah-simbah. Mesti kan ada jasad-jasad renik yang nempel di badan dan keminum. Wah, telo kaspo juga! Mandi tujuh kembang ki harusan,” sahutku.

Dalam diskusi lanjutan, kami pun bertanya, gimana sejarahnya orang bisa sepakat untuk memakai tissue atau air untuk cebok. Manakah yg merupakan budaya original dari cebok? Kenapa orang yg biasa cebok pakai air nggak mau cebok pakai tisu? Dan juga sebaliknya. Sungguh pertanyaan kritis yg sangat cultural-based bukan?

Karena tdk mendapatkan jawaban yg memuaskan. Maka saya pun riset kecil-kecilan ttg pertanyaan ini. Beruntung skl menemukan jawaban panjang lebar di kolom quora.com.

Sejarah Percebokan Dunia

Tissue toilet pertama kali diciptakan pada abad ke 6 di China. Dulu, hanya pihak kerajaan yg punya fasilitas ini, sedangkan rakyat jelata ya ngising di sungai.

Waktu masa Romawi, mereka memakai ‘gompf stick’ – busa yg diletakkan di ujung tongkat. Tongkat itu akan dipakai bergantian oleh mereka yg memakai toilet. Sedangkan orang Yunani Kuno, katanya memakai BATU utk cebok (modyar ra kuwi tilis e getihen terus).

Ada bermacam bahan yg dipakai utk cebok, orang Hawai pakai sabut kelapa, org Eskimo pakai salju, bahkan ada yg pakai bonggol jagung. Gokils!

Yg paling epik adalah dari Inggris. Dulu bangsawan Inggris memakai kertas dari buku-buku nggak bermutu atau koran. Sebuah pemikiran yg menginspirasi saya utk melakukan hal yang sama ketika tjd kelangkaan air di kereta Ekonomi Jakarta Jogja. Jadi waktu itu, di tengah situasi genting di menahan gempuran sensasi boker yang sudah mengeluarkan tetesan keringat dingin yang makin lama semakin deras. Juga mempertimbangkan, daripada nahan boker terus malah jebol di tengah jalan. Maka saya memutuskan untuk memakai kertas HVS utk cebok. Lumayan sih, waktu itu habis kertas HVS 10 lembar sebagai penuntas hasrat. Wadidaw!

Nah, ternyata yg scr tradisional memakai air utk cebok adalah dari Timur Tengah. Sebuah kebiasaan yg jg masih dilakukan oleh masyarat Asia Selatan dan Asia Tenggara. Bahkan, ada tulisan Hindu kuno yg ditulis sekitar 1500BC-500AD yg memuat ritual tentang percebokan ini. Gile. Sedangkan, negara-negara seperti Amerika, Jepang, Eropa, dan Afrika tetap memilih memakai tissue paper untuk cebok.

Tentu banyak pro kontra mana yg lebih sehat dan praktis, memakai air atau memakai tisu. Ada alasan iklim, suhu atau ketersediaan air yg bisa jadi latar belakang memilih media cebok.

Menurut saya pribadi, cebok dng air tentu lebih nikmat karena kondisi tilis- nya bakal lebih bersih. Selain itu, memakai air juga meminimalkan friksi antara tisu dan tilis, yg mana sering menimbulkan perasaan perih yg cukup menganggu. Lagipula, kayanya kalau pakai tisu di CD suka masih ada bekas bekasnya gitu lho. Kan njijiki.

Tapi, memakai air tentu tdk disarankan di daerah dataran tinggi atau bersalju dng kondisi air yg super dingin. Kaya pas waktu cebok di Dieng, wah tilis serasa beku. Gebyar gebyur nggak kerasa. Wong mati rasa. Edan tenan.

Sedangkan memakai tisu tentu akan lebih praktis bila sdng bepergian ke alam terbuka, misalnya pas naik gunung. Airnya mending dipakai buat minum drpd buat cebok. Biar nggak perih, tentu tisu basah sangat amat disarankan sbg penutup prosesi cebok.

Sungguh sebuah kondisi yg sangat pelik dan bisa menyebabkan gegar budaya yg lumayan parah sih. Bahkan, saya pernah dapat cerita dari seorang teman yang ketahuan oleh teman Jepangnya bahwa dia cebok pakai tangan dan air. Raut muka dan stigma jijik langsung disematkan di teman saya itu. Bahkan, mungkin mereka nggak akan pernah mau salaman sama si teman saya ini. Karena menganggap bahwa tangan si teman saya penuh dng bakteri. Ya keleusss..situ nggak pernah yg namanya sabun opo yo. Ndeso.

Lain lagi dng cerita si Surya ttg teman Jepangnya. Jadi, si org Jpg ini exchange ke Thailand. Nah, disana kan nggak ada tisu sehingga si org ini harus bawa tisu sendiri. Nah, ditanyalah sama si Surya, “Lah, di sana kan ada bak mandi yg isinya air to, kenapa nggak pakai itu aja?” Lalu dia pun menjawab dng polosnya, “Wah aku bingung gimana makenya, masak harus manjat-manjat bak mandi buat cebok sih?” Owalaaahhhh leee..ora ngerti ono teknologi mutakhir bernama ciduk po? Ndeso tenan.

Jadi mana yg lebih mending? Ya, menurut ane sih sesuai dng budaya yg dianut aja. Kalau sedari kecil udah nyaman cebok pakai air ya dipertahankan, begitu juga sebaliknya.

Saya selalu ingat kata-kata ibu bahwa kalau jadi orang ya harus gampang beradaptasi sama sesuatu yang baru.

Jadi ya paling baik adalah menganut prinsip “Seburuk-buruknya media cebok, paling buruk adalah mereka yang nggak cebok.”

Sekian. Berfaedah kan?

Sumber:

https://www.quora.com/Why-do-we-use-toilet-paper-instead-of-water-showers-especially-in-the-West

Advertisements

#40 Asah Otak-Watak

Image result for critical thinking

Pada waktu liburan kemarin, saya sengaja janjian dengan mantan wali kelas saya di De Britto, namanya Pak Joyo. Sudah hampir 10 tahun tidak bertemu, hanya cukup sering bertegur sapa melalui pesan singkat. Dalam obrolan yang berlangsung lama tersebut (hampir 5 jam lebih) dan diakhiri dengan makan babi di terminal Condongcatur, beliau banyak berbicara tentang apa yang sedang dilakukan akhir-akhir ini. Saat itu, beliau sedang fokus menyiapkan diri untuk melakukan presentasi di ajang Guru Berprestasi Tingkat Nasional. Sebuah ajang dimana guru-guru seantero Indonesia dikumpulkan lalu diminta untuk mempresentasikan Best “Practice” yang mereka kembangkan dan lakukan di sekolah.

Nah, Pak Joyo ini mengembangkan (saya agak lupa judulnya), tapi intinya adalah Pemahaman Berbasis Proyek untuk Mata Pelajaran Statistika. Mata pelajaran statistika yang kebanyakan hanya berupa rumus-rumus belaka, diubah sedemikian rupa sehingga bisa mempunya efek kebermanfaatan yang lebih besar. Beliau mendorong anak didiknya untuk mendesain penelitian kecil-kecilan yang nantinya akan dipresentasikan kepada pihak-pihak terkait. Murid-murid akan dibimbing secara intensif mulai dari pemilihan topik, merumuskan masalah, membikin kerangka berpikir, menyusun hipotesis, landasan teori, mengumpulkan data, analisis, pembahasan dan sampai menuju kesimpulan. Terakhir, bila topik-topik itu dirasa menawarkan solusi langsung terhadap permasalahan yang diangkat, maka kelompok siswa tersebut akan memaparkan hasil penelitiannya di depan pemangku kebijakan.

Ada banyak topik yang diangkat. Salah satu yang beliau ceritakan adalah tentang kepemilikan SIM C di antara siswa De Britto. Siswa tersebut mempertanyakan berapa banyak murid-murid di De Britto yang mempunyai SIM C. Saya lupa tentang hasilnya, tapi ada cukup banyak yang tidak punya SIM C. Temuan itu pun dianalisis lebih lanjut dengan pertanyaan tentang jarak rumah ke sekolah, kemungkinan menggunakan transportasi umum, waktu tempuh, dll. Setelah tau seluk beluk masalahnya, mereka pun mengeluarkan rekomendasi pada sekolah untuk membuat SIM C secara masal karena menurut UU, dari segi umur sudah mencukupi untuk mendapatkan SIM C.

Saya pun bertanya apakah ada outcome secara non-akademik dari kegiatan ini. Beliau pun secara lugas menjawab bahwa ada banyak hal positif yang bisa diambil dari kegiatan ini. Siswa-siswa akan mempunyai pemikiran yang lebih terstruktur dan sistematis dalam melihat sebuah persoalan. Karakter anak-anak muda yang cenderung reaktif dalam menyikapi masalah, tampaknya bisa cukup diredam dengan kegiatan ini. Sikap-sikap reaktif sedikit berkurang dan mereka jadi lebih sabar dalam melihat suatu fenomena. Tidak grusa-grusu dalam menanggapi. Ya, karena mereka dipaparkan dengan cara-cara berpikir yang baik, yang berbasis bukti dan fakta. Bukan bergerak berdasarkan asumsi atau perasaan belaka, yang tidak kadang malah menjerumuskan atau malah memperkeruh suasana.

Selain itu, mereka juga belajar untuk menerima dan membuka diri terhadap sudut pandang lain melalui presentasi yang dilakukan di depan otoritas terkait. Bila menyoal lingkungan sekolah, maka mereka bisa mendapatkan sudut pandang dari kepala sekolah dan jajarannya. Ini menjadi penting untuk mendidik karakter siswa agar nggak nggugu karepe dan cenderung memaksakan kehendak opini atau pemikirannya kepada orang lain.

Diskusi dan dialog menjadi penutup dari cara berpikir ilmiah yang diajarkan di sekolah ini. Maka, mungkin siswa-siswanya juga nggak tumbuh dalam budaya baperan. Segala hal yang berlawanan dengan pemikirannya tidak dianggap ofensif dan menyinggung perasaan. Rileks aja gitu dalam menanggapi perbedaan opini. Pada point tertentu, mereka akan bisa santai dengan term “Sepakat untuk Tidak Sepakat”.  Perasaan dan pemahaman ini menjadi penting untuk benar-benar jadi manusia yang bebas dan merdeka. Nggak melulu harus terpengaruh dengan apa yang orang lain katakan atau lakukan pada kita.

Dulu, pas masih SMA, cara berpikir ini juga dikenalkan melalui pembuatan karya ilmiah (pas kelas 2 SMA). Kami punya waktu sekitar satu tahun untuk bisa menyelesaikan karya ilmiah ini. Topiknya bisa bermacam-macam tergantung minat dan ketertarikan dalam mata pelajaran tertentu. Bila gagal untuk menyelesaikan dalam batas waktu yang ditentukan, maka kami akan dikarantina di kelas tertentu dan kehilangan hak untuk mengikuti pelajaran atau ulangan harian. Bisa dibayangkan ancaman tidak naik kelas yang muncul karena karantina ini. Tidak ada belas kasihan yang diberikan pada kami. Kalau semisal terpaksa nggak naik kelas, ya berarti itu konsekuensi dari gagal menunaikan kewajiban. Risiko ditanggung sendiri.

Memang, proses diskusi dari hasil penelitian sederhana kami hanya dilakukan dengan guru pembimbing. Tapi, cara ini cukup ampuh untuk bisa menanamkan proses berpikir ilmiah sejak dini. Diskusi dan dialog secara masal dilakukan pada masa-masa pemilu presidium (OSIS) atau masa setelah ujian semester. Biasanya, setelah ujian semester, ada kegiatan yang dinamakan Forum Olah Pikir. Di forum ini, tiap perwakilan kelas akan diminta untuk membaca buku dan mempresentasikan isi dari buku tersebut ke depan seluruh siswa sekolah. Di akhir presentasi, akan ada waktu bertanya dari siswa.

Proses-proses seperti ini, bisa dibilang termasuk keren buat melatih daya kritis semenjak muda. Ya walaupun pada akhirnya di dunia nyata, semakin kritis seseorang maka (biasanya) dia akan semakin terasing dari peradaban umat manusia sekitarnya. Tapi, paling enggak, pernah ada suatu masa, kita pernah jadi manusia yang bisa mikir lah ya. ^^

#39 Tanya Jawab pas Misa

Minggu lalu, pas pulang ke Jogja, saya pergi menemani bapak dan ibu ke gereja. Sebenarnya niatnya nggak ke gereja sih, tapi gara-gara ditanyain dan disuruh ke gereja ya akhirnya berangkat ke gereja. Nggak ada yang terlalu istimewa karena posisi parkirnya ya masih di situ-situ, ngambil tempat duduknya juga masih di tempat yang sama, pokoknya agak nggak bersemangat karena ngantuk. 

Nah, karena saya jarang ndengerin khotbah, kemarin itu saya coba untuk mendengarkan khotbah. Eh kebetulan, khotbahnya membingungkan. Agak kontradiksi antara satu penjelasan yang satu dengan yang lainnya. Yo sekarang juga udah lupa sih isi khotbahnya apa.

Tapi gara-gara kejadian itu, terus jadi kepikiran. Ini kenapa kalau khotbah di gereja katholik nggak pernah ada sesi tanya jawab ya? Misalnya jatahnya khotbah 20 menit, terus ada waktu 5 menit untuk sesi pertanyaan dari umat. Yang kaya gini kan malah bisa langsung membantu si umat untuk mengatasi rasa penasarannya. Sekaligus, kalau jawabannya dirasa memuaskan, malah bisa semakin menambah rasa keimanan pada Yesus juga to? Atau bisa juga sebaliknya ding, kalau jawabannya nggak memuaskan ya berarti umat itu akan semakin skeptis terhadap apa yang dia percayai selama ini. 

Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang menyangkut kehidupan keseharian bisa jadi membutuhkan jawaban yang lugas dan tepat sasaran. Spektrum pertanyaan bisa bermula dari semacam, kenapa kok saya sudah rajin ke gereja tapi hidupnya apes terus sampai yang agak pilosopis semacam, kenapa kok banyak orang yang rajin ke gereja tapi kerjaannya korupsi. Yang gini-gini kan membutuhkan jawaban yang mudah dipahami dari si pastor-nya. 

Seharusnya gereja Katholik ki menyediakan ruang dialog semacam ini di perayaan ekaristi-nya. Ya kan nggak semua umat Katholik ki pinter-pinter dan bisa memahami Alkitab ataupun punya kemampuan untuk mengimplementasikan ayat-ayat yang ada di sana dalam hidup sehari-hari secara otomatis, sepulang dia menghadiri perayaan ekaristi. Ya, nek umat e kaya saya yang susah paham terhadap hal-hal kaya gini, apa ya nggak makin ndlosor le dadi wong Katholik?

Kalau tak pikir-pikir, ada tantangan besar yang membuat umat Katholik mau dengan sukarela datang ke gereja. Mungkin kalau ditanya, kenapa tiap minggu harus datang ke gereja, rentang jawabannya bisa mulai dari “udah kebiasaan, takut kualat” sampai alasan-alasan yang sangat substansial. Itu baru pertanyaan yang gampang. Kalau ditanya lebih lanjut, kenapa kok milih jadi orang Katholik, mungkin rentang jawabannya bisa lebih luas lagi. Ada yang menjawab karena pilihan orangtua, tertarik dengan ajarannya, bahkan saya percaya bakal ada yang njawab karena Yesus tu kaya rockstar, rambut e gondrong. Yo mesti ya ada yang kaya gitu. 

Lha yang kaya-kaya gini kan menarik untuk diangkat ke dalam perayaan Ekaristi. Saya tu menganggap kalau memberi khotbah tu kaya ngasih kuliah je. Materi pelajarannya tentu akan lebih masuk ke pikiran kalau ada proses diskusi di sana. Kalau nggak ada proses berpikir kritis yang menimbulkan pertanyaan, ya bisa berarti umatnya udah ngerti semua penjelasan si romo-nya atau malah sebodo amat soal si romonya mau ngomong apa. Yang penting si umat itu udah menjalankan kewajibannya untuk pergi ke gereja. 

Saya kadang sedih, mosok yo aku dadi umat Katholik mung ngene-ngene wae sih. Stagnan nggak ada kemajuannya sama sekali. Kalau di twitter ada akun @NUgarislucu yang isinya twit-twit lucu tentang ajaran Gus Dur, saya tu berharap ada akun @Katholikgarisngguyu, kan asik gitu lho. 

#38 Detasemen Anti-Teror Pelajaran Fisika

Image result for physics is fun

Kebetulan saya di sini bertetangga dengan dosen Fisika dari salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Gara-gara beberapa hari lagi dia bakal balik ke Indonesia, kami pun ngobrol tentang apa yang mau dia lakukan sepulang dari Jepang.  Ternyata, dia punya visi yang keren tentang bagaimana seharusnya orang belajar Fisika dan efek yang bisa ditimbulkan ketika banyak orang mulai memahami/menerapkan Fisika dan atau Matematika untuk kehidupannya sehari-hari.

Ketika mendengar kata Fisika pertama kali, jelas yang ada di benak orang-orang adalah monster yang amat susah untuk ditaklukkan. Itu adalah citra yang dipahami oleh masyarakat umum Indonesia (dan mungkin di negara lain juga). Saya masih ingat pas SMA kelas 2 hampir nggak naik kelas gara-gara nggak bisa sama sekali ngerjain soal-soal Fisika waktu ujian semester. Udah pasrah gara-gara cuma bisa nulis “diketahui” di lembar soal essay. Cuma dikasih upah nilai 5 dari total 32. Hahaha. Edan. Kondisi yang sama berulang waktu mau Ujian Akhir Sekolah di kelas 3. Saking depresinya nggak paham-paham tentang Fisika, malam sebelum ujian, saya dan temen-temen sudah memasrahkan nasib dan kumpul-kumpul bertajuk “belajar bareng” itu hanya diakhiri dengan menyalakan lilin dan berdoa bersama. Saking sudah terlalu putus asa.

Mendengar pengalaman itu, dia pun berkata, “Kamu tau nggak kenapa banyak orang yang benci banget sama Fisika. Ya, itu gara-gara guru-guru Fisika di sekolah nggak bisa memberikan penjelasan dan pemahaman yang baik tentang Fisika. Kebanyakan dari mereka hanya berfokus pada hapalan rumus-rumus tanpa pernah menanamkan konsep cara berpikir tentang Fisika itu sendiri. Ditambah lagi, kalau udah kelas 3, mereka bakal masuk ke bimbingan belajar terus disana bakal dicekoki dengan rumus-rumus cepat. Semakin jauhlah mereka dari pemahaman yang komprehensif tentang bagaimana menghadapi Fisika.”

“Padahal, kalau mau diajarin dengan cara yang benar. Fisika itu sebenarnya sangat menyenangkan dan applicable dalam kehidupan sehari-hari lho. Saya nyoba ngebandingin teman-teman yang paham Fisika dan nggak paham Fisika. Saya ngeliat kalau mereka yang paham Fisika lebih punya daya analisis yang tajam dibanding mereka yang nggak paham. Kalau nggak paham Fisika, biasanya lebih lambat untuk menganalisis sesuatu dan jatuhnya sering ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Selain, kalau kita paham Fisika, cara pikir kita akan logis, terstruktur dan sistematis juga. Memang nggak bisa digeneralisir sih, tapi paling enggak, bisa sampai tahap kaya gitu lho, Fisika mempengaruhi cara pikir seseorang.”  

“Makanya, gara-gara hal-hal itulah terus saya mikir bahwa harus ada seseorang yang mampu mematahkan mitos tentang Fisika yang horor. Kalau nggak ada yang mau turun tangan memperbaiki kondisinya ya akan susah bagi Indonesia untuk bisa bersaing dalam hal teknologi dan sains.” imbuhnya.

“Kalau udah ngeliat kaya gitu, berarti apa yang bakal dilakuin sepulang ke Indonesia?” tanyaku.  

 “Rencananya sih, sepulang dari sini, saya mau bikin semacam les-lesan gratis untuk pelajar-pelajar yang berminat untuk belajar Fisika. Saya sih pingin mengenalkan bahwa Fisika itu juga bisa jadi cabang ilmu yang layak untuk dicintai dan dipelajari. Awalnya sih targetnya nggak muluk-muluk, mungkin bisa dimulai dengan jumlah murid yang sedikit. Tapi nanti kalau semisal rencana ini bisa berjalan dengan lancar dan peserta semakin banyak, toh ane punya sumber daya mahasiswa Fisika yang bisa dimintain tolong untuk ngajar adik-adiknya yang masih SMA atau SMP. Kan lumayan bagi mereka, dengan ngajar, ilmu yang didapat di kuliah juga bisa berguna untuk orang lain, sekaligus memberikan pemahaman yang lebih untuk si mahasiswa itu sendiri. Mengajar orang lain adalah cara paling baik untuk memahami sebuah topik tertentu. “ begitu katanya.

“Wedan..hebat banget tuh kayanya, kalau semisal ente bisa membuat murid-murid di kotamu jadi jatuh cinta sama Fisika. Bisa jadi berita nasional tuh…hahaha…” kataku.

“Ya, itu mah keinginan jangka panjangnya sih. Sebenarnya motivasinya sih sederhana banget. Saya itu berasal dari keluarga yang biasa-biasa aja. Dulu, saya sama sekali nggak bisa ikut bimbingan belajar waktu mau ujian nasional, gara-gara nggak punya uang. Akhirnya ya udah, buku-buku temen-temen yang belajar di bimbel, saya fotokopi aja semua, terus belajar dari situ. Eh, kok ya dapet rejeki masuk ke jurusan Fisika terus sekarang bisa jadi dosen.

Saya sih cuma ngerasa kalau pendidikan tu sekarang mahal banget. Kondisi inilah yang membuat gap-nya semakin besar. Kalau mereka-mereka yang kaya mah enak karena punya uang buat masuk ke sekolah yang bagus, dapet guru-guru terbaik ditambah fasilitas yang mumpuni. Lah, anak-anak yang nggak punya uang terus gimana nasibnya? Ya, nggak bisa bersaing dengan mereka-mereka yang punya sumber daya lebih lah. Walaupun, nggak selamanya uang itu jadi faktor penentu. Tapi, menurut pengalamanku, lumayan berpengaruhlah terhadap akses terhadap pendidikan.” kata dia panjang lebar.

“Saya sih cuma kepingin ngeliat orang lain juga pinter gitu lho Pink. Ada kesenangan tersendiri yang nggak bisa diukur dengan uang kalau bisa ngajarin anak yang dulu nggak bisa itung-itungan, terus malah bisa masuk ke SMA favorit. Kepuasannya nggak terbayangkanlah. Lagian, di Pembukaan UUD 1945 juga ada kata-kata “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” kan, ya inilah wujud konkrit yang mau saya lakukan. Saya itu udah dapet kesempatan untuk bisa sekolah sampai S3 plus udah dapat rejeki jadi abdi negara, tapi masak nggak ada timbal balik yang tak berikan ke society sih. Kalau mau peka, ya masih banyak banget yang membutuhkan bantuan untuk mengakses pendidikan-pendidikan dasar. Masak ya cuma mau hidup sampai umur 80 tahun kaya orang-orang kebanyakan tanpa ninggalin apapun ke sesama sih. Males juga kalau kaya gitu. Padahal, mendidik orang lain adalah kewajiban dari mereka-mereka yang terdidik. Nggak malah, kepinterannya cuma buat dirinya sendiri. Yah..gitu lah, saya tu sadar kalau mau ngejar Nobel kaya Einsten ya nggak bakal mungkin kayanya. Atau kalau mau jadi milyuner kaya Bill Gates juga nggak bakal kesampaean. Jadi ya..gini-gini ajalah, nggak usah yang muluk-muluk…hehe…semoga aja bisa dieksekusi…” pungkas dia.

Tiba-tiba terdengar suara dari dalem, “Pak’e, udah jam setengah 2 pagi lho…”

 “Waduhhhh…besok harus masukkkkk…bubar-bubar…”

  

 

#37 Kerennya Lagu-lagu Ghibli

GhibliAkhir-akhir saya baru seneng ndengerin konser untuk memperingati 25 tahun berdirinya Studio Ghibli. Konser yang melibatkan banyak sekali musikus dan juga choir, baik anak maupun dewasa, ini sih udah dilangsungkan tahun 2010 di Nippon Budokan (bukan Budokai ya..kalau itu mah tempat martial arts di Dragon Ball, haha). Film pertama Ghibli adalah Castle in the Sky yang dikeluarkan tahun 1986, film kedua yang muncul adalah Grave of Fireflies tahun 1988 dan diikuti oleh Tonari no Totoro (My Neighbor Totoro) pada tahun yang sama. Salah satu mastermind dari scoring film-film Ghibli adalah Joe Hisaishi. Orang ini mungkin “Hans Zimmer”-nya Jepang kalau bisa saya bilang. Seorang komposer yang mampu membuat pendengarnya merasakan tiap-tiap nada yang dihasilkan dan membawa imajinasi mereka entah melanglang buana kemana. Dia membuat komposisi ost Ghibli sejak pertama kali berdiri, walaupun ada kontribusi dari komposer lainnya juga. Kalau kita ngedengerin konser ini pakai earphone atau headset, suasana magisnya kerasa banget. Kadang-kadang kita bisa senyum-senyum sendiri saking senengnya ataupun malah terharu gara-gara notasinya yang sendu. 

Saking terkenalnya, mungkin hampir semua anak-anak Jepang tumbuh dengan soundtrack dari film-film ini deh. Terbukti, kemarin pas si Otong berenang, pelatih renangnya selalu menyanyikan salah satu OST dari Tonari no Tottoro yaitu Arukou. Saya terus mikir, gila lho, ini film udah berumur 29 tahun semenjak dirilis pertama kali (bahkan lebih tua dari saya sebulan) dan masih juga jadi lagu favorit yang selalu diajarkan ke anak-anak di sini. Saya membayangkan bahwa mungkin di keluarga Jepang, mereka selalu rutin memainkan lagu-lagu dengan komposisi ciamik ini. Serasa mengenalkan musik klasik ala Mozart atau Bethoven tapi dengan kemasan yang mudah dipahami oleh anak-anak.   Sebenarnya nggak cuma lagu anak-anak dari studio Ghibli aja yang terkenal. Lagu-lagu dari Anpanman atau lagu anime lain juga nggak kalah bagus sih dan rutin dinyanyikan oleh anak-anak.

Di Indonesia, saya masih ingat dan hapal lagu-lagu yang sering dinyanyikan oleh para penyanyi cilik jaman dulu seperti Joshua, Tasya, Geovanni, Trio Kwek-kwek dan sederet penyanyi lainnya. Nggak bakal lupa kayanya sampai saya mati mah. Saya mikir, berarti influence lagu anak tuh sebenarnya besar banget dalam perkembangan bocah-bocah itu nanti ya. Lagu-lagu itu akan secara bawah sadar mengendap dalam memori-memori mereka. Sungguh sangat menyenangkan bila anak-anak bisa tumbuh dengan mendengarkan komposisi lagu-lagu yang indah, grande, dan lirik-lirik sederhana yang bisa mereka cerna sendiri dalam bahasa Indonesia. Betapa kita bisa dengan sangat mudah menanamkan hal-hal yang baik sedari kecil lewat lagu-lagu tersebut.

Agak khawatir juga sekarang ini karena nggak ada stock lagu-lagu anak asli Indonesia yang baru, kebanyakan adalah lagu-lagu lama yang dirilis oleh begawan-begawan lagu anak semacam Pak Kasur, Ibu Kasur, Pak AT Mahmud atau Papa T.Bob. Setau dan seinget saya, lagu anak-anak yang terakhir kali dirilis adalah “Jangan Takut Akan Gelap” yang dinyanyikan Sheila on 7 dan Tasya. Itupun sudah berumur 10 tahun yang lalu. Kayanya praktis nggak ada lagu-lagu anak setelah era itu deh atau saya aja yang kudet. Padahal, kalau mau dibikin industri, pasar lagu anak-anak pasti akan besar banget peminatnya, mengingat nggak ada pelaku yang mau berkiprah di kancah ini.

Medianya sebenarnya nggak usah melulu lewat tv nasional. Cukup upload video di youtube juga kayanya sekarang banyak yang nonton. Yang penting adalah ada pencipta lagunya dan ada yang mau nyanyiin. Lumayan lho, anaknya bisa jadi artis terkenal kalau emang punya suara dan lagunya juga bagus. Bisa jadi legenda kaya Sherina atau Joshua pula, kalau semisal banyak yang ndengerin. Kurang keren apalagi coba. Plus menyebarkan inspirasi kebaikan buat semua orang. Nah lho, kan pahalanya bisa berlebih-lebih to kalau kaya gitu urusannya.

Hah, tapi kayanya susah sih buat mengharapkan adanya lagu-lagu anak sekeren jaman dulu gitu. Sekarang mah yang penting anaknya dicecoki sama ortunya lagu-lagu dewasa. Lah ya gimana lagi, kalau ortunya nggak mampu mengakses internet yang layak dan nggak bisa nonton Youtube, ya konsumsi hiburan satu-satunya kan cuma dari tv. Sedangkan, lagu anak-anak di tv udah jarang lagi yang nongol secara rutin. Dulu masih ada Ci Luk Ba atau Tralala Trililili. Tapi, sekarang kan punah sama sekali, entah nggak tau dimana.

Jadi ya jangan heran sampai pada saatnya nanti, kalau bocah-bocah udah gedhe, yang diingat sebagai lagu kenangan dan jadi soundtrack masa kecilnya mereka adalah lagu Sambalado-nya Ayu Ting Ting. Wadaw.

Konser 25 Tahun Studio Ghibli.

 

Lagu Paporit, Ashitaka and san.

 

Wawancara Adriano Qalbi dan Joshua tentang artis-artis cilik.

#36 Buang Sampah (Tidak) pada Tempatnya

Beberapa waktu yang lalu ada kejadian yang cukup menyebalkan. Jadi ceritanya, salah seorang tetangga sudah menyelesaikan studinya dan akan pulang ke negaranya yang merupakan salah satu dari negara Dunia Ketiga (tp bukan Indonesia sih). Layaknya seseorang yang sudah mau pulang, maka dia pun membuang barang-barang yang sudah tidak dipakai seperti peralatan dapur, kasur, rice cooker, dan berbagai macam barang lainnya.

Nah, masalahnya, entah motivasi apa yang mendasari, mungkin karena banyak urusan atau ribet-ribet yang lainnya. Dia membuang semua barang (gelas, panci, wajan, rice cooker, kasur, dan berbagai macam barang lainnya) ke dalam plastik yang didesain untuk sampah burnable. Yang mana ini adalah kesalahan yang sangat fatal. Ya tentu saja, karena cara membuang sampahnya nggak bener, sama petugas sampahnya juga nggak diangkut. Cuma dibiarkan saja teronggok di sana dan kena hujan. Akhirnya, pemilik kontrakan yang super baik hati lah yang mengelompokkan sampah tersebut. Heran banget, kayanya ya udah sekolah jauh-jauh, tapi kok ya masalah beginian aja nggak bisa dilakukan dengan benar lho.  

Padahal di kota ini, ada peraturan tertulis tentang kapan, barang apa, dan bagaimana  cara membuang barang. Misalnya, sampah rumah tangga yang bisa dibakar (burnable) seperti bungkus makanan, kertas, popok bayi, dan sebagainya harus dimasukkan ke dalam plastik bertuliskan burnable (beli atau bisa dikasih sama pemerintah kota) yang bakal diambil seminggu dua kali. Sedangkan, sampah unburnable semisal panci, gelas, wajan, harus dimasukkan ke dalam plastik  bertuliskan unburnable yang bisa dibeli di supermarket atau toko obat, harganya sih 770 yen untuk plastik 30 liter (5 buah). Untuk barang-barang lainnya, seperti botol plastik PET, harus dicopot tutup dan plastik merknya baru bisa dibuang sendiri, juga untuk botol-botol kaca bekas minuman beralkohol dan kaleng minuman juga harus dipisahkan dan dikumpulkan tersendiri.

Buang sampah di negara ini adalah urusan yang lumayan susah. Di tempat umum, bahkan di tempat-tempat yang ramai sekalipun, sangat jarang dijumpai tempat sampah. Malah kita bakal lebih gampang menemukan vending machine dibandingkan menemukan tempat sampah. Alhasil, sampah yang dihasilkan di jalan ya harus dibawa pulang. Nggak cuman sampah yang dihasilkan manusia, pemilik anjing atau kucing juga nggak bisa membiarkan anjing mereka eek atau pipis sembarangan. Bila peliharaan mereka buang hajat di taman, mereka bakal mengambil eek tsb lalu dimasukkan ke plastik atau mengguyur pipis dengan air yang mereka bawa sendiri dari rumah. Makanya, anak-anak di sini juga nggak masalah main-main pasir di taman. Soalnya, tamannya bebas dari eek anjing atau kucing. Jadinya, nggak rentan untuk menyebarkan penyakit. Hebat juga sih kalau yang udah sampai tahap ini mah.

Mungkin kebiasaan buang sampah belum menjadi hal yang dipahami oleh masyarakat negara dunia ketiga kali ya. Padahal, urusan buang sampah di negara-negara tersebut, termasuk juga di Indonesia, bisa jadi lebih simple dibandingkan dengan di negara-negara maju. Hal ini karena pemerintah nggak mewajibkan untuk memilah-milah sampah. Jadi ya, asal sampahnya masuk ke tong sampah aja udah cukup. Nggak buang sampah di sungai, selokan, atau di sembarang tempat dianggap sudah lumayan membantu pengelolaan sampah. Lah, se-simple itu aja, kayanya banyak juga yang nggak bisa menerapkannya kok. Apalagi harus pakai acara milah-milah sampah dan dibuang sesuai harinya. Bikin hidup tambah ribet aja, mbok yang gampang-gampang aja to, begitu mungkin yang ada di pikiran.

Saya jadi ingat salah satu video yang menginterview orang asli Jepang, si eyang ini berkata, salah satu yang dia nggak suka dari orang asing adalah gara-gara mereka nggak bisa buang sampah secara benar. Kata beliau, banyak dari mereka yang sering salah mengklasifikasikan jenis sampah dan bagaimana cara membuangnya.

Nah, bisa dilihat, bahwa masalah buang sampah ini adalah salah satu hal yang seharusnya dipahami dengan baik oleh orang-orang yang mau tinggal di sini. Ternyata, bagi beberapa orang, hal-hal kaya gini cukup sensitif. Apalagi kita biasanya bertetangga langsung dengan orang-orang Jepang. Mesti akan ada sentimen negatif bila kita tertangkap mata nggak bisa buang sampah dengan benar. Jangan sampai mereka yang sudah secara baik menerima kita sebagai orang asing yang tinggal di negara mereka. Malah jadi punya image yang buruk gara-gara masalah-masalah kaya gini. Apa ya nggak malu po kalau negara kita dicap sebagai negara yang primitif gara-gara sering buang sampah sembarangan. Hhhhhhhhhhhhhhhhh.

Untuk info lengkap tentang persampahan di kota Minoo bisa dilihat di tautan berikut:

https://www.city.minoh.lg.jp/jinken/kokusai/guidebook/garbage.html

#35 Cara Naik Bis dng “Gratis” di Jepang

Beberapa waktu lalu, kami pergi ke Umeda. Karena waktu udah larut malam, maka kami pun memutuskan untuk naik bis menuju ke rumah. Di dalam bis, saya pun bilang ke Nesya “Eh, aku nggak punya uang kecil sama sekali lho di dompet, kamu punya nggak?” Dia pun membalas, “Coba deh cari di dompetku, kayanya masih ada…” Akhirnya, saya pun ngubek-ubek dompetnya dia, ternyata dia sama sekali nggak punya uang kecil. Cuma ada selembar 10.000 Yen yang tersisa. Saya pun ingat kalau semua uang kecil sudah dihabiskan untuk membeli tiket kereta.

Waduh, gimana ya? Padahal halte tujuan sudah tinggal sebentar lagi. Dalam kebingungan, saya pun berusaha untuk menukarkan uang pada penumpang lain, tapi usaha itu nggak membuahkan hasil. Mereka malah menyarankan untuk bilang aja ke pak sopirnya kalau nggak punya uang kecil. “Lah, gimana sih, kok malah harus bilang ke sopirnya, aneh banget”, kataku dalam hati. Akhirnya, karena sudah sampai di halte tujuan. Saya pun terpaksa harus bilang ke sopirnya kalau saya Cuma punya uang 10.000 Yen.

Saya awalnya mengira kalau dia pasti bawa beberapa uang kecil yang bisa dipakai buat menukar. Biasanya di Indonesia juga gitu kan? Kalau uangnya gedhe banget ya pasti si pak sopirnya pasti menyiapkan kembalian buat penumpang. Tapi, saya sadar bahwa di sini, semua pembayaran dilakukan lewat mesin. Kita bayar pakai uang pas dan biasanya receh karena Cuma berkisar 220-400 yen tergantung jarak. Kalau semisal kita nggak punya receh pun, kita harus masukin uang maksimal 1000 yen ke mesin di samping sopir dan mereka akan memecah uang tersebut dalam beberapa nominal yang lebih.

Nah, tapi kondisi ini adalah kejadian pertama kali yang kami alami. Nggak pernah ada pengalaman sebelumnya. Akhirnya, setelah saya bilang ke pak sopirnya, dia pun dengan entengnya bilang, “Ya udah nggak papa, besok lagi kalau naik bis, kamu bayar buat dua kali ya…” Gile. Saya pun melongo keheranan gara-gara ucapan si bapak sopir itu.

Spontan saya bilang sama Nesya, “Wah..ini kalau nggak punya duit, bisa dipakai buat naik bis gratis nih ya berarti. Bisa disebarkan ilmunya ke semua orang nih, hahaha.” Dia pun menjawab, “Iya juga ya..aku juga heran kok dia bisa percaya-percaya aja sama penumpang yang nggak dia kenal, orang asing pula..kayanya aku sangsi kalau ucapan kaya gitu bisa dengan mudah diucapkan sama sopir-sopir di Indonesia…Yang ada malah dimarah-marahin gara-gara nggak nyiapin duit kecil…”

Kami pun turun dari bis dan mulai jalan menuju rumah. Saya yang masih larut dalam kegembiraan karena mendapatkan tips untuk naik bis gratis pun mikir. Lalu, saya bilang ke Nesya, “Eh, kayanya ada yang salah deh sama ucapanku tadi.” “Kenapa emang?,” balasnya. “Ya menurutku agak aneh aja pemikiran yang kaya tadi. Soalnya ya masak kita mau menukarkan integritas kita hanya demi duit 220 yen sih? Padahal si Pak Sopirnya udah berbaik hati memberikan kepercayaan penuh terhadap kejujuran kita. Masak yang kaya gitu mau dengan gampang dikhianati sih? Lagian, selalu ada balasan untuk setiap perbuatan jelek kan? Ya bisa aja kita nggak bayar 220 yen sekarang, tapi mungkin di lain waktu kita harus membayar kecurangan itu dengan uang yang jauh lebih besar. Nggak mau lho aku kalau harus kaya gitu.”

“Iya juga sih Pink, kenapa ya mereka kok bisa terbangun budaya kaya gitu ya? Heran banget lho aku.”

“Ho..nggak tau ya kenapa. Tapi (mungkin) kultur itu akan sulit berlaku sih kalo di Indonesia. Ya aku nggak bilang kalau semua orang nggak jujur sih, tapi kayanya kita tu seneng kalau bisa ngakalin sesuatu gitu. Iya nggak sih? Hahaha..” kataku.

“Emang bener sih, ga tau, mungkin ada hubungannya sama banyak orang yang masih merasa “tidak sejahtera” kali yak, jadi urusan-urusan value penting kaya gini jadi nggak tersadari sebagai sesuatu yang harusnya tiap orang hidupi sih. Kalau di sini kan masyarakatnya relatif udah sejahtera, at least kebutuhan pokoknya terpenuhi. Kalau mereka bisa makan, minum, dan punya rumah yang layak, ya nilai-nilai kaya gini gampang aja diterapkan dalam kehidupan mereka.”

Ane pun menimpali, “Ah masak gitu sih? Ya mungkin itu bisa menjelaskan sebagian. Tapi, sudut pandang makmur dulu sebelum beradab itu bakal langsung patah kalau kamu liat banyak banget pejabat yang jadi maling lho. Seenak-enaknya aja nyuri duit dalam jumlah banyak. Emang mereka nggak makmur po? Emang mereka nggak bisa makan po? Nggak cukup minum? Nggak tinggal di rumah mewah dengan segala fasilitas yang nggak pernah bisa kita bayangin? Mereka dalam kondisi lebih dari makmur. Tapi dengan hidup yang kaya gitu aja mereka masih serakah untuk nguasain dan ngemalingin duit yang seharusnya bukan jadi haknya.”

“Ya aku nggak ngerti faktor apa yang lebih rentan bagi seseorang untuk mengkhianati integritasnya, apakah kondisi pra-sejahtera atau orang serakah yang pingin lebih kaya. Tapi analoginya mungkin gini, semisal kamu kerja di perusahaan tertentu,  terus kamu disuruh berbuat curang sama bosmu. Malsuin laporan keuangan, cotohnnya. Kalau kamu nggak ngelakuin, kamu bisa terancam dipecat. Sedangkan, masih ada 2 anak dan 1 istri yang harus kamu kasih makan. Kalau dipecat terus nasib mereka gimana dong? Kalau nggak bisa makan gimana? Siapa yang harus menanggung semua biaya hidupnya mereka. Kalau udah dihadapkan dalam situasi kaya gitu, apalagi kita nggak punya safety net yang cukup memadai. Aku kok mikir bahwa orang bakal rela-rela aja ngelakuin kecurangan-kecurangan semacam itu ya?”

“Hmmmm….bisa jadi sih. Tapi, kamu sadar nggak, efek destruksi yang dihasilkan dari pejabat-pejabat yang jadi maling itu sangat jauh lebih besar dibandingkan kecurangan-kecurangan kecil yang mungkin dilakukan oleh orang dalam contohmu tadi. Jadi, ya walaupun dua-duanya punya porsi kesalahan karena berbuat tidak jujur. Kamu mungkin masih lebih “dimaafkan” kalau kamu melakukan sesuatu itu demi kelangsungan hidup anak istrimu, dibandingkan dengan ketidakjujuran yang berakhir pada kesenangan dan kebanggaan diri sendiri atau demi kelanggengan jabatan. Ya mungkin gitu…ah susah ah…males mikirnya…” imbuhku.

“Eh tapi ngomong-ngomong soal anak. Hagia mana ya? Bukannya tadi sama kamu, Pink?”

“Lho…tadi bukannya kamu yang ndorong strollernya? Jangan-jangan ketinggalan di halte?”

“Wooooooo……………@#$$%$#@#$$#$%.”